Wong Kar-wai: Maestro ‘Hollywood di Timur’


In The Mood for Love

Hak atas foto
2000 USA Films/ Online USA/Getty Images

Image caption

In The Mood for Love (2000) dianggap sebagai karya terbaik sutradara Wong Kar-wai.

Sutradara Hong Kong Wong Kar-wai membuat tiga film dalam daftar 100 film asing terbaik di poll BBC Culture. Gayanya yang unik dan temanya yang universal membuatnya unggul dari rekannya sesama sutradara.

Sinema Hong Kong, yang pernah disebut ‘Hollywood di Timur’, sudah berusia seabad lebih dan punya beberapa sutradara hebat. Tapi hanya ada satu nama yang masuk ke daftar polling 100 film berbahasa asing terbaik di BBC Culture: Wong Kar-wai.

Tiga film Wong masuk dalam daftar ini: Happy Together (1997) di nomor 71, Chungking Express (1994) di nomor 56 dan In the Mood for Love (2000) di nomor sembilan, (film ini juga masuk di peringkat dua pada polling 100 Film Terbaik Abad 21 pada polling BBC Culture 2016 lalu).

Para kritikus, 209 orang dari 43 negara, merasa bahwa meski ada tradisi panjang sinema Hong Kong, namun Wong adalah salah satu, jika bukan satu-satunya, sutradara Hong Kong yang sukses membangun kumpulan karya sinematik yang menembus batasan budaya dan bahasa.

  • Daftar 100 film berbahasa asing terbaik
  • 100 film komedi terbaik sepanjang masa

Hong Kong menjadi karakter sentral dalam beberapa film Wong, namun apa yang membedakannya dari rekan-rekannya adalah karena dia melihat kota itu dengan sudut pandang orang luar. Dalam wawancaranya dengan Laurent Tirad di Moviemakers’ Master Class: Private Lessons from the World’s Foremost Directors (2002), Wong tidak menyebut dirinya seorang sutradara, tapi “seorang penonton yang berdiri di belakang kamera”.

Tak seperti sutradara lain yang menenggelamkan diri di dalam Hong Kong, seperti Johnnie To dan Stephen Chow, jarak yang muncul dalam film-film Wong memungkinkannya untuk menghasilkan dunia sinematik yang memikat dan misterius.

Wong lahir di Shanghai pada 1958, dia kemudian pindah ke Hong Kong bersama orang tuanya saat masih berusia lima tahun. Karena tak bisa berbicara bahasa Kanton, bahasa setempat di Hong Kong, Wong kecil sulit berkomunikasi, dan tak punya teman. Hal yang sama terjadi pada ibunya, dan film menjadi tempat berlindung bagi si ibu dan anak laki-lakinya.

“Film adalah sesuatu yang bisa dipahami tanpa kata-kata. Ada bahasa universal berdasarkan gambar,” katanya pada Tirard.

Sebagai seseorang yang antusias akan film, Wong mendapati dirinya di waktu dan tempat yang tepat. Gelombang Baru sinema Hong Kong mulai pada 1979. Sutradara muda dengan pengaruh Barat —seperti Ann Hui, Tsui Hark dan Patrick Tam— mulai membuat film-film yang berbeda dari film keluaran studio besar seperti Shaw Brothers dan Golden Harvest. Perjalanan Wong sebagai sutradara film pun mulai di sini.

Setelah lulus dari Hong Kong Polytechnic dengan gelar desain grafis, dia mendaftar di pelatihan penulisan naskah di televisi lokal TVB pada 1981. Setahun kemudian, dia mulai menulis naskah film, termasuk Final Victory (1987) yang disutradarai Patrick Tam; lewat naskah itu, Wong masuk nominasi Hong Kong Film Awards ke tujuh.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Wong pindah ke Hong Kong dari Shanghai bersama orang tuanya saat kecil – film pun menjadi hiburan bagi si ibu dan anak laki-lakinya.

Saat dia keluar dari stasiun TV itu untuk membuat film sendiri di tengah industri film lokal saat itu yang mulai mencapai puncaknya, Wong menggunakan sensibilitas visual yang diperolehnya saat kecil. Dua tahun setelah film John Woo, A Better Tomorrow, yang membuat genre film gangster menjadi populer di box office, Wong membuat film pertamanya, As Tears Go By (1988). Film ini adalah sebuah film gangster yang subtil dan penuh gaya yang mengisahkan dua preman, diperankan oleh Andy Lau dan Jacky Cheung.

As Tears Go By menjadi dasar bagi film-film Wong selanjutnya. Film-film Wong bukan didorong oleh plot, tapi lebih lewat gambar dan perasaan. Dia semakin menegaskan ini lewat karya berikutnya, Days of Being Wild (1990) —yang berlatar Hong Kong yang dibayangkan lagi pada era 1960an.

Film itu dibintangi oleh bintang-bintang terbesar pada masa itu, termasuk Leslie Cheung sebagai seorang playboy dan kekasihnya yang diperankan oleh Maggie Cheung dan Carina Lau.

Kebenaran universal

Hong Kong memproduksi sekitar 200 film setahun pada awal 1990an. Kesuksesan besar industri film memungkinkan Wong melakukan pendekatan yang tak biasa dan tidak komersil pada proses pembuatan filmnya. Days of Being Wild tak sukses di box office tapi penilaian kritik membuat Wong menjadi salah satu figur penting pada masa itu.

Dengan kesuksesan film-film dari dekade terakhir era kolonial, dia mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan pendekatannya yang unik dalam membuat film. Dibantu oleh sinematografer Christopher Doyle dan art director William Chang, Wong mengembangkan bahasa visual dan estetik yang unik.

Dalam film-film Wong, gambar menjadi yang utama; bahkan dialog dan narasi yang terpotong tampak seperti kumpulan momen-momen.

  • Mengapa film Seven Samurai dianggap sebagai film terbaik?
  • Fantastic Beasts 2: The Crimes of Grindelwald, pencapaian atau membuang waktu?

Wong mengatakan pada Tirard bahwa pencarian lokasi dilakukan sebelum menulis naskah, dan dia mengeksplorasi ruang —emosional dan fisik— lewat film-filmnya. Chungking Express menggambarkan petualangan romantis dua polisi Hong Kong yang kesepian di ruang paralel.

Film ini awalnya dianggap sebagai tontonan ringan, tapi film ini melihat tema-tema kompleks seperti identitas dan kecemasan menjelang penyerahan kembali Hong Kong ke Cina. Buenos Aires menjadi panggung asing yang eksotis buat Happy Together, kisah cinta gay yang terperangkap dalam ruang emosi yang sesak setelah putus sambung berulang kali.

Terlepas dari latar pada 1960an, kota modern atau dalam waktu sejarah lampau, film-film Wong punya tema universal. Kita tak perlu tahu banyak soal konteks budaya atau sejarah Hong Kong atau Cina untuk menikmatinya. Ini jelas terasa pada Ashes of Time (1994).

Film yang menjadi favorit para kritikus ini merupakan sebuah produksi yang mahal dan butuh dua tahun sampai selesai. Film ini membalikkan genre wuxia (bela diri) klasik, dan intinya adalah tentang mengingat dan melupakan, sebuah tema yang bisa dipahami banyak orang terlepas dari latar belakang budaya.

Pada pertengahan 90an, Wong telah menjadi salah satu sutradara terbaik di kawasan itu, dan lewat Chungking Express, Wong mendapat penghargaan tertinggi di Hong Kong Film Awards pada 1995. Industri film kota itu masih menguntungkan dan hidup, tapi jelas bahwa Wong menginginkan arena yang lebih besar.

Hak atas foto
Stephane Cardinale – Corbis

Image caption

Wong Kar-wai adalah orang Cina pertama yang meraih penghargaan sutradara terbaik di Festival Film Cannes.

John Woo telah memulai karier Hollywoodnya dengan membuat film-film laga. Wong memenangkan penghargaan Fipresci di Festival Film Internasional Stockholm untuk Chungking Express.

Film itu juga dipuji oleh Quentin Tarantino, yang disebut-sebut ikut turun tangan untuk memastikan film ini didistribusikan di luar negeri. Pengakuan dari panggung internasional bukan hal yang tak mungkin, dan Hollywood bukan satu-satunya jalan.

Happy Together diluncurkan tepat sebelum berakhirnya kekuasaan Inggris atas Hong Kong, dan kota itu pun menjadi pusat perhatian dunia. Film ini kemudian menetapkan status Wong sebagai bintang, dan membuatnya meraih sutradara terbaik di Festival Film Cannes —orang Cina pertama yang mendapat penghargaan itu.

Pada tahun-tahun awal perpindahan kekuasaan itu, Hong Kong tetap sejahtera, seperti tidak ada perubahan yang terjadi di kota kecil itu, dan pada 2000, In The Mood for Love pun dirilis. Film drama romantis yang berlatar Hong Kong pada 1960an itu dianggap sebagai karya terbaik Wong.

  • Mengapa banyak sutradara perempuan ‘dikucilkan’ dari sejarah film?
  • Bohemian Rhapsody: Bagaimana penampilan Rami Malek menyelamatkan film biopik Queen

In The Mood for Love berakhir pada 1966, pada sebuah momen penting yang mengawali Revolusi Budaya di Cina, dan setahun sebelum kerusuhan Hong Kong. Adegan akhir film itu menampilkan karakter yang diperankan oleh Tony Leung Chiu-wai membisikkan rahasianya pada lubang pohon, mengingat tahun-tahun yang hilang.

Momen itu menggambarkan akhir sebuah era dan awal dari masa depan yang belum jelas, sesuatu yang terjadi di film itu, pada karier Wong sebagai sutradara dan pada nasib Hong Kong.

“Dalam waktu 10 tahun, batas antara sutradara Hong Kong dan sutradara Cina akan semakin tipis,” kata Wong pada saya dalam sebuah wawancara di 2006. Dan ramalannya benar. Setelah pengembalian Hong Kong ke Cina, ada perubahan besar pada industri film Hong Kong di tengah pertumbuhan pesat pasar film di Cina daratan, yang seolah menjadi tambang emas bagi para sutradara film.

Hak atas foto
VALERY HACHE/AFP/Getty Images

Image caption

Film berbahasa Inggris pertama Wong Kar-wai, My Blueberry Nights (2007), dibintangi Norah Jones, Jude Law dan Natalie Portman.

Wong sudah lebih dulu dari rekan-rekannya. Beijing Film Studio adalah salah satu perusahaan yang memproduksi Ashes of Time. Kisah romantis futuristik 2046 (2004), sekuel lepas dari In The Mood for Love, melibatkan Shanghai Film Group. Dan di luar Cina daratan, Wong pun berekspansi ke Barat, membuat The Hand sebagai bagian dari antologi Eros pada 2004 bersama Michelangelo Antonioni dan Steven Soderbergh, dan film berbahasa Inggris pertamanya, My Blueberry Nights (2007), dibintangi Norah Jones, Jude Law dan Natalie Portman.

“Anda belajar banyak hal, dan yang penting adalah Anda harus mencari penonton dan bukan berasumsi bahwa penonton itu ada,” kata Wong pada saya.

Dia menemukan penonton lewat The Grandmasters (2013), biopik dari guru Bruce Lee Ip Man yang menjadi alegori bagi dunia seni bela diri Cina. Film yang dibintangi oleh Tony Leung Chiu-wai dan Zhang Ziyi butuh waktu hampir sepuluh tahun sampai selesai dan merupakan filmnya yang paling sukses secara komersil.

Film epik ini tetap setia pada ide awalnya tapi menarik bagi komunitas Cina di seluruh dunia. Beberapa sutradara film Hong Kong dikritik karena dianggap mengencerkan karakter lokal untuk menarik penonton di Cina daratan. Tapi pada akhirnya, Wong adalah salah satu dari sedikit sutradara yang menjadi terkenal tanpa berusaha memikat penonton tertentu.

“Anda tidak hidup untuk orang lain, Anda hidup untuk diri Anda sendiri,” katanya.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Wong Kar-wai: The master of ‘Hollywood East’ di laman BBC Culture



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.