Vlog masak babi kurma: Mencari batas antara lelucon dan penistaan agama


majelis lucu

Hak atas foto
YouTube

Batas mana lelucon itu bisa dikatakan lucu atau malah justru dianggap menghina agama? Pertanyaan inilah yang muncul setelah komika Tretan Muslim dan Coki Pardede meminta maaf atas kegaduhan yang timbul dari video memasak babi pakai kurma yang diunggah di YouTube.

Selain minta maaf, melalui vlog ‘Debat Kusir – Episode Terakhir’ yang diunggah Selasa (30/10) kemarin, di saluran YouTube Majelis Lucu mereka juga menyatakan mundur dalam program komedi tersebut.

Video masak kurma dengan babi sebetulnya tidak ditayangkan dalam saluran YouTube Majelis Lucu, tetapi mereka mengatakan sentimen negatif terhadap mereka berdua berdampak buruk pada saluran komedi itu, serta keluarga dekat.

“Kata-kata makian, cacian, persekusi, menghalalkan darah saya, teman saya, bahkan ancaman pembunuhan terhadap saya, orang terdekat saya,” kata Tretan Muslim dalam penjelasannya.

Namun katanya, “saya yakin itu tidak mencerminkan agama Islam.”

Mereka mengatakan sangat terbuka dengan kritik dan tertarik untuk mempelajari lebih dalam soal agama Islam, namun hingga saat ini mereka tidak mendapat keterangan yang jelas soal bagian mana dari video tersebut yang menista agama.

“Akan selalu abu-abu”

Coki Pardede lantas mengatakan bahwa secara umum, masalah seperti ini kerap terjadi di Indonesia. “Biasanya selalu berakhir dengan minta maaf, tanpa ada kejelasan atau solusi soal atas hal apa yang harusnya diperbaiki dan batas-batas mana yang tidak boleh dilanggar.”

Ini bahaya, menurut mereka, saat ‘orang minta maaf karena takut dan bukan karena paham’.

Kepada BBC News Indonesia, Fico Fachriza, komika yang pernah mengisi konten Majelis Lucu mengatakan batas antara humor dan penghinaan agama akan selalu abu-abu.

Perdebatan ini sudah menjadi bahasan cukup lama, katanya. “Kita lihat ustad bercanda, kalau lagi ceramah. Ini kenapa dia boleh berkata seperti ini? Apakah karena dia tahu ilmunya, apa karena tergantung sosoknya? Karena ustad, mereka tidak akan marah? Trestan dan Coki coba terus dan coba terus garis abu-abu yang coba membatasi,” katanya.

“Setiap kesenian butuh orang seperti mereka,” sambung Fico.

Menurut dia, konten video masak babi pakai kurma tidak mengandung penghinaan. Terlebih, Fico mengatakan ia mengetahui betul bagaimana dua komika itu ditodong lima orang yang memaksa mereka meminta maaf tanpa menjelaskan konten bagian mana yang salah.

Ini bukan pertama kali sebuah vlog memunculkan kontroversi, vlog Sacha Stevenson berjudul ‘Agama Jualan’ tahun 2014 juga pernah menuai kemarahan karena kontennya yang dianggap menghina. Sepekan kemudian dia pun membuat vlog permintaan maaf.

Kepada BBC Indonesia, Sacha mengatakan kini memang sulit membuat lelucon soal apapun, apalagi soal agama.

“Tapi tetapi memungkinkan untuk membuat lelucon itu, misalnya kalau lihat ceramahnya Abdul Somad, dia komedian sebetulnya, dia buat lelucon terus soal agama, semua orang terima dan tertawa. Kalau saya yang melakukan itu sekarang, saya malah dimarahi,” katanya.

Di media sosal, pamitnya Tretan dan Coki dari Majelis Lucu mendapat berbagai respons.

“Jangan tertawa lagi, tertawa sudah dilarang di negeri ini. Tertawa hanya untuk kaum yang sudah memegang tiket surga, Merekalah yang berhak menentukan benar salah seseorang, menutup jalan rezeki dan bahkan menghalalkan darah orang lain,” kata @Wisnu_prabowo95 di Twitter.

Lainnya mengatakan, “Jujur gua juga orang yang kesinggung dengan konten yang sempat viral kemarin. Tapi dengan adanya klarifikasi dan kebesaran hati dari MLI, gua memberi apresiasi besar untuk keputusan kalian,” kata pengguna YouTube.

Dalam video pamitannya, Coki dan Tretan menekankan konten-konten mereka selama ini justru bertujuan untuk menjaga toleransi.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.