Upaya ruqyah ‘penyembuhan’ LGBT di Padang: ‘Emang ada setan kali ya?’


Anti-LGBT protest

Hak atas foto
Adriana Adinandra/SOPA Images/LightRocket via Gett

Pemerintah Kota Padang, Sumatera Barat, melakukan ruqyah atau penyembuhan terhadap kelompok lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) setelah mendeklarasikan Padang Bersih Maksiat.

Dalam sebulan terakhir sebanyak 18 pasang LGBT diamankan oleh jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Padang, untuk apa yang mereka katakan pendampingan psikologis dan direhabilitasi oleh dinas sosial.

Penangkapan LGBT oleh Satpol PP berdasarkan instruksi Wali Kota Padang guna memberantas perilaku maksiat dan LGBT.

Dari total 18 pasang yang berhasil diamankan dari beberapa lokasi, 10 orang di antaranya perempuan leesbian dan delapan waria.

Rencana ruqyah untuk komunitas LGBT ini mendapat kecaman dari pegiat LGBT Yuli Rustinawati yang juga Ketua LSM yang membela hak-hak kaum LGBT, Arus Pelangi, yang menggagap aksi itu “tidak masuk akal”.

“Di-ruqyah, emang ada setan kali ya? Maksudku, apa (tujuannya)? Masalahnya kemudian pemahaman yang nggak sama soal ini,” ujar Yuli.

Yuli menganggap aksi anti-LGBT yang kian marak akhir-akhir ini seringkali menggunakan sentimen moralitas yang membuat mereka kian tersudut.

“Sentimen menggunakan moralitas itu terjadi dan dampaknya adalah kekerasan yang cukup luar biasa di kawan-kawan LGBT ini. Kemudian Satpol PP ikut-ikut melakukan itu, rujukannya apa? Dan kemudian diruqyah, misalnya,” katanya.

Hak atas foto
Antara foto

Image caption

Wali Kota Padang Mahyeldi pada acara Deklarasi Padang Bersih Maksiat di Padang, Minggu (18/11)

“Koordinasi juga akan kita maksimalkan kemudian penguatan operasi di lapangan, juga peraturan-peraturan yang selama ini ada di kota Padang juga akan kita terapkan,” imbuhnya.

Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah sepakat me-ruqyah LGBT dalam upaya pemerintah kota “memerangi maksiat”, termasuk zina, narkoba dan perilaku yang dianggap menyimpang dari komunitas LGBT.

“Pemerintah kota Padang bersepakat untuk memerangi maksiat di kota Padang dan agenda-agenda yang sudah kita lakukan selama ini akan kita tingkatkan lagi,” ujar Mahyeldi usai deklarasi Padang Bersih Maksiat, Minggu (18/11).

Hak atas foto
JEWEL SAMAD/AFP/Getty Images

Image caption

Sentimen moralitas membuat komunitas LGBT kian tersudut

Praktik ruqyah sering digunakan untuk mengobati penyakit jasmani seperti arthritis dan asma, hingga persoalan seperti kegagalan bisnis, insomnia atau kesurupan.

Semua itu disebabkan karena adanya “gangguan jin” yang dipandang sebagai penyebab terjadinya homoseksualitas.

Adanya gangguan “jin” ini diakui oleh Aris Fathoni yang sudah melakukan praktik ruqyah sejak 2003. Hingga kini pria berusia 42 tahun ini sudah me-ruqyah belasan pria yang mengaku homoseksual.

“Ruqyah itu kan doa. Doa-doa lantunan ayat suci Alquran. Kita bacakan, kita perdengarkan kalau memang yang bersangkutan ini bermasalah. Nah memang beberapa kasus itu memang ada gangguan jinnya yang akhirnya dia berbuat seperti itu,” jelas Aris yang merupakan anggoa Asosiasi Ruqyah Syariah Indonesia ini.

Namun, apakah Aris berhasil ‘mengobati’ mereka yang di-ruqyah?

“Kalau 100%, kita nggak berani mengatakan itu. Tapi teman-teman yang bersinggunggan dengan masalah itu nggak ada gangguannya,” jawabnya.

Diruqyah dan jin keluar dari badan

Lalu bagaimana proses rukyah LGBT ini dilakukan?

Aris menerangkan proses ruqyah dimulai dengan pembacaan doa dan ayat-ayat suci Alquran. Doa-doa, pe-ruqyah juga memberi motivasi dan semangat untuk kesembuhan pasien.

“Terus kalau yang di-ruqyah itu bereaksi, berarti ada kaitannya dengan jin. Reaksinya itu kadang-kadang pusing, kadang-kadang mual dan kadang mungkin berlagak seperti bencong, seperti lelaki tapi gemulai, kemayu lah istilahnya gitu, ” tutur Aris.

Hak atas foto
Getty Images

“Itu beberapa kasus yang kita jumpai seperti itu,” imbuh dia.

Setelah di-ruqyah, kata Aris, “jin keluar dari tubuh pasien”.

“Keluar, berasa. Dia (pasien) merasa keluar. Kalau kita sih nggak merasa, cuma yang bersangkutan yang merasa. Jadi merasa kaya terbebas gitu,” terang Aris.

Hanya saja, karena menurutnya LGBT merupakan “penyakit”, maka harus ada perawatan supaya tak lagi terjangkit “penyakit” yang sama di kemudian hari.

“Penyakit itu kadang-kadang memang harus dia berusaha jadi imun harus menghindari lingkungannya (komunitas LGBT), juga nasehat dari ustadznya diikuti, begitu.”

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Anggapan LGBT sebagai suatu penyakit ini ditampik oleh ahli neuorologi, dr Ryu Hasan.

Anggapan LGBT sebagai suatu penyakit ini ditampik oleh ahli neuorologi, dr Ryu Hasan.

Berdasar ilmu biologi dan neurosains terbaru, jelas Ryu, orientasi seksual tercetak dalam otak tiap individu.

Orientasi seksual merupakan selera seksual dari masing-masing individu.

“Pada dasarnya, manusia itu bisa omniseksual. Jadi ada orang yang jenis kelaminnya laki-laki tapi feminin, tapi orientasi seksualnya heteroseksual, banyak seperti itu. Ada yang laki-laki, macho, tapi orientasinya homoseksual,” jelas Ryu.

“Jadi yang namanya jenis kelamin, orientasi seksual dan gender itu tidak satu paket. Nah kalau kemudian ada klaim kerasukan jin, jin kan nggak ada dalam ilmu kedokteran dan biologi,” imbuhnya.

Di indonesia, Kementerian Kesehatan mengadopsi International Classification of Diseases (ICD) dan The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) standar klasfikasi penyakit mental yang digunakan oleh psikiater di banyak negara, menjadi Pedoman Penggolongan Diagnostik. Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang telah di revisi tiga kali.

Hak atas foto
Getty Images

Lalu, apa pandangan PPDGJ III soal LGBT?

“Di situ disebutkan bahwa jangan menganggap orientasi seksual itu sebagai penyakit. Itu ditegaskan di situ,” ujar Ryu.

Dia pula menegaskan bahwa orientasi seksual bukanlah suatu kelainan dan gangguan. Namun dia tak memungkiri bahwa transgender sering disebut sebagai gangguan seksual.

“Transgender itu orang yang merasa tidak nyaman dengan identitas gendernya. Misalnya dia laki-laki tapi tidak suka dengan laki-lakinya, itu gangguan karena dia merasa tidak nyaman,” ujarnya.

“Jadi LGB tidak bermasalah, itu bukan penyakit. Itu adalah orientasi seksual,” tegasnya.

Pada Juni lalu, Organisasi kesehatan dunia, WHO, mengecualikan transgender dalam klasifikasi penyakit International Classification of Diseases edisi 11 (ICD-11). Transgender tidak lagi dianggap sebagai penyakit mental, namun dipandang sebagai suatu ‘kondisi seksual’.

Penanganan transgender, menurut Ryu adalah dengan terapi yang bertujuan menghilangkan rasa ketidaknyamanan itu melalui konseling.

“Tetap kalau dia merasa tidak nyaman, ya jalan keluarnya adalah trans-seksual, operasi ganti kelamin,” kata Ryu.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.