Suporter tak terkendali, derbi terpanas di Amerika Selatan antara Boca Junior kontra River Plate ditunda


River Plate

Hak atas foto
AFP/JAVIER GONZALEZ TOLEDO

Image caption

Laga River Plate versus Boca Juniors ditunda karena para suporter tak terkendali.

Laga final Copa Libertadores yang mempertemukan dua tim sekota asal Buenos Aires, Argentina, River Plate dan Boca Juniors, Sabtu (24/11), ditunda karena serangan suporter yang tidak terkendali.

Pendukung River Plate melempari bus yang membawa pemain Boca yang hendak memasuki Stadion River Monumental, lokasi final antarklub seantero Amerika Selatan tersebut.

Otoritas setempat memutuskan menunda pertandingan selama 24 jam. Sejumlah kalangan menyebut kondisi itu mencoreng citra persepakbolaan Argentina.

Selain berstatus sebagai laga puncak Copa Libertadores, pertandingan yang dijuluki superclasico itu banyak disorot karena dianggap sebagai derbi terpanas di Amerika Selatan.

Gabriel Batistuta, eks pemain tim nasional Argentina yang pernah membela River dan Boca pada dekade 1980-an dan 1990-an, menilai pembatalan laga itu sebagai sesuatu yang memalukan.

“Satu lagi peluang baik di hadapan masyarakat dunia yang menyaksikan kita hilang. Memalukan dan menyedihkan,” ujar Batistuta dalam akun Twitternya.

Hak atas foto
Jam Media

Image caption

Pemain Boca, Gonzalo Lamardo, terluka di bagian mata karena pecahan kaca bus.

Merujuk beberapa laporan media massa setempat, sejumlah pemain Boca terluka akibat pecahan kaca bus. Mereka juga disebut terdampak gas air mata yang disemprot polisi untuk membubarkan pendukung River.

Pemain Boca yang pernah berlaga di beberapa klub top Eropa, Carlos Tevez, dilaporkan muntah dan pusing akibat gas air mata tersebut.

Sebuah rekaman video memperlihatkan sejumlah pemain Boca lainnya berjalan terhuyung-hutung dan mengalami disorientasi di dalam kamar ganti.

Dua pemain Boca, Pablo Perez dan Gonzalo Lamardo, dilarikan ke rumah sakit. Pecahan kaca dan silet terlihat menancap di kepala mereka.

Hak atas foto
AFP/IVAN PISARENKO

Image caption

Masyarakat di Buenos Aires khawatir keribuan di Stadion River Monumental akan membesar.

Editor BBC Americas, Leonardo Rocha

Kepala Konfederasi Sepakbola Amerika Selatan, Alejandro Dominguez, menyebut perwakilan River dan Boca sepakat menunda pertandingan akibat situasi yang tidak terkendali.

Laga antara dua klub besar Argentina itu merupakan pertandingan yang paling dihindari dalam sejarah sepakbola Amerika Selatan.

Ini adalah pertama kalinya mereka saling berhadapan di final Copa Libertadores, ajang yang setara dengan Liga Champions di Eropa.

Saat ini terlihat nuansa frustrasi dan malu di Buenos Aires. Ada pula kekhawatiran tentang keributan yang semakin membesar di ibukota Argentina itu.

‘Melelahkan, berbahaya, dan bodoh’

Prodiser Radio World Service, Richard Padula, di Stadion River Monumental

Tak ada yang menginginkan dua klub ini bertemu di laga final. Perseteruan mereka terlalu dalam untuk pertandingan sebesar ini.

Tiga jam sebelum kick-off, hampir seluruh kursi stadion telah terisi. Beragam lagu diputar dan dinyanyikan secara sungguh-sungguh.

Namun informasi serangan terhadap bus pemain Boca perlahan diterima para penonton di stadion, begitu pula beragam foto peristiwa itu.

Tidak ada pengumuman dari otoritas pertandingan, hanya ada rumor di media sosial. Kick-off ditunda, tapi penonton diyakinkan laga akan segera dimulai.

Hak atas foto
AFP/IVAN PISARENKO

Image caption

Pendukung River Plate membakar seragam Boca Juniors di luar Stadion River Monumental.

Waktu terus berlalu, tapi awak media tak kunjung mendapatkan data resmi pemain yang akan diturunkan.

Sejumlah peralatan latihan dan bola terlihat disiapkan di lapangan. Tapi para pemain tidak kunjung melakukan pemanasan, apalagi bertanding.

Masyarakat internasional menyenangi sepakbola Argentina. Gairah, semangat, corak, dan karakternya. Sangat mudah memunculkan romantisme pertandingan di negara ini.

Namun sesungguhnya, bagi warga lokal pertandingan seperti ini sangat melelahkan, berbahaya, dan bodoh.

Dan inilah yang kini sedang terjadi.

Sejarah singkat superclasico

Laga antara River Plate dan Boca Juniors kerap dianggap laga derbi yang paling terkenal dalam sejarah sepakbola.

Peserteruan mereka berawal saat dua klub itu didirikan di satu wilayah yang sama, yaitu kawasan La Boca di Buenos Aires, antara tahun 1905 hingga 1923.

Pada 1923, River pindah ke distrik Recoleta. Ketika sepakbola Argentina beralih profesional tahun 1931, River mengucurkan dana besar untuk pengembangan klub.

Sejak saat itu River mendapatkan julukan Los Millonarios.

Hak atas foto
Getty Images/Adrian Farias

Image caption

Boca Juniors bermukim di kawasan kelas pekerja Buenos Aires. Sebaliknya, River Plate kerap disebut klub sepakbola kaya raya.

Anggaran besar yang dikeluarkan River itu memanaskan rivalitas mereka dengan Boca. Saat River hijrah ke kawasan lain, Boca memutuskan tetap bertahan La Boca, kawasan masyarakat kelas pekerja.

Sejak saat itu, 69 trofi Liga Argentina telah diraih dua klub asal Buenos Aires itu: 36 untuk River dan 33 untuk Boca.

Sepanjang 58 tahun penyelenggaraan Copa Libertadores, ini adalah final pertama yang mempertemukan dua klub itu.

Kejadian Sabtu lalu mengulang peristiwa tiga tahun lalu di kandang Boca, La Bombonera. Kala itu, di jeda laga babak 16 besar Copa Libertadores, pendukung Boca menyemprotkan cairan merica ke pemain River.

Akibat peristiwa itu, Boca didiskualifikasi dan River melaju ke laga berikutnya tanpa melanjutkan pertandingan.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.