Seorang anak divonis bebas dan empat dipenjara terkait wafatnya Haringga Sirla, pendukung Persija


persib

Hak atas foto
Julia Alazka

Image caption

NSF divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung.

Tidak terlihat ekspresi gembira dari wajah NSF saat mendengar dirinya divonis bebas oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung dalam perkara penganiayaan pendukung Persija Jakarta, Haringga Sirla, hingga tewas.

Kegembiraan justru diperlihatkan keluarga dan penasehat hukum NSF yang berada di ruang sidang anak. Mereka langsung memeluk remaja 16 tahun yang memakai baju koko putih dan peci hitam itu.

“Karena salah satu unsur dari Pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP juncto Undang-undang Nomor 11 tahun 2012 tidak terpenuhi maka anak NSF harus dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang telah didakwakan penuntut umum,” kata Hakim Suwanto saat membacakan amar putusan di Ruang Sidang Anak Pengadilan Bandung, Selasa (6/11).

“Maka anak NSF harus dibebaskan dari segala dakwaan penuntut umum dan harua dikeluarkan dari tahanan dan harus dipulihkan dalam pengakuan, kedudukan, harkat, dan martabat sebagai warga negara.”

Penasehat hukum NSF, Leksa Dharma, menyambut gembira dan langsung menerima putusan hakim. Ia menilai hakim telah bersikap adil dengan melihat secara cermat fakta yang terjadi di lapangan.

Hak atas foto
Julia Alazka

Image caption

NSF dipeluk oleh penasehat hukum dan keluarga usai mendapat vonis bebas dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung.

“Kami melihat fakta dari video dan tidak ada saksi. Ini adalah suatu hal yang bagus, negara kita negara hukum yang punya keadilan,” katanya usai persidangan, sebagaimana dilaporkan wartawan di Bandung, Julia Alazka.

Di lain pihak, Jaksa Penuntut Umum langsung mengajukan kasasi. Jaksa Agus Nursalam mengatakan pihaknya memiliki keyakinan berdasarkan berkas perkara dan alat bukti lainnya, anak NSF terlibat dalam pengeroyokan.

“Dalam bukti video menit 1:01 anak NSF ada di lokasi. Memang terlihat mundur tapi pada menit 1:11 dia ke depan lagi. Di situ sudah menunjukkan emosinya dan diakui juga oleh NSF, dia ada emosi,” kata Agus.

Empat divonis penjara

Namun, nasib empat anak lainnya tidak seberuntung NSF.

Hakim memutus vonis bersalah terhadap S (17) , AP (15), TD (17), dan AF (15). Mereka terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana yang terdapat dalam Pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP juncto UU Sistem Peradilan Pidana Anak Nomor 11 Tahun 2012.

Hakim memvonis anak S dan AR masing-masing empat tahun penjara, anak TD 3,5 tahun penjara, dan AF tiga tahun penjara. Mereka tetap ditahan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Sukamiskin Bandung.

“Perbuatan meresahkan masyarakat, meninggalkan luka sedih kepada keluarga, dan memperburuk citra persepakbolaan Indonesia,” kata Suwanto saat membacakan hal-hal yang memberatkan.

Penasehat hukum, Dadang Sukmawijaya, menyatakan kecewa dengan vonis tersebut. Menurutnya, majelis hakim dalam menjatuhkan putusan tidak mempertimbangkan Pasal 60 ayat 3 dan 4 Sistem Peradilan Pidana Anak, yang isinya hakim wajib mempertimbangan laporan penelitian kemasyarakatan dari pembimbing kemasyarakatan sebelum menjatuhkan putusan.

“Kalau pasal tersebut tidak dilaksanakan oleh hakim maka putusan tersebut batal demi hukum,” kata Dadang.

Atas dasar itu, Dadang mengatakan, penasehat hukum dan keluarga pelaku akan mengajukan banding.

Hak atas foto
Julia Alazka

Image caption

Lima anak divonis dalam perkara penganiayaan suporter Persija Jakarta, Haringga Sirla, di Ruang Sidang Anak di PN Bandung, Selasa 6 November 2018.

Menyesal

Sementara itu, Ketua Viking Persib Club, Heru Joko, menyayangkan vonis hakim tersebut. Menurutnya, anak-anak itu tidak pernah berencana melakukan pembunuhan sehingga tidak adil bila diberi hukuman seberat itu.

“Mereka kan lagi masa tumbuh, masa berkembang. Karena kecintaannya pada Persib, mereka datang ke stadion. Lebih baik yah tidak perlu terlalu banyak lah hukumannya, mereka masih kecil,” ujar Heru.

“Saya percaya mereka datang ke stadion tidak untuk berbuat, ya itu, pembunuhan itu. Jadi keadilan yang pas aja. Kalau itu saya sedih karena mereka tidak berencana (membunuh).”

Sebelumnya, ST dan DN, pelaku anak dalam perkara yang sama telah divonis masing-masing 3,5 tahun dan tiga tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung, 25 Oktober 2018.

Putusan itu telah inkracht sebab keduanya batal banding. Mereka dipenjara di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Sukamiskin Kota Bandung.

Majelis hakim menyatakan perbuatan mereka telah memenuhi unsur pidana dalam Pasal 170 ayat 2 ke 3 KUHP juncto Undang-undang Sistem Peradilan Pidana Anak.

Saat ditemui, keduanya mengaku menyesal. Meski perbuatan mereka menganiaya Haringga hanya ikut-ikutan karena terpengaruh massa di sekitarnya. ST bahkan tidak mengetahui jika orang yang dipukulnya adalah anggota The Jakmania.

“Karena suasana jadi ikut-ikutan, kebawagitu. (Mukulnya juga) nggak marah. Nggak tahu kalau orang itu The Jak, jadi ikut mukul aja saya mah,” ujar ST yang baru berusia 17 tahun itu.

Begitu pula pengakuan DN. Bocah 16 tahun itu mengaku menganiaya korban lantaran terbawa suasana.

“Saya terbawa suasana, ikut nendang dua kali. Waktu itu ramai banget, ada yang bilang copet, bilang bangsat, ada yang bilang The Jak juga,” kata DN.

Hak atas foto
Risky Andrianto/Antara

Image caption

Suporter Persija Jakarta membentangkan spanduk besar solidaritas belasungkawa atas meninggalnya rekan Haringga Sirila pada laga Liga 1 Persija Jakarta melawan Perseru, di Stadion Patriot Candrabhaga di Bekasi, Jawa Barat, Senin (8/10).

Kritik vonis penjara

Lembaga Advokasi Hak Anak (LAHA) mengkritisi vonis penjara terhadap anak-anak yang berhadapan dengan hukum.

Hukuman penjara akan membuat anak kehilangan beberapa hak dasarnya, misalnya hak untuk bermain, hak mendapatkan kasih sayang orang tua dan bahkan hak untuk mendapatkan pendidikan karena akan dikeluarkan dari sekolahnya.

“Selain itu stigma negatif dari masyrakat sebagai mantan narapidana akan melekat terus di dirinya.

Intinya dalam semua tindakan yang menyangkut anak di manapun itu, khususnya di pengadilan, harus memperhatikan prinsip hak anak yang ada di konvensi hak anak, yaitu kepentingan terbaik untuk anak,” kata Manajer Program LAHA, Ade Mulyadi.

Idealnya, lanjut Ade, hukuman penjara diganti dengan hukuman tindakan yang lebih mendidik dan melindungi hak anak, seperti ikut pelatihan keterampilan di Lembaga Pembinaan Kesejahteraan Sosial (LPKS) milik pemerintah atau bisa juga dititipkan di pesantren.

Dadang, yang juga pengacara ST dan DN, sebetulnya berharap anak-anak pelaku penganiayaan Haringga Sirla bisa diproses melalui pendekatan restorative justice. Namun hal itu terkendala sikap keluarga Haringga yang menginginkan para pelaku diproses hukum.

“Keluarga korban tidak mau memaafkan,” kata Dadang.

Menurut Dadang, seharusnya pemerintah, melalui P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak), turut memulihkan psikologis keluarga korban.

“Sehingga keluarga korban lambat laun menerima keadaan itu sebagai musibah,” ujarnya.

Meski setuju penjara bukan sanksi yang tepat untuk anak, tapi, Pakar Hukum Pidana, Agustinus Pohan berpendapat, sulit menerapkan restorative justice dalam perkara tersebut walaupun melibatkan anak-anak sebagai pelakunya.

Sebabnya, Agustinus menjelaskan, para terdakwa dijerat Pasal 170 ayat 2 ke 3 yang ancaman hukumannya maksimal 12 tahun penjara.

“UU SPPA kita membatasi kemungkinan diversi (dimana pendekatan restorative dapat dimaksimalkan) hanya untuk tindak pidana yang ancamannya tidak lebih dari 7 tahun. Sehingga ketika anak terlibat suatu tindak pidana yang serius, sekalipun perannya mungkin kecil dalam tindak pidana tersebut maka kesempatan untuk diversi menjadi tertutup,” papar Agustinus.

Vonis penjara terhadap enam anak ini merupakan buntut dari pengeroyokan Haringga Sirila (23 tahun), jelang laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) Kota Bandung, Minggu 23 September 2018.

Haringga tewas dikeroyok suporter Persib Bandung saat hendak menyaksikan pertandingan itu.

Haringga datang seorang diri ke Bandung untuk mendukung Persija, meski polisi telah melarang pendukung Persija datang menonton langsung ke stadion.

Haringga merupakan korban tewas ketujuh sejak lima tahun terakhir dalam rivalitas Persib-Persija yang telah berlangsung sejak bertahun-tahun lalu.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.