Reggae, musik ‘kelompok terpinggirkan’ jadi warisan budaya tak benda


Bob Marley pentas langsung di Brighton Leisure Centre, Inggris pada tanggal 1 Juli 1980

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Bob Marley pentas langsung di Brighton Leisure Centre, Inggris pada tanggal 1 Juli 1980

Badan budaya PBB, UNESCO menetapkan reggae, musik yang memberi “kontribusi internasional dalam isu ketidakadilan, kemanusiaan” masuk dalam daftar warisan tak benda.

UNESCO menyatakan musik yang berasal dari Jamaica ini perlu dicantumkan dalam daftar global “warisan budaya tak benda” karena perlu dilindungi dan dipromosikan.

Kontribusi reggae “untuk isu internasional seperti ketidakadilan, perlawanan, cinta, kemanusiaan, menekankan pada elemen dinamis dalam bidang sosial, politik dan spiritual.”

“Ini adalah sebuah musik yang telah menembus semua sudut dunia,” kata UNESCO.

UNESCO menyatakan walaupun “pada mulanya musik reggae adalah suara kelompok terpinggirkan, musik itu sekarang dimainkan dan dirangkul banyak kelompok masyarakat, termasuk berbagai jenis kelamin, kelompok suku dan agama.”

Gaya musik ini tergabung dalam daftar budaya dunia lain seperti keahlian berkuda Spanish Riding School di Wina, ritual mengambil hati unta Mongolia, boneka Ceko dan lebih 300 tradisi lain, mulai dari pembuatan perahu, ziarah sampai ke memasak.

Batik masuk dalam warisan budaya UNESCO pada 2009, sementara Indonesia juga tengah mempertimbangkan mengajukan tempe sebagai warisan budaya.

Jadi inspirasi genre musik lain

Reggae muncul pada akhir tahun 1960-an, dari ska Jamaika dan rocksteady, disamping juga dipengaruhi jazz dan blues Amerika.

Gaya ini segera digemari di Amerika Serikat, selain di Inggris di mana banyak imigran Jamaika pindah setelah Perang Dunia Kedua.

Reggae juga dikaitkan dengan Rastafarianisme, yang mendewakan kaisar Etiopia, Haile Selassie, disamping penggunaan ganja atau marijuana.

Lagu “Do the Reggay” dari tahun 1968 oleh Toots and the Maytals menjadi lagu populer pertama yang menggunakan kata itu. Marley dan kelompoknya the Wailers mengeluarkan lagu hits seperti “No Woman, No Cry” dan “Stir It Up.”

Peter Tosh, anggota inti the Wailers, berkarir solo lewat lagu populer seperti “Legalize It,” sementara Desmond Dekker menjadi terkenal di dunia lewat “Israelites.”

Toots and the Maytals diketahui banyak orang lewat “Pressure Drop” dan Jimmy Cliff menjadi pemusik dunia lewat “The Harder They Come,” yang juga menjadi judul film yang dibintanginya pada tahun 1972.

Suara reggae, dengan bass dan drum yang kental, telah mempengaruhi banyak seniman dan menjadi inspirasi berbagai genre.

Hak atas foto
EPA

Image caption

Penyanyi AS, Lauryn Hill, tampil di Baloise Session, Basel, Swiss pada 05 November 2018.

Reggae juga terbukti berperan penting pada hip-hop: lagu Sister Nancy “Bam Bam” misalnya, yang banyak mempengaruhi bintang seperti Kanye West, Lauryn Hill, Chris Brown dan Jay-Z.

Jamaika mengajukan reggae sebagai warisan tak benda pada sebuah pertemuan badan PBB di Mauritius, di mana 40 usulan lainnya juga dipertimbangkan.

“Reggae sangat mewakili Jamaika,” kata Olivia Grange, menteri kebudayaan negara Karibia tersebut, sebelum dilakukan pemungutan suara.

Reggae bersaing dengan strawcraft Bahama, gulat Korea Selatan, olahraga melempar Irlandia dan pembuatan minyak wangi di kota Grasse, Prancis.

Meskipun hanyalah simbolis, dimasukkannya musik ini pada daftar warisan budaya UNESCO dipandang dapat meningkatkan kedudukan suatu negara dan juga musik atau budayanya.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.