Protes pelecehan seks, staf Google di seluruh dunia lakukan aksi mogok


Selebaran

Hak atas foto
Walkout organisers

Image caption

Selebaran yang ditinggalkan di atas meja para karyawan Google yang turut serta dalam aksi mogok tersebut.

Para staf di kantor Google seluruh dunia melakukan serangkaian aksi mogok sebagai protes terkait perlakuan perusahaan tersebut terhadap kaum perempuan. Aksi protes ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Para karyawan menuntut beberapa perubahan tentang cara perusahaan menangani berbagai tuduhan pelanggaran seksual, termasuk diantaranya seruan untuk mengakhiri penengahan paksa.

Kepala eksekutif Google Sundar Pichai mengatakan kepada stafnya bahwa ia mendukung hak mereka untuk melakukan aksi tersebut.

“Saya memahami begitu banyak kemarahan dan kekecewaan yang Anda rasakan,” sebutnya dalam surat elektronik yang ditujukan pada para karyawan.

“Saya merasakannya juga, dan saya sepenuhnya berkomitmen mengambil langkah menangani masalah yang sudah berlangsung terlalu lama di lingkungan kita dan di Google juga.”

Hak atas foto
Walkout organisers

Image caption

Google Singapura jadi kantor cabang pertama yang melakukan aksi mogok tersebut, yang kemudian diikuti kantor cabang Google lainnya secara serentak pada pukul 11:00 waktu setempat.

Kemarahan di perusahaan itu merebak dalam seminggu terakhir, setelah salah seorang eksekutif menerima uang pesangon senilai US$90 juta atau sekitar Rp1,3 triliun saat ia mengundurkan diri dari perusahaan tersebut.

Meskipun pihak Google menganggap dugaan pelecehan seksual yang diarahkan kepadanya cukup ‘kredibel’, Andy Rubin, yang dikenal sebagai ‘pencipta’ sistem operasi ponsel Android, menyangkal tuduhan tersebut.

Pada hari Selasa (30/10), seorang eksekutif yang bekerja di bagian lab riset dari perusahaan X, juga mengundurkan diri. Richard DeVaul dikatakan melakukan pelecehan terhadap seorang perempuan yang baru-baru ini diwawancarai untuk sebuah jabatan yang nantinya berada di bawah DeVaul.

DeVaul sendiri belum mengomentari hal ini sejak pengunduran dirinya, namun pernah menyebut insiden itu sebagai ‘kekeliruan menilai situasi’.

Pichai mengungkapkan kepada stafnya, setidaknya ada 48 karyawan dipecat dan tidak menerima pesangon karena melakukan pelecehan seksual. Ia mengaku laporan yang dimuat media New York Times ‘sulit dibaca’.

Hak atas foto
Getty Images/Bryan R. Smith

Image caption

Karyawan Google di seluruh dunia melakukan aksi mogok terkait pelecahan seksual terhadap pekerja perempuan di perusahaan teknologi raksasa tersebut.

Selebaran dan tuntutan

Para staf yang ikut serta dalam aksi mogok pada hari Kamis itu meninggalkan selebaran di meja masing-masing yang berbunyi: “Saya tidak berada di meja saya karena saya sedang bersama dengan para Googler dan kontraktor lainnya untuk memprotes pelecehan seksual, perbuatan tidak pantas, ketiadaan transparansi, dan budaya kerja yang pilih-pilih. “

Mereka juga mengeluarkan tuntutan resmi kepada manajemen Google yang berisi:

  1. Mengakhiri forced arbitration dalam berbagai kasus pelecehan dan diskriminasi bagi semua karyawan baik untuk saat ini maupun masa yang akan datang.
  2. Komitmen untuk mengakhiri kesenjangan gaji dan ketidaksetaraan.
  3. Melaporkan tindakan pelecehan seksual secara terbuka di depan umum.
  4. Melaporkan perilaku seksual dengan jelas, seragam dan inklusiv.
  5. Meningkatkan kewenangan pimpinan yang mengepalai bidang keragaman agar bisa menjawab langsung kepada CEO, dan membuat rekomendasi langsung kepada dewan direksi;
  6. Menunjuk salah satu perwakilan karyawan dalam jajaran direksi.

Forced arbitration adalah klausul kontrak umum bagi para pekerja Silicon Valley, menuntut setiap sengketa ditangani secara internal dan bukan melalui metode lain seperti pengadilan.

Klausul forced arbitration ini mendapat kritikan karena digunakan tak hanya untuk melindungi reputasi perusahaan maupun terdakwa, tetapi juga untuk membungkam korban yang tidak dapat mengajukan banding terhadap keputusan atau mengambil tindakan lebih lanjut.

“Para karyawan mengemukakan berbagai gagasan konstruktif tentang bagaimana kami dapat memperbaiki kebijakan serta proses-proses yang akan berjalan selanjutnya,” kata Pichai dalam sebuah pernyataan, Rabu (31/10) malam.

“Kami menerima semua masukan mereka sehingga kami dapat mengubah semua gagasan ini menjadi tindakan.”

Aksi mogok yang terkoordinir seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya di perusahaan yang berbasis di Silicon Valley. Namun ini terjadi karena para karyawan yang semakin bersemangat untuk menuntut.

“Para karyawan perempuan sudah muak, dan saya pikir bukan hanya kaum perempuannya saja,” kata Prof Kellie McElhaney, dari Haas School of Business.

“Banyak juga para ‘manbassadors‘ (kaum pria yang menentang diskriminasi gender) di luar sana yang sama-sama muak dan menggunakan posisi kekuasaan dan suara mereka, yang dapat merugikan Google,” tambah McElhaney.

Hak atas foto
Getty Images/Bryan R. Smith

Image caption

Tidak hanya pekerja perempuan, aksi mogok serentak ini juga dilakukan karyawan laki-laki.

“Saya pikir aksi ini akan mendorong kantor-kantor Google lainnya melakukan tindakan serupa. Karyawan, baik perempuan atau laki-laki, tidak hanya menyaksikan dengan duduk-duduk atau saling berkomentar atau berbagi email, tapi melakukan aksi.”

Tahun lalu, karyawan Google dengan lantang menentang kerjasama perusahaan tersebut dengan Departemen Pertahanan AS, yang berencana menyasar pasar Cina.

Koalisi Pekerja Teknologi, sebuah kelompok advokasi yang berbasis di San Francisco, mengatakan demo yang terjadi hari itu hanyalah satu dari berbagai permasalahan yang harus disampaikan ke perusahaan teknologi itu.

“Kami berdiri dalam solidaritas dengan para pekerja Google,” kata juru bicara kelompok tersebut.

“Sudah jelas para eksekutif tidak akan melakukan ini untuk kami, jadi kami mengambil tindakan sendiri.”



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.