Pernyataan Wiranto soal foto keluarganya: Bagaimana cadar, gamis, dan sorban diartikan beragam


Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto memberikan kuliah umum kepada mahasiswa di Aula Barat ITB, Bandung, Jawa Barat, Rabu (31/10/2018).

Hak atas foto
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Image caption

Foto keluarga Wiranto yang menjadi viral diambil di depan makam cucunya.

Foto keluarga Menkopolhukam Wiranto yang diambil di pemakaman cucunya pada Jumat (16/11) mendapat tanggapan beragam dari warganet, sampai-sampai Wiranto harus mengeluarkan pernyataan khusus terkait anggota keluarganya yang mengenakan cadar dan gamis.

Foto keluarga Wiranto yang menjadi viral itu diambil di depan makam cucunya, Ahmad Daniyal Alfatih, di kompleks pemakaman Delingan, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (16/11). Di situ terlihat menantu serta anak dan cucu Wiranto memakai sorban dan bercadar.

Penampilan keluarga Wiranto tersebut kemudian menjadi sasaran komentar warganet. Sebagian ada yang mempertanyakan kemampuan Wiranto untuk tegas dalam menghadapi kelompok-kelompok seperti HTI, FPI, atau gelombang radikalisme di Indonesia.

Ada juga yang menyebut bahwa foto tersebut justru merupakan bukti keterkaitan antara Wiranto dengan terbentuknya Front Pembela Islam (FPI).

Namun ada juga yang menyatakan bahwa foto keluarga Wiranto tersebut adalah alasan kuat untuk membantah mereka yang menuduh Wiranto “membenci syariat Islam karena membubarkan HTI”.

Yang lainnya malah bertanya, “Keluarga Wiranto banyak yg cadaran, mengapa pak @wiranto1947 sangat membenci HTI ya….”

Di sisi lain, ada juga yang mempertanyakan tanggapan warganet yang dianggap tidak konsisten antara yang sebelumnya melakukan penolakan terhadap cadar karena dugaan keterkaitan dengan radikalisme dengan kini yang jadi menerima cadar.

Tanggapan berbeda juga muncul dari warganet yang menyoroti soal prasangka yang muncul terkait cadar, sorban dan gamis.

Dalam pernyataan yang dikeluarkannya, Wiranto menjawab secara khusus tentang identitas cadar dan gamis yang dikenakan oleh anggota keluarganya itu.

“Sekarang ini pada saat cucu saya Ahmad Daniyal Al Fatih (alm) meninggal dunia, ibu, ayah dan kakak- kakaknya mengenakan busana muslim yang bercadar, bersorban, banyak masyarakat terkejut, media sosial ramai membincangkan tentang mereka,” sebut Wiranto dalam tulisannya kepada publik.

“Ada yang senang dan ada pula yang mencerca dengan prasangka dan cara mereka. Bahkan mencoba menghubung-hubungkan dengan tugas dan jabatan saya sebagai Menko Polhukam,” sambungnya.

Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Para perempuan yang tergabung dalam kelompok ‘Pasukan Niqab’ berkumpul di Bekasi pada 2017 untuk membaca Alquran, menunggang kuda, dan berlatih memanah.

Dia juga menjelaskan soal pondok pesantren tempat mendiang anaknya, Zainal Nurizky, belajar di Afrika Selatan.

“Dia mendalami Al Qur’an untuk memantapkan akhlaq dan moralnya sebagai basis pengabdiannya ke depan nanti sebagai generasi penerus. Lewat internet, dia memilih tempat belajar Al Qur’an yang bebas politik.”

“Ponpes Internasional di wilayah Land Asia Afrika Selatan yang khusus untuk memantapkan pemahaman Al Qur’an yang mengedepankan persaudaraan dan kedamaian, bukan sekolah teroris,” kata Wiranto lewat pernyataannya itu.

Menurut Wiranto, dia telah “mengajari” anggota keluarganya “untuk merasa memiliki, mencintai, membela negeri ini di manapun posisi mereka, apapun pekerjaan mereka karena di sinilah kita dilahirkan, dibesarkan, dididik, mendapatkan kehidupan, bahkan tempat peristirahatan yang terakhir.”

“Saya memberikan kebebasan kepada keluarga saya untuk menjadi apa saja dan melakukan apa saja sepanjang tidak keluar dari rambu-rambu kehidupan yang telah saya pesankan kepada mereka itu,” menurut pernyataan Wiranto.

Hak atas foto
AFP/Getty Images

Image caption

Bagi beberapa orang, niqab tampaknya memang dianggap sebagai pertanda berkembangnya Islam yang konservatif.

Kecurigaan terhadap cadar

Sebelumnya pada Maret 2018 lalu, Universitas Islam Negeri (UIN) Kalijaga, Yogyakarta sempat melarang penggunaan cadar “untuk mencegah radikalisme dan fundamentalisme”. Namun setelah menjadi perdebatan, larangan tersebut kemudian dicabut.

Sementara itu, pada April 2018, sempat muncul kontroversi ketika Sukmawati Soekarnoputri membacakan puisi yang menyatakan bahwa konde ibu Indonesia lebih cantik dari cadar.

“Aku tak tahu syariat Islam. Yang ku tahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah. Lebih cantik dari cadar dirimu,” menurut puisi Sukmawati saat itu.

Sukmawati Soekarnoputri kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam se-Indonesia lewat jumpa pers di Jakarta.

Sebelumnya, tidak diketahui secara pasti jumlah perempuan Muslim di Indonesia yang mengenakan cadar. Penelitian yang dilakukan lembaga Alvara Research Centre menunjukkan jumlah perempuan di Jakarta yang mengenakan cadar kurang dari 2%, tapi angkanya terus meningkat.

  • Kisah perempuan bercadar: Diteriaki maling, dilempar botol, hingga ditawari pekerjaan
  • Puisi Sukmawati: Soal konde, kebaya, dan cadar, antara tren, tradisi dan identitas

Hak atas foto
AFP

Image caption

Mengenakan niqab tidak menghalangi perempuan ini untuk menunggang kuda.

Tyas Ummu Zahid, karyawati perusahaan swasta, pada BBC Indonesia sempat mengatakan bahwa saat mengenakan cadar ada anggota keluarga yang mempertanyakan. Ada juga yang khawatir ia tidak bisa menjaga tindakan dan akibatnya malah berdampak negatif.

“Saya jelaskan, jangan salahkan cadarnya, jangan salahkan hijabnya. Kalau ada yang memakai cadar tapi tindakannya kurang Islami, yang keliru orangnya bukan cadarnya,” kata Tyas, pada Maret 2018 lalu.

Tyas merasa nyaman dengan cadar yang ia kenakan meski ia pernah mengalami perlakuan yang tidak mengenakkan.

Sementara itu, pengamat politik Universitas Indonesia, Hurriyah, mengatakan bahwa makin banyaknya kaum perempuan di Indonesia yang bercadar tak dilepaskan dari proses demokratisasi yang berkembang.

Dia tidak setuju dengan pandangan bahwa makin banyaknya kaum perempuan yang bercadar menunjukkan Indonesia ‘makin konservatif’.

“Gejala ke-Islaman di Indonesia sangat beragam. Tren sekarang ini orang lebih terbuka memperlihatkan religiusitas mereka. Ada semacam kesalihan yang tidak hanya di tingkat individu, tapi juga kesalihan sosial. Dan ini ramai ditunjukkan. Ini oke-oke saja, sepanjang tidak ada aturan hukum yang dilanggar,” katanya.





Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.