Perang Israel-Gaza: Mengapa serangan balas membalas semakin gencar dan korban berjatuhan


Serangan di Israel

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Seorang tentara Israel mengalami luka serius ketika bus yang ditumpanginya dihantam oleh rudal.

Tujuh orang tewas dalam pertempuran terbaru antara tentara Israel dan kelompok militan Palestina di Gaza, Hamas.

Pertempuran terbaru ini pecah setelah operasi rahasia pasukan khusus Israel di wilayah Gaza terbongkar pada hari Minggu (11/11).

Operasi tersebut menyebabkan tujuh warga Palestina, termasuk seorang komandan Hamas, dan seorang tentara Israel tewas.

Kelompok Hamas, yang menguasai wilayah Gaza, lantas melancarkan serangan roket ke Israel, lebih dari 400 roket sejak Senin (12/11). Aksi itu dibalas dengan serangan udara oleh Israel ke Gaza, sejauh ini mengenai 150 sasaran.

Seberapa seriuskah kekerasan terbaru ini?

Pertempuran yang tengah terjadi ini tercatat sebagai salah satu yang paling serius sejak perang skala penuh antara Israel dan Hamas tahun 2014. Baik Israel maupun Hamas menyatakan akan mempergencar serangan.

Setelah sempat mereda menyusul kekerasan pada Minggu, roket dan mortir bertubi-tubi ditembakkan ke wilayah Israel pada Senin malam (12/11).

Menurut tim medis Israel, serangan itu menewaskan satu orang dan melukai 28 orang lainnya.

Bus, yang dilaporkan mengangkut tentara, terkena tembakan rudal antitank di Shaar Hanegev. Seorang serdadu luka parah akibat peristiwa itu.

Pada Senin malam juga, seorang pria terbunuh ketika gedung apartemen di Ashkelon dihantam roket.

Ia diidentifikasi sebagai warga Palestina dari wilayah Tepi Barat yang diduduki Israel. Pria itu bekerja di Israel. Delapan orang lainnya cedera, termasuk dua perempuan yang dilaporkan dalam kondisi serius.

Dentuman boom

Claude Bonfito tinggal di kota pesisir, Ashkelon, menceritakan apa yang dialaminya.

“Dalam hitungan dua detik sejak alarm berbunyi, kami mendengar suara keras boom, gorden beterbangan, kaca pecah, dan setelah beberapa menit kami keluar, kami menyadari ternyata rudal menghantam bangunan di samping kami,” ujar Bonfito.

Sebagai balasannya, Angkatan Bersenjata Israel (IDF) melancarkan serangan yang disebut serangan skala besar terhadap sasaran-sasaran militer milik Hamas dan kelompok Jihad Islam.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Stasiun televisi Hamas, Al-Aqsa, menjadi salah satu sasaran serangan Israel.

Abelkareem Abu Laban, warga di Kota Gaza mempertanyakan kepedulian dunia.

“Orang-orang berada di rumah ketika pasukan Israel menjatuhkan rudal peringatan dan kemudian rudal dari drone. Para warga terkejut dan mereka tahu bahwa pasukan Israel menyasar Hotel al-Amal dengan menjatuhkan rudal dengan drone dan kemudian dengan pesawat tempur F16,” jelasnya.

“Apa yang terjadi dengan kemanusiaan dan hak asasi manusia? Di manakah masyarakat internasional dan dunia Arab terkait dengan apa yang terjadi di Gaza?”

Eskalasi ‘sangat berbahaya’

Serangan Israel, menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nachson, tidak akan dihentikan jika Hamas tidak menghentikan aksinya.

“Hamas secara sengaja menyasar penduduk sipil kami dan kami tidak dapat dan tidak akan menerima hal ini. Angkatan Bersenjata Israel akan melancarkan serangan yang gencar dan mematikan untuk menyampaikan pesan dan Hamas paham mereka harus menghentikan serangan-serangan itu sekarang juga.”

Utusan PBB untuk Timur Tengah Nickolay Mladenov mengatakan eskalasi ini “sangat berbahaya” dan sejumlah pihak menempuh segala cara untuk “mengembalikan Gaza dari tepi jurang”.

Pertempuran terbaru pecah setelah tampaknya dicapai kemajuan dalam upaya yang ditempuh oleh Mesir dan PBB dalam rangka mewujudkan gencatan senjata di perbatasan Gaza.

Di perbatasan tersebut, lebih dari 200 warga Palestina tewas dalam protes sejak Maret.

Mengapa Israel dan Hamas bermusuhan?

Hamas menang pemilihan umum Palestina tahun 2006 dan memperkuat kekuasaan di Jalur Gaza setelah mengusir faksi saingan, Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas yang berbasis di Tepi Barat satu tahun kemudian.

Walaupun Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang menjadi payung Fatah, telah menandatangani perjanjian damai dengan Israel, Hamas tidak mengakui keberadaan Israel dan mendorong jalan kekerasan untuk menentang negara itu.

Hak atas foto
AFP

Image caption

Sekolah-sekolah Israel yang berada di dekat perbatasan dengan gaza diperintahkan tutup sementara sebagai langkah jaga-jaga.

Israel bersama Mesir mempertahankan blokade terhadap Gaza sejak sekitar tahun 2006. Langkah itu, menurut mereka, ditempuh untuk menghentikan serangan militan.

Israel dan Hamas telah terlibat perang sebanyak tiga kali.

Serangan roket dari Gaza ke wilayah Israel dan serangan udara Israel yang ditujukan ke sasaran-sasaran Hamas rutin terjadi.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.