Penistaan agama di Pakistan: Mereka yang terpaksa meninggalkan negara sendiri


Asia Bibi poster

Hak atas foto
AFP

Image caption

Poster medesak pembebasan Asia Bibi.

Kelompok minoritas agama dan para pegiat Pakistan yang mengecam militer negara itu, telah sejak lama mengkhawatirkan tuduhan penghujatan.

Secara hukum mereka dapat dihukum mati dan sejumlah orang yang dituduh menista dibunuh massa.

Hukum kontroversial tersebut kembali menjadi perhatian sejak Asia Bibi, perempuan Kristen, dibebaskan dari tuduhan itu.

Pengacaranya memperkirakan ibu empat anak dan keluarganya harus meninggalkan negara itu demi keamanan mereka.

Samia Khan berbicara dengan empat orang yang mendapatkan perlindungan di Inggris karena tuduhan yang sama.

Kami mencintai negara kami, Pakistan adalah rumah kami

John (bukan nama sebenarnya) adalah tokoh umat Kristen yang terlibat dalam dunia politik dan bekerja di sektor perbankan di Pakistan.

Kehidupannya berubah ketika anak laki-lakinya yang berusia 13 tahun dituduh menghujat di sekolahnya karena dia tidak mau menjadi Muslim.

Lebih sepuluh tahun kemudian, dia tinggal di Inggris dengan istri dan kedua anak laki-lakinya, tetapi mereka tidak bisa melupakan tuduhan tersebut.

Pada mulanya mereka tinggal di dekat sebuah masjid di Birmingham, daerah yang disukai banyak Muslim Pakistan.

“Suatu hari seorang pria mengetuk pintu kami dan menuduh istri saya mengejek masjid karena menaruh kantung sampah hitam di luar dinding masjid,” katanya.

Rekaman CCTV menunjukkan yang melakukan hal tersebut ternyata adalah perempuan lain, tetapi masalah terus berlanjut.

“Penduduk setempat terus mengawasi kami dan kami telah pindah rumah sebanyak lima kali,” katanya, sambil menambahkan mereka akhirnya tinggal di dearah yang lebih banyak warga Kristennya.

Dia mengatakan kedua anak laki-lakinya masih trauma akibat pengalaman itu dan menolak untuk kembali ke Pakistan, meskipun dia sendiri belum memutuskan.

“Saya lebih suka menjadi warga Inggris karena saya akan merasa lebih aman menggunakan paspor Inggris,” kata John.

Kami pasti telah melakukan atau mengatakan sesuatu

Aasim Saeed adalah Muslim Sunni jadi bagian dari mayoritas penduduk Pakistan.

Tetapi posting-nya di media sosial, dimana dia mengecam militer Pakistan yang berkuasa, membuatnya menjadi sasaran.

Dia adalah satu dari lima blogger yang diculik “badan intelijen negara” pada tahun 2017.

Image caption

Aasim Saeed dituduh menghujat setelah dirinya mengecam militer Pakistan.

Dia menyangkal tuduhan penistaan yang kemudian dilontarkan.

Saeed mengatakan tuduhan ini diarahkan kepadanya hanya karena dirinya mengkritik militer Pakistan.

Sejak tiba di Inggris setahun lalu, dia berusaha menyembunyikan diri.

“Terdapat ketidaktoleranan yang tinggi di antara Muslim Inggris dan sama seperti Asad Shah, penjaga toko yang dibunuh karena alasan keagamaan, saya kemungkinan juga akan diserang suatu hari,” katanya.

Aasim mengatakan dirinya kehilangan teman masa kanak-kanak karena mereka mengatakan ‘kamu pasti melakukan atau mengatakan sesuatu’, hal ini membuatnya resah.

Dia juga mengalami kelainan stres pasca trauma (PTSD) karena penyiksaan yang dialaminya saat ditahan.

“Sangat berbahaya untuk kembali ke Pakistan begitu Anda dituduh melakukan penghujatan dan orang mengenal Anda,” katanya. “Anda dapat saja dibunuh meskipun Anda kembali setelah sepuluh tahun kemudian.”

Selama peraturan melarang penghujatan tetap tercantum dalam kitab hukum, Aasim merasa Pakistan tidak akan berubah, meskipun dia tetap menyambut pembebasan Asia Bibi.

Saya tidak akan pernah pulang

Tahir Mahdi adalah Muslim Ahmadiyah yang juga penerbit dan manajer koran harian untuk kelompok masyarakatnya di Pakistan.

Ahmadiyah dinyatakan bukan-Islam di tahun 1970-an dan dipersekusi sejak saat itu.

Mereka tidak mempercayai Mohammad sebagai nabi terakhir.

Tahir dituduh menerbitkan bahan bernada menghujat, yang telah dia sangkal. Dia dipenjara selama dua setengah tahun.

Dua saudara laki-lakinya meninggal saat itu dan dia tidak diizinkan menghadiri pemakaman mereka.

Image caption

Tahir Mahdi dipenjara lebih dua tahun atas tuduhan penghujatan.

Dia juga mengatakan orang-orang yang dituduh menghujat mengalami perlakuan paling buruk di penjara.

“Kami hanya diizinkan menemui kerabat dekat, seperti saudara kandung, orang tua, anak dan istri, selama 20 menit setiap minggu,” katanya.

“Tahanan lainnya bertemu semua anggota keluarga dan teman sebanyak tiga kali seminggu selama 30 menit.”

Dia mengatakan “keadilan” akhirnya tercipta dengan dibebaskannya Asia Bibi tetapi masa depan kelompoknya tetaplah suram.

“Saya tidak melihat perubahan adanya di masyarakat Ahmadiyah dalam waktu dekat,” katanya, sambil menambahkan dirinya tidak akan pernah kesana.

Kehidupan tidak akan pernah sama

Ayah Zahida, Dr Hamidullah Rehmatullah, adalah seorang dokter gigi yang terkenal di Pakistan.

Dia menyukai pasiennya yang berasal dari berbagai kelompok.

Tetapi di mengatakan kelompok garis keras membencinya karena keyakinan Ahmadiyah-nya dan bahwa dirinya membangun tempat ibadah. Hal ini dipandang sebagai penghujatan.

Image caption

Ayah Zahida adalah seorang dokter gigi terkenal di Pakistan.

Dia sudah dua kali mengalami usaha pembunuhan, sebelum akhrinya diculik 11 tahun lalu saat Ramadan.

“Ayah saya disiksa, mereka memaksanya menjadi Islam Sunni dan ketika dia menolak, mereka menembaknya di kepala dan dada,” katanya.

Saudara laki-lakinya telah tinggal di Inggris saat itu.

Setelah pembunuhan, keluarganya pindah ke daerah Ahmadiyah di Pakistan dan hidup “dalam persembunyian” sebelum pindah ke Inggris.

“Kehidupan tidak pernah sama lagi,” katanya. “Keluarga saya menderita secara keuangan, kejiwaan dan ini mempengaruhi kesehatan fisik ibu saya.”

Tidaklah mudah untuk memulai kehidupan di negara baru.

Zahida mengatakan kasus Asia Bibi memberikan sedikit harapan bagi kelompok minoritas.

“Tetapi siapa yang tahu,” katanya.

“Kelompok fanatik keagamaan dapat memaksa pemerintah untuk mengubah keputusan.”



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.