Peneliti menguji “vaksin” untuk mencegah penyebaran hoaks, efektifkah?


hoax, informasi palsu, mencegah hoax, media sosial

Hak atas foto
Antara/Oky Lukmansyah

Peneliti mencari cara untuk mencegah penyebaran hoaks. Tapi apakah ada cara untuk mencegah kabar bohong yang sudah terlanjur tersebar? Baca penjelasannya.

Selama beberapa dekade, ilmu pengobatan telah memberi kita cara mudah untuk mencegah penyakit: vaksin.

Kita tentu akrab dengan cara kerja vaksin, yaitu memasukkan virus yang sudah dilemahkan ke tubuh kita, untuk membantu kita membangun antibodi melawan penyakit sebenarnya. Kini vaksinasi sudah menjadi praktek umum di dokter di seluruh dunia, dan telah menghentikan penyebaran beberapa penyakit terburuk pada abad lalu, termasuk campak dan polio.

Tapi bisakah vaksin diterapkan di dunia luar?

Para peneliti sedang mengerjakan sejenis vaksinasi yang dapat memerangi momok abad ke-21: berita palsu.

Ini bisa berhasil karena misinformasi punya sifat seperti virus. Berita-berita palsu menyebar lebih cepat, lebih dalam, dan lebih jauh dari kisah nyata, mengalir dari ‘penderita’ ke ‘penderita’ melalui tagar Twitter, grup-grup WhatsApp dan profil Facebook kakek Anda (ya, dia punya FB).

“Meski Anda mencoba memberi informasi yang benar, informasi yang salah tetap menempel pada orang-orang,” kata Sander van der Linden, yang memimpin Laboratorium Pengambilan Keputusan Sosial di Universitas Cambridge. “Setelah menyatu ke dalam memori jangka panjang, menjadi sangat sulit untuk memperbaikinya.”

Jadi apa yang bisa Anda lakukan? Seperti yang dilakukan Han Solo: tembak duluan!

Profesional di bidang ini menyebut pendekatan ini sebagai “menyanggah duluan”. Alih-alih menunggu informasi palsu menyebar dan kemudian dengan susah payah memeriksa fakta dan menyanggahnya, para peneliti melakukan serangan pencegahan yang memiliki potensi melindungi otak Anda.

Hak atas foto
Getty Images

Penelitian selama beberapa dasawarsa menunjukkan bahwa pendekatan ini berhasil

Psikolog pertama kali mengusulkan “vaksinasi” pada 1960-an, didorong oleh kekhawatiran propaganda dan cuci otak selama Perang Dingin. Tetapi versi abad ke-21 menargetkan lansekap misinformasi modern, yang penuh dengan perpecahan politik dan perang budaya.

Contohnya, perubahan iklim. Lebih dari 97% ilmuwan iklim telah menyimpulkan bahwa manusia bertanggung jawab atas pemanasan global, tetapi kelompok besar masyarakat masih kesulitan mempercayainya.

Ketika ditanya berapa persentase ilmuwan iklim yang setuju bahwa pemanasan global akibat manusia sedang terjadi, hanya 49% orang Amerika mengira lebih dari setengah. Hanya 15% yang menjawab dengan benar, bahwa itu lebih dari 91%.

Kebingungan ini mencerminkan kampanye canggih yang ditujukan untuk menyebarkan keraguan di kalangan publik.

Setelah keraguan mengendap, sulit untuk membuangnya

Kesulitannya adalah bahwa setelah keraguan mereda, sulit untuk melupakannya. Van der Linden dan rekan-rekannya bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika mereka memberikan informasi kepada orang-orang sebelum para “penolak” melakukannya.

Mereka menggali sebuah kampanye disinformasi yang nyata: yaitu Petisi Oregon. Pada tahun 2007 petisi ini salah klaim bahwa lebih dari 31.000 ilmuwan Amerika menolak jika manusia disebut sebagai pihak yang menyebabkan perubahan iklim.

Tim menyiapkan tiga dokumen. Pertama, mereka menulis ‘catatan kebenaran’ yang menjelaskan bahwa 97% ilmuwan iklim setuju bahwa manusia bertanggung jawab atas perubahan iklim. Mereka juga menyiapkan ‘sanggahan’ yang mengungkapkan kesalahan dalam Petisi Oregon. Misalnya, bahwa di antara 31.000 nama di dalam Petisi ada orang-orang seperti almarhum Charles Darwin dan Spice Girls, dan bahwa kurang dari 1% dari penandatangannya adalah para ilmuwan iklim.

Akhirnya, mereka mensurvei 2.000 orang. Pertama, mereka bertanya kepada mereka seberapa besar konsensus ilmiah tentang perubahan iklim —tanpa melihat dokumen.

Hak atas foto
Getty Images

Kemudian mereka membaginya, satu kelompok yang melihat ‘catatan kebenaran’, satu kelompok yang melihat Petisi Oregon, dan mereka yang melihat ‘catatan kebenaran’ sebelum petisi.

Hasilnya menarik. Ketika peserta pertama ditanya tentang konsensus ilmiah tentang perubahan iklim, mereka menghitungnya sekitar 72% rata-rata. Tetapi mereka kemudian mengubah perkiraan mereka berdasarkan apa yang mereka baca.

Ketika para ilmuwan memberikan sebuah kelompok dengan ‘catatan kebenaran’, rata-rata meningkat menjadi 90%. Bagi mereka yang hanya membaca Petisi Oregon, rata-rata merosot hingga 63%.

Ketika kelompok ketiga membacanya keduanya, pertama ‘catatan kebenaran’ dan kemudian petisi, rata-rata tetap tidak berubah dari naluri asli peserta: 72%.

“Saya tidak menduga ada potensi kesalahan informasi ini,” kata Van der Linden. Kesalahan informasi berhasil sepenuhnya ‘menetralkan’ data yang benar.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Hoaks penculik anak, dua pemuda meregang nyawa di tangan warga

Masukkan vaksinasi

Ketika sekelompok peserta membaca ‘catatan kebenaran’ dan juga diberi tahu bahwa kelompok bermotif politik dapat mencoba menyesatkan publik pada topik seperti perubahan iklim —inilah ‘vaksin’-nya —rata-rata yang dihitung naik menjadi hampir 80%. Mengejutkannya, ini terjadi bahkan setelah menerima Petisi Oregon.

‘Sanggahan’ yang menjelaskan bagaimana petisi itu menyesatkan lebih efektif. Satu kelompok terakhir yang membacanya sebelum petisi memperkirakan bahwa 84% ilmuwan setuju bahwa manusia bertanggung jawab atas perubahan iklim (tentu saja, jumlah sebenarnya masih 97%).

Dalam bagian terpisah dari penelitian, tim lain yang dipimpin oleh John Cook mengajukan pertanyaan serupa dan tiba pada hasil yang sama: vaksinasi dapat membantu kita melawan kesalahan informasi.

“Ini adalah perkembangan yang menarik,” kata Eryn Newman, seorang ilmuwan kognitif dan dosen di Universitas Nasional Australia yang tidak terlibat dalam penelitian. “Mereka membalik pendekatan, melakukan serangan pencegahan dan memberikan orang-orang peringatan.”

Hak atas foto
Getty Images

Dengan kata lain, kakek Anda mungkin akan berpikir dua kali sebelum membagikan posting terbaru tentang cebong, onta, atau apakah Bumi itu datar.

Mengapa bisa berhasil

Manusia mengandalkan jalan pintas mental untuk berpikir; dunia penuh dengan informasi dan otak kita punya waktu dan kapasitas yang terbatas untuk memprosesnya. Jika Anda melihat seorang pria keriput berambut abu-abu dan seseorang memberi tahu Anda bahwa orang itu sudah tua, otak Anda menerima itu.

Orang yang memanfaatkan disinformasi paham betul hal ini dan menggunakannya untuk keuntungan mereka. Misalnya, para perancang Petisi Oregon menyebarkan informasi yang salah yaitu bahwa 31.000 ilmuwan mendukung klaim mereka. Karena, kita cenderung mempercayai para ahli.

“Ketika informasi terasa mudah untuk diproses, orang cenderung mengiyakan,” kata Newman, yang turut menulis ulasan tentang bagaimana menangani informasi palsu.

Sebelum mempercayai sepotong informasi baru, kebanyakan orang menelitinya setidaknya dalam lima cara, demikian temuannya. Kita biasanya ingin tahu apakah orang lain juga percaya, apakah ada bukti yang mendukung klaim baru ini, apakah itu sesuai dengan pengetahuan kita sebelumnya (maka pria berambut abu-abu, yang mungkin cocok dengan bayangan kita tentang orang lanjut usia), apakah argumen internal masuk akal dan apakah sumbernya cukup kredibel.

Tetapi kadang-kadang kita terlalu bergantung pada jalan pintas mental untuk menjawab lima pertanyaan ini. Evaluasi kita tidak menyeluruh. Kita tidak bertanya pada diri sendiri, “Hmm, berapa banyak dari ahli itu yang sebenarnya adalah ilmuwan iklim?” Sebaliknya, kita hanya menerima angka “31.000 ilmuwan” karena itu terasa benar.

Jalan pintas ini sangat membantu untuk kehidupan sehari-hari, tetapi rentan penipuan.

Dalam ekosistem informasi kita yang serba cepat, otak kita melompat dari satu post Facebook ke yang berikutnya, mengandalkan aturan-aturan praktis untuk menilai berita utama dan komentar dan tanpa banyak memikirkan setiap klaim.

Ini adalah lahan subur untuk berita palsu. Namun, tim yang mengerjakan “vaksin” misinformasi percaya bahwa pekerjaan mereka bisa memicu orang untuk mulai berpikir lebih mendalam.

“Vaksinasi memaksa otak kita untuk memperlambat,” kata van der Linden. “Ada elemen peringatan.”

Untuk lebih menghargai ide ini, mungkin penting untuk memahami bagaimana vaksin bekerja (prosedur medis yang sebenarnya, bukan metafora misinformasi).

Hak atas foto
Getty Images

Setiap kali kita disuntik, kita menunjukkan contoh suatu penyakit ke tubuh kita —contoh kecil untuk menghindari penyakit sesungguhnya tapi cukup kuat untuk memancing reaksi.

Sampel ini mengejutkan sistem kekebalan tubuh kita hingga mulai bertindak, mulai membangun pertahanan, atau antibodi. Ketika kita menemukan penyakit yang sebenarnya, tubuh kita mengenalinya dari contoh yang lalu dan siap untuk menyerang balik.

Permainan dimulai

Ada satu kelemahan besar dari pendekatan ini: butuh banyak waktu dan upaya untuk menangani kasus demi kasus dan memvaksin orang satu per satu.

Mari kita pakai metafora vaksin sedikit lebih banyak. Vaksin rubella, misalnya, tidak akan mencegah Anda terkena campak atau hepatitis, karena hanya akan menciptakan antibodi terhadap virus rubella. Demikian pula, jika Anda menerima kebenaran tentang perubahan iklim, Anda mungkin masih rentan terhadap berita palsu tentang topik lain.

“Ada jutaan topik di luar sana yang bisa digunakan untu menipu orang,” jelas Jon Roozenbeek, yang bergabung dengan tim van der Linden pada 2016. “Anda tidak dapat ‘menyanggah duluan’ setiap cerita karena Anda tidak tahu dari mana penipuan selanjutnya akan datang dan apa topiknya.”

Masalah lainnya adalah orang tidak suka diberi tahu apa yang benar dan apa yang salah. Kita biasanya berpikir bahwa kita lebih tahu. Itulah sebabnya ahli pedagogi biasanya menyarankan pendidik untuk memberi siswa peran aktif dalam pembelajaran.

Jadi para peneliti Cambridge kembali ke lab sampai mereka menemukan ide baru.

Hak atas foto
Getty Images

“Bagaimana jika kita mengajari orang-orang taktik yang digunakan dalam industri berita palsu?” Van der Linden mengingat pemikirannya pada saat itu. “Cara yang lebih baik untuk menyiapkannya?”

Hasilnya adalah permainan peran, di mana para peserta bisa memainkan satu dari empat karakter, dari menjadi ‘alarmis’ untuk meniru taipan ‘clickbait’. Permainan difokuskan pada strategi berita palsu, bukan topik.

Setelah permainan berita palsu terbukti efektif saat dites pada siswa sekolah menengah Belanda, mereka meningkatkannya ke versi online yang disebut “Bad News” dengan bantuan DROG kolektif.

Menavigasi game online ini butuh waktu kurang dari 15 menit—tetapi ini adalah pengalaman yang nyata. Anda akan meluncurkan situs berita palsu, menjadi kepala editornya, membeli pasukan bot Twitter dan mengarahkan pengikut Anda melawan pemeriksa fakta yang bermaksud baik. Pada saat saya melampaui 7.000 pengikut, saya merasa agak tidak nyaman dengan betapa mencandunya itu.

Sepanjang permainan, Anda mempelajari enam teknik berbeda yang digunakan oleh taipan berita palsu: peniruan identitas, eksploitasi emosi, polarisasi, konspirasi, mendiskreditkan dan trolling. Idenya adalah bahwa pada saat seseorang mencoba menggunakan taktik melawan saya di media sosial, saya harus mengenali mereka. Atau, setidaknya, alarm akan berbunyi di suatu tempat di otak saya, sehingga saya bisa melakukan pengawasan lebih dekat. Satu hanya bisa berharap.

Memang tampaknya agak kontraintuitif untuk melawan berita palsu dengan mengajari orang-orang bagaimana menjadi taipan misinformasi, tetapi Roozenbeek mempercayai eksperimen tersebut. Dia juga merasa senang pada ketidaknyamanan saya saat bermain game itu.

Hak atas foto
Getty Images

“Jika Anda disuntik vaksin, Anda mungkin akan merasa sedikit mual sepanjang hari itu,” kata dia meyakinkan saya, “tetapi itu akan membantu Anda dalam jangka panjang.”

Pasangan ini menyusun sebuah makalah akademis dengan hasil dari 20.000 pemain yang setuju membagikan data mereka untuk penelitian. Meskipun tidak dipublikasikan, mereka mengatakan hasilnya menggembirakan.

Versi yang lebih pendek dari permainan ini dipajang di sebuah pameran di London Design Museum di mana orang bisa menjadi agitator informasi di Inggris pasca-Brexit.

Dalam kegemaran mereka tentang metafora vaksinasi, anggota tim Cambridge berbicara dengan penuh harapan tentang game online, yang sekarang diterjemahkan ke lebih dari 12 bahasa. Van der Linden mengharapkan orang-orang dapat memperoleh “imunisasi secara berkelompok” jika game itu banyak dibagikan secara online.

Roozenbeek berbicara tentang “kekebalan umum”, karena game ini tidak menargetkan satu topik tertentu tetapi penggunaan berita palsu secara umum.

Pada akhirnya, cara ini juga harus melewati ujian waktu: peneliti tidak tahu berapa lama manfaat vaksinasi akan bertahan, jika memang itu bekerja. Sebagai virus, disinformasi bergerak dalam lingkungan yang berubah dengan cepat dan beradaptasi dengan cepat ke kondisi baru.

“Jika virus berubah, apakah orang-orang akan tetap terlindungi?” kata Newman, yang bertanya-tanya apakah game ini akan bertahan menghadapi sifat trolling dan disinformasi yang selalu berubah.

Dengan kata lain: apakah cara ini mampu meningkatkan pertahanan mental keluarga Anda pada Pilpres berikutnya?


Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini di Could this game be a vaccine against fake news? di BBC Future



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.