Penculikan puluhan siswa di Kamerun: ‘Mereka mengancam akan menembak kami’


kamerun

Image caption

Tayangan video para siswa sekolah, yang diyakini difilmkan oleh salah satu kelompok penculik, dibagikan di media sosial.

Puluhan orang, kebanyakan murid sekolah, diculik dari sebuah sekolah asrama di wilayah barat Kamerun.

Sedikitnya 79 orang siswa dan tiga orang lainnya, termasuk kepala sekolah, diculik pada Senin subuh di Bamenda, ibukota wilayah North-West, kata seorang pejabat pemerintah kepada BBC.

Saat ini upaya pencarian sedang berlangsung untuk menemukan anak-anak tersebut.

Wilayah North West dan South-West Kamerun dalam beberapa tahun terakhir menjadi sasaran serangan kelompok pemberontak.

Gubernur kawasan itu, Adolphe Lele L’Afrique menyalahkan kelompok milisi separatis bertanggungjawab atas kasus penculikan tersebut.

Kelompok milisi, yang menuntut kemerdekaan dua wilayah yang menggunakan bahasa Inggris itu, telah menyerukan aksi boikot ke sekolah.

Namun demikian tidak ada satu kelompok pun yang menyebut dirinya sebagai pelaku penculikan di Sekolah Menengah Presbyterian Bamenda, yang memiliki murid berusia antara 10 dan 14 tahun.

Tayangan video

Tayangan video para siswa sekolah, yang diyakini difilmkan oleh salah satu kelompok penculik, dibagikan di media sosial.

Dalam video tersebut, para siswa yang semuanya laki-laki, terlihat berdesakan di ruangan kecil. Mereka terlihat gugup ketika seseorang yang memegang kamera memerintahkan agar mereka menyebutkan nama dan asalnya.

Mereka juga mengulangi kalimat: “Saya dibawa dari sekolah tadi malam oleh kelompok Amba, saya tidak tahu di mana saya berada.”

Amba adalah singkatan Ambazonia, nama negara baru yang diinginkan oleh kelompok separatis.

Salah seorang siswa, yang lolos dari penculikan dengan bersembunyi di bawah tempat tidur, mengatakan kepada BBC bahwa kejadian itu berlangsung cepat tidak lama setelah para penculik memasuki sekolah.

“Salah seorang teman saya, dihajar hingga babak belur. Yang bisa saya lakukan hanyalah diam. Mereka bahkan mengancam akan menembak beberapa orang … semua anak laki-laki yang berbadan besar yang mereka tangkap, dan yang perawakannya kecil ditinggalkan.”

Hak atas foto
Amer Ghazzal / Barcroft Media via Getty Images

Image caption

Para pendukung kelompok separatis Amba, yang menuntut pemisahan diri dari Kamerun, menggelar unjuk rasa di London, 1 Oktober 2018.

Seorang guru di sekolah tersebut menggambarkan apa yang dia lihat ketika dia memasuki kantor kepala sekolah setelah puluhan siswa diculik dari gedung asrama.

“Pasukan militer tiba dan menuju rumah kepala sekolah di mana kami menyadari bahwa pintunya telah dibobol dan dimasuki,” katanya kepada BBC.

‘Mendoakan korban penculikan’

Sebagai pimpinan Gereja Presbyterian di Kamerun, Pendeta Fonki Samuel Forba mengatakan kepada BBC bahwa dia telah berbicara dengan para penculik.

“Mereka tidak menginginkan tebusan. Yang mereka inginkan adalah menutup sekolah-sekolah. Kami telah berjanji untuk menutup sekolah-sekolah itu,” ucapnya.

“Kami berharap dan berdoa mereka membebaskan anak-anak dan para guru,” tambahnya.

Seorang pejabat pemerintah kemudian mengatakan pencarian besar-besaran – yang melibatkan tentara – telah digelar untuk menyelamatkan para sandera.

Hak atas foto
Christophe Licoppe/Photonews via Getty Images

Image caption

Presiden Paul Biya, yang berkuasa sejak 1982, baru-baru ini terpilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ketujuh dengan lebih dari 70% suara.

Ini bukan pertama kalinya para pelajar diculik di kawasan itu, yang dikenal sebagai kubu pejuang kelompok separatis, demikian lapor wartawan BBC Ngala Killian Chimtom.

Pada 19 Oktober, lima siswa Sekolah Menengah Atas Atiela diculik oleh orang-orang bersenjata yang tidak dikenal. Keberadaan mereka masih belum diketahui.

Kaum separatis mengatakan bahwa sistem sekolah Kamerun telah menekan sistem berbahasa Inggris yang diwariskan dari Kerajaan Inggris.

Kelompok pemberontak separatis

Kelompok milisi, yang ingin mendeklarasikan Ambazonia, mulai muncul pada tahun 2017 setelah pasukan keamanan menumpas aksi protes massal, yang dipimpin oleh para pengacara dan guru.

Mereka menggelar unjuk rasa atas dugaan kegagalan pemerintah dalam memberikan pengakuan yang cukup kepada sistem hukum dan pendidikan Inggris di wilayah North West dan South-West.

Pemerintah Kamerun dituduh sangat bergantung pada orang-orang yang terlatih dalam tradisi hukum dan pendidikan Prancis yang ditempatkan di pos-pos penting dan umumnya meminggirkan minoritas berbahasa Inggris di Kamerun, yang jumlahnya sekitar 20% dari populasi keseluruhan.

Presiden Paul Biya, yang berkuasa sejak 1982, baru-baru ini terpilih kembali sebagai presiden untuk masa jabatan ketujuh dengan lebih dari 70% suara.

Partai-partai oposisi menuduh pemilu lalu telah dicurangi, tetapi upaya hukum untuk meninjau ulang hasil pemilu menemui jalan buntu.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.