Paus di Wakatobi telan ‘115 gelas plastik’ dan sandal jepit


Media playback tidak ada di perangkat Anda

Paus di Wakatobi yang mati karena banyak makan sampah plastik

Seekor paus sperma yang ditemukan mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Senin (19/11/18 ), menelan hampir enam kilogram plastik dan sandal jepit.

Dalam sebuah cuitan, lembaga WWF Indonesia merinci apa saja yang ditemukan di dalam perut bangkai hewan tersebut.

“5,9 kg sampah plastik ditemukan di dlm perut paus malang ini! Sampah plastik yaitu: plastik keras (19 pcs, 140 gr), botol plastik (4 pcs, 150 gr), kantong plastik (25 pcs, 260 gr), sandal jepit (2 pcs, 270 gr), didominasi o/ tali rafia (3,26 kg) & gelas plastik (115 pcs, 750 gr).”

Temuan bangkai paus sepanjang 9,5 meter ini menimbulkan keprihatinan para aktivis lingkungan.

“Meskipun kami belum bisa menentukan penyebab kematian, fakta-fakta yang kami lihat benar-benar mengerikan,” kata Dwi Suprapti, koordinator konservasi spesies maritim pada WWF Indonesia sebagaimana dikutip kantor berita Associated Press.

Dwi menambahkan, bukan hal mustahil jika di kemudian hari penyebab kematian paus tersebut adalah plastik-plastik yang dicernanya.

Lima negara di Asia—Cina, Indonesia, Filipina, Vietnam, dan Thailand—menghasilkan 60% limbah plastik di lautan, menurut laporan tahun 2015 yang disusun lembaga Ocean Conservancy and the McKinsey Center for Business and Environment.

Akibatnya, sejumlah hewan laut diyakini mati akibat sampah plastik setiap tahun. Pada Juni lalu, seekor paus pilot mati di bagian selatan Thailand setelah menelan 80 kantong plastik.

PBB menyatakan kehidupan biota laut menghadapi “kerusakan yang tak bisa diperbaiki” akibat sekitar 10 juta kimbah plastik yang dibuang ke laut setiap tahun.





Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.