Mengapa sifat ambisius tak berpengaruh dalam dunia kerja


Kepribadian

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Kebanyakan orang mendeskripsikan mereka sebagai sosok yang ambisius dan menyenangi persaingan.

Anda sepertinya mengenal seseorang dengan kepribadian ‘Tipe A’, yaitu sosok yang ambisius, kompetitif, dan haus kesuksesan. Barangkali justru seperti itulah Anda akan mendeskripsikan diri.

Ini adalah stempel diri yang telah dipakai oleh orang-orang berkepribadian kuat dan dominan selama beberapa dekade terakhir.

Para peneliti dari Universitas Toronto di Scarborogh, Kanada, menyebut sebuah istilah dapat sia-sia atau keliru, dan cara isitlah itu biasa digunakan merepresentasikan cara berpikir lawas tentang kepribadian.

Berikut adalah alasan mengapa Anda seharusnya berpikir dua kali sebelum menyebut diri Anda sebagai orang Tipe A dalam wawancara kerja berikutnya.

Kemunculan mitos

Merujuk Kamus Bahasa Inggris Oxford, kepribadian Tipe A memiliki ambisi, ketidaksabaran, jiwa kompetitif serta dianggap rentan mengalami stres dan penyakit jantung.

Sementara itu, Tipe B didefinisikan sebagai orang yang rileks, sabar, dan berperilaku yang dapat menurunkan resiko terserang penyakit jantung.

Sejak beberapa dekade lalu, istilah itu telah tertera di kamus terkenal dan orang-orang menggunakannya sebagai siasat untuk masuk dari satu kelompok ke kelompok lainnnya.

Pakar kardiologi asal Amerika Serikat menyebut istilah itu pada dekade 1950-an untuk orang-orang di kelas ekonomi menengah berciri kepribadian tertentu yang membuat mereka lebih beresiko mengidap pemasalahan jantung koroner.

Sebuah laporan tahun 2012 di American Journal of Public Health menuding penelitian itu dibiayai industri tembakau untuk mencegah klaim bahwa rokok buruk bagi kesehatan.

Aspek biner kepribadian, baik yang secara alami merupakan Tipe A dan Tipe B, adalah temuan utama dari kajian tahun 1989 yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology.

Namun mahasiswa pasca program doktoral atau yang baru meraih gelar S3 di Universitas Toronto, Michael Wilmot, ingin menguji apakah asumsi tersebut masih akurat saat ini.

Michael dan timnya lantas menduplikasi kajian lawas dan memperbaruinya dengan metode survei modern. Tujuannya untuk melihat apakah penelitian itu akan menghasilkan kesimpulan yang sama.

Temuan tim itu ditargetkan muncul dalam publikasi terbaru Journal of Personality and Social Psychology.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Orang-orang yang ambisius pernah dianggap rentan mengalami penyakit jantung.

Tim yang dibentuk Michael itu menguji ulang data dalam arsip survei sebelumnya, sekitar 4.500 orang di AS dan Inggris yang berpartisipasi dalam jajak pendapat kepribadian Tipe A beberapa tahun lalu.

Mereka tak dapat menemukan kesimpulan yang sama, bahwa Tipe A secara alami ada dalam kepribadian tertentu. Tim itu juga menyebut kepribadian lebih dapat dipahami sebagai neraca sifat dan ciri seseorang yang bergeser dan bukan mengkategorikannya.

“Masyarakat senang dengan wacana tentang kategori,” kata Michael.

“Ilmu pengetahuan membantu kita memahami dunia dan manusia adalah entitas yang paling menarik bagi manusia lainnya. Jadi pengelompokkan menunjang pola pikir itu,” ujarnya.

Mengatribusi seseorang sebagai bagian dari dua kategori kepribadian itu dapat memicu persoalan.

Permasalahan menjadi sosok Tipe A, menurut Wilmot dan timnya, adalah bahwa Anda tidak benar-benar dapat menjadi orang berkepribadian Tipe A.

Namun Anda dapat memiliki sebagian ciri khas orang Tipe A dan tak mempunyai sifat lainnya atau Anda bisa memiliki setiap ciri kategori kepribadian itu.

Menganggap seseorang sebagai Tipe A bisa menuduh mereka mempunyai kepribadian tertentu yang sebenarnya tak mereka miliki sama sekali.

Kajian terhadap isu ini pada tahun 1989 menggunakan metode penelitian lawas, seperti format tanggapan dikotomi (apakah Anda seperti ini atau seperti itu?) dan memperbandingkannya untuk mengukur ciri kepribadian, antara lain daya saing dan ketidaksabaran dalam skala yang tidak tetap.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Dalam beberapa tahun terakhir para psikolog menyebut menyematkan ciri kepribadian tertentu pada seseorang bukanlah hal mudah.

Ini pendekatan yang lebih modern: banyak psikolog berhati-hati menguji dan mendefinisikan Anda dengan satu ciri tertentu, sebagai gantinya mereka menyebutkan satu ciri yang dapat mencakup suatu rentang kepribadian.

“Mungkin orang yang haus pencapaian tidak gampang marah dan penyabar,” kata Wilmot.

Dalam kata lain, orang dapat menyenangi persaingan tapi tak tertekan oleh tenggat waktu. Namun menyebut seseorang memiliki kepribadian Tipe A mengasumsikan mereka menyenangi keduanya.

Persoalan golongan kepribadian

Pengelompokan kepribadian dalam Tipe A dan Tipe B dilihat banyak tenaga profesional dan akademisi sebagai hal yang kuno.

Sandra Matz, asisten guru besar di Columbia Business School di New York, mempelajari psikometri dan beragam cara mengukur kepribadian atau kemampuan kognitif.

Apakah Tipe A atau B atau sesuatu seperti Indikator Ciri Myers-Briggs, memasukkan seseorang dalam tipe tertentu tak lebih bermanfaat dibandingkan menguji dimensi sifat mereka.

“Ciri dan sifat terlalu mentah. Skema ini sangat terkenal karena mereka begitu mudah untuk dimengeri. Menyenangkan memiliki label yang dapat Anda gunakan,” kata Matz.

Kita membutuhkan cara mendeskripsikan kepribadian seseorang yang bukan hanya tak terbatas dari segi angka atau kata-kata sifat.

Matz berkata, ketika Anda mulai memasukkan deskripsi tertentu ke dalam curriculum vitae, seperti Tipe A yang ambisius, teratur, pecinta pekerjaan, mudah melihat jebakan dari sistem yang kaku itu.

“Ini adalah kesalahpahaman dalam cara kita menggunakan kepribadian di tempat kerja: mencari tahu ciri dan sifat karyawan terbaik,” ujar Matz.

Namun ini lebih dari sekedar mencari kecocokan antara kepribadian dan pekerjaan yang spesifik.

Uji kepribadian tidak banyak digunakan dalam proses rekrutmen, kata Paula Harvey dari Society for Human Resource Management. Ia berkata, uji personalitas itu banyak dibicarakan 15 tahun lalu, namun semakin ditinggalkan karena alasan biaya dan faktor kesetaraan peluang bagi pelamar.

“Jika tes kepribadian digunakan, biasanya untuk tujuan pengembangan terhadap pegawai yang telah ada,” tuturnya.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sejumlah perusahaan menggunakan tes kepribadian pada proses rekrutmen karyawan untuk mencari orang yang cocok menempati jabatan tertentu.

Lantas apa alternatif yang lebih baik? Banyak pakar menunjuk tes Big Five.

Sebagai ganti pemaksaan Anda masuk ke tipe tertentu, metode itu menempatkan Anda ke lima skala bergerak.

Hal itu dibandingkan dengan cara Myers-Briggs, yang melakukan hal serupa tapi lalu tetap menggunakan skala itu untuk memasukkan Anda ke kategori kepribadian tertentu.

Jadi suatu ketika jika ada orang yang menyebut mereka adalah orang Tipe A dan membual tentang dampak ciri dan sifat itu terhadap pencapaian mereka, jangan telan mentah-mentah klaim itu.

Kepribadian yang sesungguhnya di masa depan dalam tempat kerja akan berbeda, dengan lebih sedikit faktor biner Tipe A atau B. Sebaliknya, kepribadian akan menyesuaikan dengan lingkungan Anda berada.

“Orang yang memiliki pekerjaan yang sesuai dengan kepribadian mereka lebih bahagia dalam jangka panjang dan menunjukkan peforma yang lebih baik,” kata Matz.

“Ini bukan tentang menemukan orang yang yang tepat untuk suatu pekerjaan.”

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Capital dengan judul Why type A isn’t really a thing.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.