Mengapa orang Prancis tidak menunjukkan rasa semangat


sidewalk cafes in France

Hak atas foto
Tim Graham/Getty Images

Mengatakan ‘Je suis excité’ (Saya semangat) bukanlah cara yang tepat untuk menyampaikan rasa semangat dalam bahasa Prancis. Bahkan sepertinya tidak ada cara untuk menyatakannya dalam bahasa Prancis.

Ketika saya berumur 19 tahun, setelah lima tahun bolak-balik yang setiap kali durasinya semakin lama, saya akhirnya secara resmi pindah dari Amerika Serikat ke Prancis.

Sudah dipersenjatai dengan pemahaman bahasa yang cukup baik, saya tadinya yakin bahwa saya akan segera berasimilasi ke dalam budaya Prancis.

Tentu saja saya salah. Perbedaan budaya mengingatkan Anda siapa Anda pada dasarnya: ke-Amerika-an saya menjadi semakin jelas seiring semakin lamanya saya tinggal di Prancis.

Dan mungkin paling jelas saat seorang guru Prancis memberi tahu teorinya ke saya tentang perbedaan kunci antara mereka yang berasal dari tanah pribumi dan adopsi saya.

“Anda orang Amerika,” katanya, “hidup di faire [akan mengerjakan]. Avoir [akan memiliki]. Di Prancis, kita hidup di être [sedang]. “

Hak atas foto
DAMIEN MEYER/GETTY IMAGES

Image caption

Penulis Emily Monaco diberi tahu bahwa perbedaan utama antara orang Amerika dan Prancis adalah orang Prancis hidup di “être” (sedang, saat ini).

Saat dia mengatakannya, sangat masuk akal bagi saya. Saya memikirkan kembali kehidupan saya di New York, di mana setiap momen dihabiskan untuk memeriksa pekerjaan dari daftar yang harus dilakukan terus-menerus atau perencanaan untuk hari, minggu, dan tahun-tahun mendatang.

Namun di Prancis, orang-orang merasa sangat puas dengan hanya ada.

Selama dua jam istirahat makan siang, mereka duduk di kafe pinggir jalan dan menyaksikan dunia melewati mereka.

Isi basa basi bukan apa pekerjaan mereka, tetapi kemana mereka baru saja pergi berlibur.

Para perempuan yang bekerja di kantor pos mengobrol santai satu sama lain ketika antrian bertambah panjang, menikmati percakapan rekan kerja mereka sementara saya tidak sabar menunggu untuk membeli prangko sehingga saya dapat memenuhi kewajiban saya sendiri mengirim kartu pos ke rumah.

Saya sangat ingin berbaur dan tinggal di être, tetapi itu lebih sulit daripada yang terlihat.

Sepertinya apa pun yang saya lakukan, saya mengungkapkan jati diri saya sebagai orang Amerika.

Saya tersenyum terlalu banyak. Saya berbicara terlalu keras. Dan saya kadang terlalu bersemangat.

Hak atas foto
LUDOVIC MARIN/GETTY IMAGES

Image caption

Orang-orang menikmati sore yang cerah di taman Palais Royal di Paris.

Saya tahu sebelum saya pindah bahwa kata Prancis ‘excité’ itu dilarang. Ini adalah salah satu ‘teman palsu’ pertama yang disadari oleh seorang siswa bahasa.

Sebagian besar orang yang belajar bahasa Perancis dapat mengingat kembali hari ketika teman sekelasnya pertama kali mengucapkan kalimat ‘Je suis excité’ (yang secara harfiah diterjemahkan ‘Saya bersemangat’) akan membuat gurunya tidak nyaman dan kemudian menjelaskan bahwa kata excité tidak menandakan emosi melainkan fisik.

Terjemahan yang lebih pas kalimat ‘Je suis excité’ ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi ‘Saya terangsang’.

Bahasa Prancis tidak memiliki pasangan leksikal antara bersemangat/terangsang, jadi satu kata berarti keduanya. Excité secara teknis menunjukkan kegembiraan baik “obyektif (keadaan stimulasi) dan subjektif (perasaan),” menurut Olivier Frayssé, profesor Peradaban Amerika di Universitas Paris-Sorbonne, tetapi sensasi fisik adalah yang paling sering disiratkan.

“Jika ‘terangsang’ ada (dalam bahasa Prancis), tidak perlu menafsirkan ‘excité’ dengan cara ini,” jelasnya.

Orang yang berbahasa Inggris, sementara itu, diberkati dengan kedua kata, bebas untuk menggunakan kata ‘bersemangat’ sesuka kami – yang kami (terutama orang Amerika) lakukan dengan sembrono.

Kami bersemangat akan rencana akhir pekan kami, untuk liburan musim panas, untuk pulang setelah seharian bekerja dan bersantai menonton acara Netflix favorit kami.

Tetapi orang yang berbicara bahasa Inggris yang tinggal di Prancis tidak memiliki cara untuk mengekspresikan sentimen ini dalam bahasa negara baru kami.

Bertolak belakang dengan teman-teman palsu lainnya – seperti ‘Je suis pleine’, yang artinya bukan ‘saya penuh’ jika diterjemahkan secara harfiah, tetapi ‘saya hamil’, memaksa orang yang berbicara bahasa Prancis menggunakan frase seperti ‘J’ai assez mangé ‘(‘Saya sudah cukup makan’).

Namun untuk kalimat ‘Je suis excité’ sepertinya bukan hanya tak pas untuk menyampaikan semangat, tetapi tampaknya tidak ada cara untuk mengungkapkannya sama sekali.

“Saya biasanya mengatakan’ Je suis heureuse ‘[saya senang] atau’ J’ai hâte de ‘[saya tak sabar],” kata seorang teman yang dwibahasa.

Tidak cukup menangkap intensitas dari semangat, tetapi tampaknya ini adalah pengganti terbaik yang ditawarkan bahasa Prancis.

“Saya pikir saya cukup sering mengatakan saya bersemangat,” kata Dr Dwi Gemma, seorang Australia yang bilingual, yang mengajar bahasa Prancis dan sinema di Australian National University di Canberra, namun dia menambahkan bahwa ketika dia berbicara bahasa Perancis, artinya menjadi sangat berbeda.

“Murid-murid saya dan saya sering bercanda bahwa sisi kami yang lebih dingin, tenang, dan lebih berjarak keluar ketika kami berbicara bahasa Prancis,” katanya.

Hak atas foto
RAYMOND ROIG/GETTY IMAGES

Image caption

Sementara penutur bahasa Inggris sering terpaku pada masa depan, orang Prancis cenderung hidup lebih ke saat sekarang.

Ini bukan sekadar masalah terjemahan, melainkan masalah budaya. Seperti istilah-istilah lain yang tidak dapat diterjemahkan seperti kata shinrin-yoku dari bahasa Jepang (relaksasi yang didapat karena berada di alam terbuka) atau dadirri (pendengaran mendalam dan reflektif) dari bahasa Aborigin Australia, tampaknya orang Prancis tidak perlu mengekspresikan rasa semangat.

Bagi Julie Barlow, salah satu penulis The Story of Frenchand The Bonjour Effect asal Kanada, ini sebagian besar disebabkan oleh antusiasme yang tersirat dalam kata ‘bersemangat’, sesuatu yang tidak dicari dalam budaya Prancis.

Dia mencatat bahwa orang yang berbicara bahasa Prancis di Kanada, secara budaya lebih ke Amerika Utara daripada Perancis, sehingga menemukan kalimat baru -seperti ‘Ça m’enthousiasme’ (‘Ini membuat saya antusias’).

“[Orang Prancis] tidak menghargai kalimat positif dan gembira dalam percakapan yang sangat khas orang Amerika dan yang memang benar-benar dihargai,” jelas Barlow.

“Secara lisan,’ Saya sangat bersemangat ‘adalah semacam senyuman dalam kata-kata. Orang Prancis lebih suka terlihat sebagai orang negatif, dengan refleks. Suami Prancis saya setuju.

“Jika Anda terlalu bahagia dalam bahasa Prancis, kami penasaran apa yang salah dengan Anda,” katanya. “Tapi dalam bahasa Inggris, itu tidak benar.”

Hak atas foto
CHARLY TRIBALLEAU/GETTY IMAGES

Image caption

Terjemahan yang lebih pas kalimat ‘Je suis excité’ ke dalam bahasa Indonesia akan menjadi ‘Saya terangsang’.

Namun bagi sebagian orang, tidak selalu kesan negatif yang dicari orang Prancis, tetapi jarak.

“Saya pikir ada hubungannya dengan budaya mengapa ada jarak yang lebih besar yang cenderung ditampilkan orang Prancis dalam percakapan sehari-hari,” kata Dr King.

“Dari sudut pandang saya, bukan berarti mereka kurang antusias, tetapi mungkin kurang investasi emosional dalam hal-hal yang mereka sukai.”

Memang, orang-orang yang tidak mampu menunjukkan keterikatan emosional yang tepat dalam masyarakat Prancis bahkan dapat dianggap semacam gila, sesuatu yang dicontohkan lewat pelabelan ke mantan Presiden Nicolas Sarkozy sebagai ‘l’excité’, karena gairah yang dia tunjukkan di depan publik.

Hak atas foto
AFP/GETTY IMAGES

Image caption

Orang Prancis tidak mengekspresikan rasa semangat mereka.

Matt Jenner, seorang Amerika, tinggal di Prancis selama beberapa tahun dan bilingual.

Baginya, bukan masalah orang Prancis tidak mampu mengekspresikan rasa semangat mereka, tetapi lebih bahwa penutur bahasa Inggris – dan orang Amerika khususnya – cenderung berlebihan.

Publik Amerika, katanya, telah dilatih “untuk memiliki pandangan kehidupan yang palsu, menyerupai kartun, di mana semangat dan kebahagiaan palsu adalah norma.”

Sebagai perbandingan, ia melihat, di Prancis, “rasa semangat biasanya hanya ditampilkan ketika itu benar-benar berarti.”

Sifat autentik penting bagi orang Prancis sejak Revolusi Prancis, menurut Brice Couturier di France Culture.

“The Ancien Régime (era monarki sebelum Revolusi Prancis), memang telah memupuk budaya istana, berdasarkan seni penampilan dan bertutur manis,” katanya.

“Budaya ini menyiratkan sebuah penguasaan kode perilaku pada saat itu, serta kemampuan untuk menyembunyikan emosi sejati seseorang.”

Reaksinya, lanjut Couturier, kaum revolusioner Prancis melawan balik topeng-topeng dan kemunafikan ini – sesuatu yang dipertahankan oleh orang Prancis hingga saat ini dengan mengekspresikan emosi mereka sejujur mungkin untuk menghindari munculnya emosi yang tidak otentik.

Kecenderungan ini adalah sesuatu yang membuat saya kesal ketika saya pertama kali menyadarinya: teman-teman Prancis saya mengatakan bahwa hidangan yang mereka coba di restoran “cukup enak”, atau mengangkat bahu dengan santai ketika saya bertanya apakah mereka menantikan liburan mereka.

Sikap mereka menurut saya tidak perlu negatif begitu. Tetapi pada kunjungan pertama kami ke AS, suami saya membuka mata saya terhadap hiperbola Amerika yang agak dipaksakan.

Setelah pelayan kami dengan riang menyambut kami di sebuah restoran, suami saya bertanya apakah dia adalah teman saya; dia tidak bisa memikirkan alasan lain mengapa sambutannya begitu antusias.

“Saya biasa menilai orang Amerika karena saya pikir mereka selalu terlalu heboh, selalu memiliki reaksi yang tidak sepadan,” katanya kepada saya beberapa tahun kemudian.

Meskipun sekarang, dia menambahkan, “Saya merasa seperti saya memiliki dua dunia di kepala saya, satu dalam bahasa Prancis dan satu lagi dalam bahasa Inggris. Saya merasa dunia bahasa Inggris jauh lebih menyenangkan daripada dunia bahasa Prancis.”

Hak atas foto
AFP/GETTY IMAGES

Image caption

Orang Prancis mengekspresikan emosi mereka sejujur ​​mungkin untuk menghindari penampilan tak autentik.

Setelah 11 tahun hidup di Prancis, keinginan bawaan saya untuk mengatakan “Je suis excitée” telah memudar.

Tapi saya masih terpaku pada gagasan bahwa orang Prancis tinggal di être.

Ketika kami pertama kali berkencan, suami saya sering menonton saya sibuk seperti lebah, membuat rencana ke depan.

Sementara itu dia mampu menemukan, bukan semangat, tetapi kepuasan, dalam hampir segalanya.

Mottonya yang sering ia lontarkan, saat minum anggur rosé saat matahari bersinar atau hanya duduk di taman, adalah: “on est bien, là” – kita oke, di sini.

Rasa semangat, lagipula, memiliki konotasi pemikiran ke depan, menyiratkan masa depan. Di mana-mana dalam budaya orang berbahasa Inggris, budaya yang membuat sering berpikir tentang rencana yang akan datang atau jauh, tentang tujuan dan mimpi, ini tak begitu tampak di orang-orang Prancis yang, sebaliknya, cenderung hidup pada saat ini.

Bukan berarti mereka tidak memikirkan masa depan tetapi mereka tidak terpaku pada masa depan. Mereka menganggapnya di pikiran, tetapi emosi mereka ada di masa sekarang.

Hak atas foto
CHARLY TRIBALLEAU/GETTY IMAGES

Image caption

Ketika seseorang hidup pada saat ini, tidak perlu memikirkan – atau bersemangat akan – apa yang terjadi selanjutnya.

“Kehidupan di Prancis membuat Anda bahagia dalam suasana saat ini,” kata penulis yang tinggal di Paris, Matthew Fraser, kepada The Local, “tidak seperti di negara-negara Anglo-Protestan di mana segala sesuatunya berjalan menuju masa depan.”

Rasa semangat yang mendorong orang-orang penutur Inggris untuk bertindak, yang memotivasi dan mendorong kami untuk melihat ke depan, hampir tidak ada di Prancis.

Tapi joie de vivre (kebahagiaan hidup) dan kepuasan dalam kesenangan sederhana tentu saja ada.

Dan ketika seseorang hidup pada saat ini, tidak perlu memikirkan – atau bersemangat akan – apa yang terjadi selanjutnya.

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris pada BBC Travel dengan judul Why the French don’t show excitement



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.