Mengapa film Seven Samurai dianggap sebagai film terbaik?


Seven Samurai

Hak atas foto
Getty Images

Film Seven Samurai (1954) karya Akira Kurosawa adalah epik hitam-putih berdurasi tiga setengah jam, berlatar belakang Jepang yang porak poranda setelah perang pada abad ke-16.

Film ini kemudian bertengger di tempat pertama dalam daftar 100 besar film berbahasa asing versi BBC Culture, dengan 41 kritikus (20 persen dari total) memilihnya sebagai film terbaik.

Kurosawa adalah salah satu sutradara yang paling populer, dengan tiga filmnya yang lain (Rashomon, Ikiru, dan Ran) masuk dalam daftar 100 besar.

Bagaimanapun, daya tarik global Kurosawa tidak mampu menggaet minat kritikus Jepang yang ikut serta dalam jajak pendapat ini; tidak satu pun dari mereka memilih Seven Samurai, atau film Kurosawa lainnya. Mereka lebih memilih bakat dalam negeri yang lebih subtil, yakni Yasujir├┤ Ozu dan Kenji Mizoguchi.

Tapi mungkin itulah yang seharusnya kita harapkan. Bahkan selama tahun-tahun pembuatan filmnya yang paling sukses, Kurosawa lebih dihargai di luar negeri daripada di negerinya sendiri.

Dia adalah sutradara Jepang pertama yang memenangkan pengakuan internasional ketika filmnya Rashomon dianugerahi Golden Lion di Festival Film Venice pada 1951.

Seven Samurai mendapatkan popularitasnya di barat, karena fakta bahwa banyak pemirsa baru pertama kali menyaksikan film Jepang.

Film ini memperkenalkan budaya yang asing namun menarik, dan dapat diakses oleh penonton yang selama ini dimanjakan oleh Hollywood.

Pada tahun-tahun berikutnya, Kurosawa cenderung mengecilkan antusiasmenya untuk film-film John Ford, tetapi prestasinya adalah menggabungkan konvensi-konvensi barat dengan perpaduan radikal baru dari genre Jepang: chambara (film permainan pedang) dan jidaigeki (drama periode).

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Akira Kurosawa adalah sutradara Jepang pertama yang memenangkan pengakuan internasional ketika filmnya Rashomon

Seven Samurai menanamkan kaitan narasinya sejak di awal film, ketika sekelompok bandit memutuskan untuk menunggu setelah panen sebelum merampok sebuah desa di pegunungan.

Seorang petani menguping rencana mereka dan menyampaikan kabar buruk itu kepada para penduduk desa. Setelah banyak perdebatan, mereka memutuskan untuk mempekerjakan samurai untuk melindungi mereka, namun karena mereka miskin, yang dapat mereka tawarkan untuk membayar sang samurai adalah beras.

Kita kemudian mengikuti perjuangan muskil delegasi desa untuk meyakinkan samurai yang tinggi hati, agar mau bergabung dengan perjuangan mereka.

Sebuah drama kecil terjadi ketika seorang pejuang veteran bernama Kambei (Takashi Shimura, salah satu aktor favorit Kurosawa) mengejutkan para penonton dengan mencukur jambulnya (simbol kebanggaan samurai), jadi dia bisa menyamar sebagai seorang biksu botak dan menyelamatkan seorang anak yang disandera oleh seorang pencuri.

Setelah Kambei yang berpengalaman itu mendukung penduduk desa, film ini menggambarkan adegan perekrutan tim, yang akan dicontoh, dan yang sekarang menjadi bagian wajib dari begitu banyak film aksi.

Satu demi satu, enam r┼Źnin (samurai yang tak bertuan) lainnya dibujuk untuk berpartisipasi dalam misi bunuh diri yang mungkin tidak akan memberi mereka uang maupun ketenaran. Seorang teman perang lama dari Kambei, seorang pemanah yang terampil, seorang rekan yang ceria, seorang guru pendekar pedang yang hanya ingin menyempurnakan seninya, seorang samurai muda yang ingin membuktikan kejantanannya.

Dan, akhirnya, ada Kikuchiyo (Toshiro Mifune, aktor favorit Kurosawa lainnya), seorang pria setengah gila yang mengaku sebagai anggota kelas samurai yang segera ketahuan sebagai fiksi. Mengabaikan cemoohan orang lain, dia ikut serta ketika mereka melakukan perjalanan kembali ke desa.

‘Kebencian dan kecurigaan’

Adegan berikutnya menunjukkan para samurai mengamati lanskap yang harus mereka pertahankan, melatih para petani menjadi kekuatan tempur, dan, dalam kasus samurai muda, jatuh cinta dengan seorang gadis desa yang disembunyikan ayahnya dari para pengunjung.

Semua orang memperlakukan Kikuchiyo sebagai seorang badut, tapi dialah yang menghilangkan rasa saling tidak percaya antara penduduk desa dan tamu mereka, mengungkapkan asal muasalnya sendiri sebagai putra seorang petani, dan menyampaikan beberapa kebenaran.

Ya, penduduk desa celaka dan tertipu, dan di masa lalu mereka mungkin telah membunuh samurai liar, tetapi mereka sendiri telah menjadi korban kelas ksatria, yang telah membakar rumah mereka, mencuri makanan mereka dan menculik perempuan mereka.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Kikuchiyo, yang dimainkan oleh aktor favorit Kurosawa, Toshiro Mifune, adalah pria setengah gila yang ternyata tidak segila kelihatannya.

Setelah semua adegan yang sangat teliti ini, serangkaian pertempuran terjadi. Pertempuran klimaks, basah kuyup oleh hujan deras, adalah keajaiban dari koreografi yang cemerlang: pejuang berlari ke sana kemari melalui lumpur, berlari kuda, tombak, panah, dan peluru yang kadang-kadang, yang membuat penonton merasa seperti di dalam film aksi ini.

Kita selalu tahu siapa orangnya, di mana semua orang, apa yang mereka lakukan dan -berkat spanduk infografis penuh gaya- berapa banyak bandit yang tersisa untuk dibunuh pada saat tertentu. Ada korban di antara samurai, dan juga, karena kita telah mengenal mereka, setiap kematian adalah pukulan.

Kurosawa membuat filmnya setelah Seven Samurai dengan gambar-gambar chambara lainnya, termasuk Yojimbo (1961) dan Sanjuro (1962).

Tetapi popularitasnya di Barat tampaknya berkonspirasi melawannya di tanah kelahirannya, di mana ada sejumlah kekecewaan dan kecurigaan; jika orang Barat menemukan film-film Kurosawa begitu menarik, mungkin ini berarti film-film itu tidak benar-benar otentik seperti persembahan sutradara Mizoguchi atau Ozu.

Di tengah gejolak artistik dari gelombang baru dan tandingan dari pertengahan 1960-an, dua film terakhir Kurosawa untuk Perusahaan Toho gagal, dan keengganannya untuk menurunkan versi produksi epik ke proyek-proyek yang lebih kecil membuatnya terhenti di udara dingin.

Pada tahun 1971 ia mencoba bunuh diri, dan tiga proyek berikutnya -Dersu Uzala (1975), Kagemusha (1980) dan Ran (1985)- berhasil dirilis berkat dukungan dari para pengagum di Uni Soviet, AS dan Prancis.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Popularitas Kurosawa di luar negeri tak sebanding dengan yang didapatnya di kampung halaman Jepang

Tapi sama seperti film samurai Kurosawa yang dipengaruhi oleh Hollywood barat, mereka pada gilirannya sangat berpengaruh pada bioskop di Barat.

Plot Seven Samurai telah didaur ulang tidak hanya di The Magnificent Seven -Hollywood membuat dua versi, satu pada tahun 1960, yang lainnya pada tahun 2016- tetapi juga dalam fiksi ilmiah (Battle Beyond the Stars dan Rogue One) dan animasi (A Bug’s Life).

The Hidden Fortress (1958) adalah inspirasi film Star Wars, dan Yojimbo (film ini adalah pengerjaan ulang novel Red Harvest karya Dashiell Hammett) dihidupkan kembali oleh Sergio Leone sebagai A Fistful of Dollars, yang menjadi awal mula kegilaan akan film spaghetti western.

Pengaruh yang tak tertandingi itu adalah tanda bahwa daya tarik Seven Samurai terletak pada emosi dan mitologi yang tidak hanya khusus untuk feodal Jepang, tetapi yang menyerang nilai-nilai universal.

Kurosawa mungkin, sampai taraf tertentu, menjadi nabi tanpa kehormatan di negerinya sendiri. Tapi, setelah lebih dari enam dekade, film terbesarnya tetap menjadi standar emas untuk film aksi yang menarik dan koheren.

Sapuan epik dan kemanusiaan yang ganas akan terus bergerak dan menggetarkan penonton di seluruh dunia untuk generasi mendatang.


Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini di Why is Seven Samurai so good? di BBC Culture



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.