Lipstick Untuk Difabel: Terapi percaya diri lewat tata rias


difabel

Image caption

Jennifer Tan: Difabel atau tidak, tata rias pada dasarnya sama: bisa memperlihatkan sisi cantik diri kita yang sudah ada.

Awalnya gerakan 1000 lipstick untuk difabel sebatas kampanye lewat akun sosial media. Seiring waktu berjalan, banyak yang tergerak untuk ambil bagian: berbagi lisptick untuk mempertebal rasa percaya diri perempuan.

Perempuan-perempuan berkebutuhan khusus ditantang juga untuk mengenal wajahnya, dan tampil percaya diri dalam setiap kesempatan, melalui tata rias.

“Dari make up (tata rias), saya belajar untuk percaya diri. Saya lahir ‘normal,’ tapi penyakit yang membuat saya jadi difabel,” kata Laninka Siamiyono, seorang difabel penggagas gerakan ‘Lipstick untuk difabel.’

“Bahwa semua perempuan terlahir cantik, dan punya hak yang sama untuk menjadi cantik,” tambah Laninka. Maka ia pun merangkul perempuan-perempuan berkebutuhan khusus dengan mengadakan kelas rias.

Laninka mengaku sempat kehilangan kepercayaan diri selama hampir 10 tahun, karena menderita Rheumatoid Arthritis, penyakit auto imun yang menyebabkan peradangan sendi, masa sulit bagi Laninka untuk tampil di muka publik.

“Saya malu untuk keluar rumah dengan kursi roda,” imbuh Laninka.

Pada suatu hari ia menyadari sesuatu: make up membantu Laninka untuk percaya diri saat berkursi roda. Saat Laninka melihat dirinya di depan cermin, lalu mencoba pensil alis pemberian temannya, dia merasa ada sesesuatu yang berbeda dengan tampilannya.

Image caption

Lipstick untuk difabel adalah gerakan yang digagas Laninka, membantu perempuan-perempuan berkebutuhan khusus agar percaya diri di tengah khalayak.

Sejak itulah kepercayaan dirinya terbangun. Dan ia pun ingin membagikan pengalaman dan ‘pencapaiannya’ dengan kaum difabel lain yang pernah menderita krisis percaya diri seperti dia.

Ia pun meluncurkan gerakan 1000 lipstick untuk difabel, dengan pertama-tama membuka kelas tata rias diri, yang diikuti 20 perempuan berkebutuhan khusus.

Selain kelas tata rias, Laninka mengumpulkan lipstick dari para donatur, rutin membagikannya kepada teman-teman yang berkebutuhan khusus di seluruh Indonesia.

Salah satu peserta, Johanna Caroline atau Jojo, sebelumnya tak mengenal cara berdandan untuk kesehariannya. Dia pernah ikut kelas serupa, namun tidak dikhususkan bagi orang-orang difabel.

“Agak canggung, saya berkursi roda sendiri, yang lain bisa jalan,” kata Jojo.

Kelas make up untuk difabel baru pertama kalinya ia ikuti. Dengan alat make up yang banyak di meja riasnya, Jojo coba memahami satu persatu kegunaannya.

“Sejujurnya saya nggak pernah make up, satu-satunya yang saya bisa adalah (membentuk) alis,” tambahnya. Bagi Jojo, merias bagian alis adalah keharusan bagi dirinya.

Image caption

Dalam merias wajah, membentuk alis adalah kewajiban bagi Johanna

Ia sapukan kuas bedak taburnya sebagai langkah terakhir untuk menyempurnakan riasannya.

Seskali tertawa, Jojo mengaku masih sering kebingungan dalam melakukan rias wajah.

Pemandu kelas tata rias, Jennifer Tan, yang hari itu ikut membantu jalannya kelas mengatakan bahwa baginya tidak ada bedanya ketika memandu kelas tata rias bagi yang berkebutuhan khusus atau tidak. Jennifer memilih untuk memandu tata rias untuk sehari-hari.

“Difabel atau tidak, make up itu pada dasarnya sama, membuat kita lebih bisa memperlihatkan sisi cantik diri kita yang sudah ada.” Kata Jennifer.

Bagi Jennifer, cantik itu tidak memilik standar. Dan merias wajah merupakan bagian keseharian siapa pun, bahkan tak hanya perempuan.

Dan bagi Laninka, merias diri juga menjadi medium untuk terapi, dan untuk membangun kepercayaan diri, membuka dunia baru. Yang lalu ia sebarkan ke sesama penyandang difabilitas.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.