Krisis Yunani, generasi milenial, dan epidemi pengangguran


Yunani

Hak atas foto
Getty Images/Christopher Furlong

Image caption

Ratusan ribu lulusan pendidikan tinggi Yunani bergelut dalam pasar tenaga kerja yang lesu pasca krisis finansial menerpa negara itu tahun 2008.

Areti Stabelou, warga Athena, menganggur sejak dia dan 24 rekannya diberhentikan dari pekerjaan di pusat kontak layanan, Juli lalu. Dia tak menyenangi pekerjaan itu: sukar dan menghabiskan energi.

“Saya menjalankan pekerjaan itu demi uang. Profesi itu tak memberi saya hal lain,” ujar Stabelou.

Ini adalah satu dari rentetan pekerjaan jangka pendek tak membutuhkan keterampilan yang dijalani perempuan 28 tahun itu sejak meraih gelar sarjana ilmu politik tahun 2011.

Sejauh ini Stabelou belum mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

“Saya ingin memiliki pekerjaan yang lekat dengan kreativitas. Ketika saya pertama kali lulus kuliah, saya ingin bekerja di bidang analisis politik atau lembaga non-profit,” ujarnya.

Namun orangtua Stabelou hijrah dari Athena. Akibatnya, ia membutuhkan penghasilan untuk bertahan hidup.

“Saya harus menopang hidup sendiri dan mendapatkan pekerjaan apapun yang saya bisa lakukan,” tuturnya.

Generasi milenial Yunani saat ini menghadapi salah satu pasar tenaga kerja terberat di antara negara berkembang.

Tingkat pengangguran sebesar 40% telah menjadi perbincangan di negara Mediterania itu hampir satu dekade sejak krisis finansial. Namun tak ada yang mengangkat isu tentang ketimpangan lapangan pekerjaan dengan tingkat pendidikan tenaga kerja.

Mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan, seperti Stabelou, kerap merasa terjebak dalam satu pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian tinggi.

Sejak awal krisis finansial menerpa Yunani pada 2008, upah minimum per bulan yang didapatkan hampir seluruh pemegang titel sarjana anjlok dari US$920 (Rp13,6 juta) menjadi US$690 (Rp10,2 juta).

Satu dari empat generasi milenial di negara itu masuk kategori miskin. Ini adalah satu dari sekian alasan setidaknya 250 ribu sarjana Yunani meninggalkan kampung halaman mereka untuk mencari pekerjaan di luar negeri, selama delapan tahun terakhir.

Hak atas foto
Areti Stabelou

Image caption

Areti Stabelou tetap opmitis akan segera mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Pengalaman Stabelou tak berbeda jauh dengan yang dialami banyak sarjana di Yunani sejak krisis.

Keluhan utama mereka bukanlah fakta bahwa mereka tak bisa mendapatkan pekerjaan, tapi tidak adanya pekerjaan yang menjamin masa depan, memberi upah layak atau yang sesuai dengan keahlian mereka.

Kondisi itu memaksa banyak sarjana bekerja sebagai bartender atau pramusaji atau menjalankan pekerjaan pemasaran seperti menyebarkan pamflet di jalanan.

Mayoritas pekerjaan itu tidak diumumkan ke publik. Ujungnya, tak terhitung sebagai bagian pekerjaan yang dianggap resmi.

Merujuk Michael Arghyrou, pengamat Yunani di Cardiff Business School, aktivitas ekonomi bawah tanah di negara itu berkisar satu pertiga dari seluruh kegiatan perekonomian mereka.

“Saya yakin sebagian besar kegiatan ekonomi yang tidak resmi itu melibatkan anak muda,” kata Arghyrou.

“Situasi ini mempengaruhi kesejahteraan anak-anak muda itu karena mereka tak merasa aman dan perekonomian negara pun turut terdampak,” ucapnya.

Stabelou mengakui, pengalamannya bergelut mencari pekerjaan yang stabil dan memuaskan menguras psikologinya.

“Dulu saya merasa sangat gugup dan pesimis terhadap masa depan. Dalam suatu ketika, saya sungguh depresi. Saya merasa tak memiliki kemampuan untuk berbuat apapun.” ujarnya.

Masa pengangguran terakhir Stabelou terasa lebih ringan karena ia tinggal bersama kekasihnya, yang mampu menanggung beban finansial dan psikologinya.

“Saya merasa kini saya punya waktu untuk benar-benar mencari tahu hal yang saya inginkan dalam kehidupan. Saya tak ingin pekerjaan yang terakhir kali saya lakukan,” kata Stabelou.

Hak atas foto
GETTY IMAGES/SAKIS MITROLIDIS

Image caption

Krisis finansial Yunani tak berdampak pada seluruh lapisan masyarakat negara itu, dari generasi muda hingga tua.

Belajar dari pengalaman

Sarjana lain yang sebelum ini memiliki ambisi ‘tradisional’ memutuskan mempelajari keterampilan lain seperti tata rambut dan tato.

Agapi Katsorchi (28), yang lulus tahun 2011 dengan gelar sarjana ilmu politik, mendalami keterampilan sebagai penata kuku setelah kesulitan mendapatkan pekerjaan berupah layak.

“Saya ingin karier yang kreatif dan memberikan inspirasi. Saya sebenarnya akan lebih bahagia jika meneruskan studi, tapi saya tak punya cukup uang.”

“Saya awalnya masih tetap optimis ketika krisis terjadi, tapi saat lulus saya sadar betapa situasi itu mempengaruhi masa depan saya,” ujar Katsorchi.

Pada musim panas tahun 2011, ketika ia lulus, rata-rata upah tenaga kerja di Yunani menurun hingga 13%. Pada saat yang sama dana talangan sebesar US$2,8 miliar disekapati dikucurkan untuk Yunani.

Bantuan ekonomi itu berdampak dan para pihak yang protes membuat negara itu berada dalam posisi ajeg.

“Saya dan teman-teman sangat penasaran mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan keilmuan kami, dan apakah pekerjaan itu nantinya bisa kami jalankan secara permanen.”

“Saya beruntung karena saya masih tinggal bersama orangtua, tapi mereka yang hidup sendiri akan menghadapi situasi berat,” ucapnya.

Hak atas foto
Agapi Katroschi

Image caption

Agapi Katroschi memutuskan mempelajari tata kuku setelah gagal memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.

Lima bulan setelah lulus, Katsorchi memperhatikan iklan kursus keterampilan menata kuku. Dua dari lima bulan itu dihabiskannya untuk pekerjaan tanpa keahlian.

Industri kecantikan masih menjadi satu dari sedikit industri yang berkembang di Yunani-fenomena yang dikenal sebagai ‘indeks lipstik’, yang banyak terjadi di negara yang ekonominya terguncang.

“Saya selalu suka menata kuku sendiri atau orang lain. Setelah saya mempelajarinya, saya sadar bahwa saya sebenarnya menyenangi pekerjaan ini.”

“Menurut saya ini pekerjaan kreatif dan saya mendapatkan upah yang layak,” ucapnya.

Para sarjana lainnya mempunyai kisah yang nyaris serupa. Salah satu teman Katsorchi yang bekerja sebagai penata kuku lulus dengan titel sarjana arkeologi.

Sementara itu, beberapa kelompok anak muda Yunani tidak melanjutkan pendidikan tinggi dan memutuskan untuk mencari uang selepas SMA.

Menyiasati masa depan

Beberapa anak muda Yunani yang menyaksikan krisis finansial mengungkapkan, ketika mereka remaja dan memulai pendidikan tinggi, mereka tahu suatu pekerjaan tidak akan menjadi hal yang meyakinkan.

Mereka lantas membuat rencana B, mencari cara untuk menciptakan peluang bagi mereka sendiri.

“Ayah saya menganggur selama beberapa tahun. Itu menyadarkan saya bahwa saya tidak bisa menunggu sampai lulus untuk mendapatkan pekerjaan.”

“Saya harus berupaya swadaya untuk diri sendiri, dan sedini mungkin,” kata Vasileios Karavasilis (25), pendiri perusahaan pengembang gim video, eNVy Softworks.

Solusi yang dibuat Karavasilis dan lima kawannya adalah belajar membuat gim video seiring ilmu teknik komputer yang tengah mereka tekuni.

“Masalah yang saya lihat, pemberi kerja menginginkan keterampilan praktis yang tak diajarkan universitas kepada Anda. Dan karena krisis terjadi, artinya perusahaan tak memiliki uang untuk melatih Anda,” ucapnya.

Hak atas foto
Vasileios Karavasili

Image caption

Vasileios Karavasili menjalankan perusahaan pembuat gim video untuk menyiasati pasar tenaga kerja Yunani yang lesu.

Karavasilis dan teman-temannya menghabiskan empat tahun mempelajari internet, mencari mentor, dan menghadiri sejumlah ajang di industri itu, sebelum eNVy mendapatkan klien pertama mereka.

“Sulit untuk tetap optimis saaat itu. Namun setelah kami mendapatkan satu klien, segala sesuatu seperti terus bergulir positif,” tuturnya.

Merancang bisnis atau mendapatkan cara yang tidak tradisional untuk menciptakan peluang, menurut Karavasili merupakan tren di antara pelajar dan sarjana belakangan ini.

“Lima tahun lalu, tak ada orang yang melakukannya.”

“Kini ada banyak organisasi pelajar mendorong orang-orang keluar dari cara pikir universitas, mengajari mereka mengembangkan keterampilan dan memberdayakan diri.”

“Saya rasa baik untuk mendorong hal ini, tapi kita juga perlu memberikan pemahaman bahwa jalan ini tidaklah mudah.”

“Walau dengan situasi yang terjadi saat ini, saya tidak berpikir kami punya pilihan lain,” kata Karavasili.

Hak atas foto
ARIS MESSINIS

Image caption

Krisis Yunani memicu beragam unjuk rasa yang diwarnai bentrok antara warga sipil dan aparat keamanan.

Menjalankan hal baru

Meski kini tengah menganggur, Stabelou merasa lebih optimis terhadap masa depan anak muda Yunani, dibandingkan satu atau dua tahun lalu.

“Saya melihat lebih banyak lowongan pekerjaan berkualitas, bukan hanya di pusat kontak atau pekerjaan pemasaran,” ucapnya.

“Sepuluh tahun terakhir adalah masa yang berat bagi generasi kami. Namun saya pikir anak muda harus tetap bertahan di Yunani dan memperbaiki situasi, termasuk untuk hidup kami,” ujarnya.

Yunani secara resmi keluar dari program dana talangan Agustus lalu dan pendapatan kotor nasional diprediksi meningkat hingga 2,32% tahun 2019. Perdana Menteri Alexis Tsipris berjanji memperbesar upah dan memotong pajak.

Walau demikian, Arghyrou tetap pesismis. Dia yakin Yunani masih sangat birokratis dan tidak cukup ramah terhadap pelaku usaha sehingga mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berdampak positif.

Namun di sisi lain Stabelou percaya, generasinya adalah kelompok yang mampu memajukan Yunani. “Seluruh hal buruk disebabkan generasi tua. Kamilah yang dapat membawa perubahan,” ucapnya.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris di BBC Capitaldengan judulWhat it takes to be young Greek and able to pay your bills.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.