Konflik Ukraina-Rusia: Poroshenko mendesak Nato mengirim armada kapal


A Ukrainian soldier mans the machine-gun of a vessel on the Azov Sea on November 28, 2018 in Mariupol, Ukraine

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Tentara Ukraina melakukan persiapan di Pelabuhan Mariupol di perairan Laut Azov, 28 November 2018.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko mendesak Nato agar mengirim armada kapalnya ke Laut Azov menyusul konfrontasi armada angkatan laut negara itu dengan Rusia di wilayah perairan Krimea.

Dia mengatakan kepada surat kabar Jerman, Bild, bahwa dia mengharapkan agar kapal-kapal Nato dapat dikerahkan ke wilayah itu “demi membantu Ukraina dan melakukan pengamanan”.

Pada hari Minggu lalu, Rusia menembaki tiga kapal Ukraina dan menangkap awak mereka di Selat Kerch di antara Laut Hitam dan Laut Azov.

Nato menyatakan “dukungan penuh” kepada Ukraina, walaupun negara itu bukan anggotanya.

Dan di tengah hubungan yang memburuk, Rabu (28/11), Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Poroshenko melakukan “provokasi” melalui kehadiran kapal-kapal perangnya demi kepentingan pemilu presiden Ukraina 2019.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko telah memberlakukan keadaan perang di 10 wilayah, sebagian berbatasan langsung dengan Rusia, selama 30 hari, sebagai tanggapan atas krisis tersebut.

Apa yang dikatakan Poroshenko?

Dalam wawancara dengan Bild, Poroshenko mengatakan, Vladimir Putin ingin “menduduki [Azov] laut”.

“Jerman adalah salah satu sekutu terdekat kami dan kami berharap negara-negara Nato merelokasi kapal-kapalnya ke Laut Azov guna membantu Ukraina dan memberikan keamanan,” katanya.

Hak atas foto
AFP

Image caption

President Poroshenko melakukan inspeksi terhadap kesiapan tentara Ukraina selama melakukan kunjungan ke Chernihiv, di wilayah utara Ukraina.

“Kami tidak bisa menerima langkah agresif Rusia. Pertama, kebijakannya soal Krimea, kemudian wilayah timur Ukraina, dan sekarang dia menginginkan Laut Azov. Jerman juga harus bertanya pada dirinya sendiri: Apa yang akan dilakukan Putin selanjutnya jika kita tidak menghentikannya?”

Sebelumnya, pimpinan Nato Jens Stoltenberg meminta Rusia agar membebaskan kapal-kapal serta personel Ukraina dan mengatakan Moskow harus menyadari “konsekuensi dari tindakannya”.

Dia mengatakan pihaknya akan terus memberikan “dukungan politik dan langkah praktis” kepada Ukraina.

Namun demikian, Nato belum menanggapi pernyataan terbaru dari Poroshenko tersebut.

Apa yang terjadi di Krimea?

Setidaknya tiga orang anggota angkatan laut Ukraina terluka ketika kapal penjaga perbatasan Rusia, FSB, menembaki dua kapal perang Ukraina.

Semenanjung Krimea kembali dikuasai oleh Rusia, yang semula wilayah otonomi dibawah kekuasaan Ukraina, pada 2014.

Ukraina mengirim kapal-kapal perangnya dari pelabuhan Odessa menuju Mariupol, sebuah pelabuhan Ukraina di laut Azov, saat mereka dihadang kapal-kapal penjaga perbatasan Rusia, FSB.

Kedua negara telah membuat kesepakatan tentang perbatasan perairan melalui perjanjian pada 2003, tetapi keputusan Rusia membuka jembatan melintasi Selat Kerch telah memunculkan ketegangan baru.

Ukraina mengatakan Rusia sengaja memblokade kota Mariupol dan pelabuhan lainnya, Berdyansk, untuk mencegah kapal-kapal mereka melewati Selat Kerch.

Sebanyak 24 anggota angkatan laut Ukraina yang ditangkap angkatan laut Rusia sudah dihukum penjara selama dua bulan setelah ditetapkan bersalah oleh pengadilan di Krimea.

Apa yang dikatakan Putin?

Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh Presiden Ukraina, Petro Poroshenko, merekayasa konfrontasi di lepas laut Krimea untuk mendongkrak popularitasnya menjelang pemilihan Maret 2019.

“Ia harus melakukan sesuatu untuk membuat situasinya lebih tegang,” kata Putin dalam acara forum investasi di Moskow, Rabu (28/11).

Padahal, menurutnya, kejadian antara angkatan laut kedua negara merupakan insiden pelanggaran wilayah perbatasan sehingga para petugas perbatasan Rusia menyita kapal-kapal Ukraina.

“Mereka menunaikan tugas militer. Mereka menjalankan tugas-tugas mereka yang sah dalam mengamankan perbatasan Rusia,” tambah presiden Rusia.

Di Ukraina, popularitas Poroshenko menurun berdasarkan sejumlah survei. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% pemilih yang memutuskan untuk memilihnya pada tahun depan.

Sementara, hampir 50% mengatakan mereka tidak akan memilihnya dalam keadaan apapun, demikian laporan surat kabar Kyiv Post.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Why tensions between Russia and Ukraine are so high

Putin menegaskan respon militer Rusia dalam insiden itu sudah tepat karena kapal angkatan laut Ukraina “masuk tanpa izin” ke perairan teritorial Rusia.

Adapun pemerintah Ukraina, Rabu (28/11), menerbitkan peta yang memperlihatkan bahwa tiga kapal Ukraina berada di luar perairan wilayah Krimea saat mereka ditangkap.

Apa reaksi dunia?

Negara-negara Barat menyatakan dukungan terhadap sikap pemerintah Ukraina.

Pada Rabu, Uni Eropa mengutuk tindakan Rusia, tetapi belum menyetujui untuk memberikan sanksi baru terhadap Rusia.

Dalam pertemuannya, Uni Eropa mengeluarkan pernyataan yang isinya “khawatir terhadap peningkatan ketegangan yang berbahaya” serta mempertanyakan penggunaan kekuatan militer Rusia yang dianggap “tidak dapat diterima”.

Mereka kemudian meminta Rusia agar melepaskan kapal-kapal Ukraina beserta awaknya dan menghormati kedaulatan wilayah Ukraina. Adapun Polandia menginginkan sanksi baru bagi Moskow, sementara Jerman dan Perancis menekankan perlunya upaya peredaan ketegangan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia dapat membatalkan pertemuan dengan Putin yang direncanakan digelar di sela-sela KTT G20 di Buenos Aires, Argentina, pada akhir pekan ini.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.