Koalisi militer Arab Saudi izinkan pengungsian pemberontak Houthi Yaman


Houthi rebels in Sanaa, 20 November 2018

Hak atas foto
AFP

Image caption

Yaman dilanda perang saudara sejak 2015.

Sebuah pesawat PBB akan mengevakuasi para pemberontak suku Houthi yang terluka dari Yaman, dalam upaya untuk membangun kepercayaan menjelang pembicaraan damai yang ambruk September lalu.

Hal ini dikatakan koalisi militer pimpinan Saudi yang memerangi para pemberontak.

Ke-50 pemberontak yang terluka tersebut akan diterbangkan dari Sanaa, ibu kota Yaman yang dikuasai pemberontak, untuk dirawat di Oman pada hari Senin (3/12).

“Sebuah pesawat yang disewa PBB akan tiba di bandara internasional Sanaa untuk mengevakuasi 50 pemberontak yang terluka … tiga dokter Yaman dan seorang dokter PBB, dari Sanaa ke Muscat,” kata seorang juru bicara koalisi.

Dia mengatakan langkah itu diusulkan oleh utusan khusus PBB untuk Yaman, Martin Griffiths, dan disetujui koalisi pimpinan Saudi sebagai langkah membangun kepercayaan menjelang pembicaraan damai di Swedia.

Pembicaraan yang disponsori PBB antara pemberontak dan pemerintah Yaman dukungan Saudi itu diperkirakan akan dimulai dalam beberapa hari mendatang.

PBB berusaha menghidupkan kembali perundingan antara pemerintah yang dipimpin oleh Presiden Abdrabbuh Mansour dan pemberontak Houthi yang didukung Iran yang menguasai sebagian besar wilayah utara.

Putaran pembicaraan sebelumnya di Jenewa ambruk bulan September lalu ketika kaum Houthi tidak muncul di ruang perundingan.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Menurut PBB, jika perang terus berlangsung, Yaman akan dilanda kelaparan terburuk yang dialami dunia selama 100 tahun terakhir.

Perang saudara Yaman telah menyebabkan salah satu krisis kemanusiaan terburuk sesudah Perang Dunia II.

Sejak hampir empat tahun perang di negeri itu, ribuan orang tewas dalam pertempuran dan jutaan orang menderita kelaparan sebagai akibatnya.

Mengapa terjadi perang di Yaman?

Yaman porak poranda oleh konflik yang meletus pada awal tahun 2015, ketika suku Houthi menguasai sebagian besar wilayah barat negara itu dan memaksa Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi melarikan diri ke luar negeri.

Cemas dengan munculnya kelompok Syiah yang mereka anggap sebagai kaki tangan Iran, maka Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan tujuh negara Arab lainnya campur tangan dalam upaya memulihkan pemerintah.

Sementara itu ribuan warga sipil terperangkap pula di pelabuhan Hudaydah yang dikuasai pemberontak.

Setidaknya 6.660 warga sipil telah tewas dan 10.560 orang terluka dalam perang saudara, menurut PBB. Dan ribuan warga sipil tewas karena sebab-sebab yang dapat dicegah, seperti kekurangan gizi, penyakit, dan kesehatan yang buruk.

Oktober lalu, Organisasi Kesehatan Dunia WHO memperingatkan bahwa belakangan ini setiap minggunya dilaporkan ada sekitar 10.000 kasus dugaan kolera.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.