Kelapa sawit: Perjuangan seorang perempuan Indonesia selamatkan ‘tempat terakhir di Bumi’


Farwiza Farhan

Hak atas foto
WFN

Image caption

Farwiza Farhan berjuang mempertahankan keanekaragaman hayati hutan Sumatra.

Hanya ada satu tempat di dunia di mana orangutan, badak, gajah dan harimau hidup berdampingan di alam liar.

Aktivis lingkungan Farwiza Farhan berjuang melindungi ‘surga terakhir dunia’ bernama Taman Nasional Gunung Leuser di Sumatra.

Pada 2012, yayasan nirlaba yang dia gawangi, Yayasan HAkA, menuntut perusahaan minyak kelapa sawit yang melakukan pembalakan hutan secara ilegal.

Farwiza mengatakan motivasinya adalah rasa ketidakadilan karena tidak ada yang membela alam liar.

Di dalam hutan hujan tropis…

“Bayangkan berdiri di bawah kanopi pepohonan lebat dan Anda lihat ke atas, Anda bisa mendengar burung rangkong terbang melintas. Kemudian Anda melihat sekitar dan Anda mendengar suara owa bergaung di seluruh hutan, menandai wilayah mereka.”

Hak atas foto
Paul Hilton

Image caption

Orang utan Sumatra jantan seperti ini hidup di Taman Nasional Gunung Leuser.

“Anda bisa melihat orangutan, ibu dan bayinya, bergelantungan dari satu pohon ke pohon lainnya. Selain itu, Anda juga bisa melihat kera ekor panjang yang berteriak-teriak. Tapi, dari momen ke momen, Anda juga bisa menikmati kesunyian hutan, di mana Anda tidak mendengar apapun, sebelum suara-suara itu kembali menghidupkan hutan,” cerita Farwiza.

Namun, bukan hanya soal keindahan hutan, Farwiza juga mengisahkan aktivitas yang membuatnya patah hati.

“Tapi di kejauhan, Anda juga bisa mendengar suara gergaji mesin meraung, suara penghancuran yang terus mendekat. Anda tahu ada sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk mencegah itu. Anda tahu, ada sesuatu yang bisa Anda lakukan untuk menghentikan gergaji mesin itu masuk lebih jauh ke dalam hutan,” paparnya.

Jatuh cinta pada alam

“Saya menjadi pegiat konservasi karena awalnya saya terlalu sering menonton program Blue Planet BBC. Saya jatuh cinta dengan lautan, dengan terumbu karang saat saya masih sangat belia, dan saya menetapkan bahwa inilah yang ingin saya lakukan dalam hidup saya.”

Hak atas foto
Paul Hilton

Image caption

Deforestasi di Indonesia terjadi pada tingkat yang mengkhawatirkan, menurut para aktivis dan pakar lingkungan.

“Kemudian, setelah saya lulus dari jurusan biologi kelautan, saya kembali ke lokasi terumbu karang yang membuat saya jatuh cinta pertama kali dan melihatnya hancur, semua karena perubahan iklim, dan itu membuat saya marah.”

“Jadi, dengan pikiran naif waktu itu, saya pikir, saya akan mencoba melindungi hutan. Mungkin itu lebih mudah, saya bisa memasang pagar di sekeliling hutan dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi, tentu saja saya terbukti salah, lagi dan lagi.”

Ancaman bagi ekosistem Leuser

“Ancaman utama ekosistem Leuser adalah tekanan dari eksploitasi dan pembangunan yang tidak berkelanjutan. Perusahaan besar yang ingin membuka perkebunan kelapa sawit – bisnis perkebunan yang paling menguntungkan di dunia – adalah ancaman yang bisa merusak ekosistem rawan ini.

Hak atas foto
WFN

Image caption

Penduduk lokal mendapat penyuluhan untuk ikut serta melindungi hutan.

“Ketika berkaitan dengan minyak kelapa sawit, itu menjadi masalah yang kompleks. Sulit untuk sekedar mengatakan, ‘jangan beli kelapa sawit’ atau ‘belilah minyak kelapa sawit yang berkelanjutan’ atau ‘ayo boikot produk kelapa sawit’.

“Cara pandang kita terhadap kelapa sawit adalah, itu produk yang menguntungkan, dan bagaimana permintaan akan kelapa sawit terus mendorong ekspansi.”

“Permasalahan utama dengan kelapa sawit adalah pengaturan oleh pemerintah, tentang bagaimana konsumen di dunia bisa mendorong produksi kelapa sawit bebas konflik, lewat cara konsumsi mereka. Karena kita sering kali mencari jalan pintas, kita menginginkan produk yang berkelanjutan, tapi tidak mau membayarnya.”

Apa yang bisa dilakukan konsumen?

“Kita hidup di era informasi. Di masa lalu, saya bisa bilang lebih banyak membaca atau cari lebih banyak informasi. Kini, saya menganjurkan orang-orang untuk mencari lebih banyak pengalaman dengan mengunjungi hutan yang terus menghilang.”

“Pergi ke tempat seperti Sumatra, hutan Amazon, Madagaskar. Tempat-tempat itu mendapat ancaman besar karena eksploitasi termasuk oleh perkebunan kelapa sawit.

“Jika Anda datang ke tempat-tempat itu dan melihatnya langsung dan mendengar apa yang terjadi, Anda akan punya rasa keterkaitan yang kuat untuk melakukan sesuatu terhadap kelapa sawit dan deforestasi,” ukar Farwiza Farhan.

Farwiza Farhan memenangkan Whitley Awardpada 2016 untuk upaya konservasi yang dia lakukan.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.