‘Kekhalifahan ISIS’ runtuh hancur lebur: Lalu apa?


Iraqi soldiers hold an Islamic State banner upside down in front of the ruins of the al-Nuri mosque in Mosul (June 2017)

Hak atas foto
AFP

Image caption

Sebagian tentara Irak memamerkan bendera kelompok yang menyebut dirinya Negara Islam (ISIS) setelah menguasai kembali Mosul pada Juli 2017.

Aliansi yang didukung AS dari para pejuang Kurdi Suriah dan Arab makinmendekati kantong terakhir wilayah di Suriah timur yang dikuasai oleh kelompok jihad yang menamakan diri Islam Negara (ISIS).

Empat tahun yang lalu, kaum militan ISIS menyerbu banyak wilayah Suriah dan tetangganya Irak, memproklamirkan pembentukan ‘kekhalifahan’, dengan khalifah Abu Bakar al Baghdadi, dan memaksakan pemerintahan brutal mereka pada hampir delapan juta orang.

Sekarang, mereka hanya menguasai sekitar 1% dari wilayah yang pernah mereka kuasai.

Betapa pun, militer AS memperingatkan bahwa kendati para jihadis berada “dalam pergolakan penghabisan ambisi jahat mereka”, tetap saja “mereka belum sepenuhnya dikalahkan”.

Antara 1.500 hingga 2.000 militan diperkirakan masih bersembunyi di daerah di sekitar kota Hajin, di Lembah Sungai Eufrat Tengah, Suriah. Di kawasan itu, menurut AS, terjadi berbagai pertempuran paling sengit selama lebih dari satu tahun.

Bagaimana ISIS kehilangan kekhalifahannya

Kampanye militer untuk mendorong ISIS keluar dari Irak dan Suriah menelan ribuan nyawa dan jutaan orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka.

Di Suriah, pasukan yang setia kepada Presiden Bashar al-Assad memerangi kelompok jihadis dengan bantuan serangan udara Rusia dan milisi yang didukung Iran. Sementara sebuah koalisi multinasional pimpinan AS mendukung aliansi Demokrat Suriah (SDF) yang didominasi suku Kurdi dan beberapa faksi pemberontak.

peta kekuasaan ISIS

Di Irak, pasukan keamanan didukung oleh koalisi pimpinan AS dan pasukan paramiliter yang didominasi oleh Mobilisasi Rakyat, sebuah kelompok milisi dukungan Iran.

Koalisi pimpinan AS, yang mencakup pasukan Australia, Bahrain, Prancis, Yordania, Belanda, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab dan Inggris, mulai meluncurkan serangan udara terhadap posisi-posisi ISIS di Irak pada Agustus 2014. Koalisi serangan udara terhadap ISIS di Suriah dimulai sebulan kemudian.

Sejak saat itu pesawat-pesawat yang dikerahkan sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve telah melakukan lebih dari 13.400 serangan udara di Irak dan lebih dari 16.100 di Suriah.

peta serangan udara anti ISIS

Rusia bukan bagian dari koalisi, tetapi jet-jet tempur mereka mulai melancarkan serangan udara terhadap apa yang disebut ‘teroris’ di Suriah pada September 2015 untuk membantu pemerintahan Presiden Assad.

Kementerian pertahanan Rusia melaporkan pada Agustus 2018, bahwa pasukannya telah melancarkan 39.000 serangan udara di Suriah sejak 2015, menghancurkan 121.000 ‘sasaran teroris’ dan menewaskan lebih dari 5.200 anggota ISIS.

Direbutnya lagi kota-kota penting

Kemajuan awal dalam kampanye koalisi pimpinan AS terhadap ISIS antara lain direbutnya kembali kota Ramadi, ibukota provinsi Anbar di Irak, oleh pasukan pro-pemerintah Irak pada Desember 2015.

Direbutnya kembali Mosul, kota terbesar kedua Irak pada bulan Juli 2017 dilihat sebagai terobosan besar bagi koalisi, tetapi pertempuran 10 bulan untuk merebut kota itu menyebabkan ribuan warga sipil tewas dan lebih dari 800.000 lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka di kota itu.

Pada bulan Oktober 2017, kota Raqqa, yang oleh ISIS disebut ‘ibukota kekhalifahan,’ jatuh ke tangan SDF dengan dukungan serangan udara koalisi, mengakhiri tiga tahun pemerintahan ISIS di kota itu.

Setelah empat bulan pertempuran, ribuan tentara ISIS diizinkan meninggalkan kota itu di bawah kesepakatan dengan para pejabat Suriah, tetapi dengan pengetahuan Pasukan Demokratis Suriah, sebuah aliansi pejuang Kurdi dan Arab serta koalisi pimpinan AS.

Fighters from the Syrian Democratic Forces attend a funeral of fellow fighters

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pasukan Aliansi Pasukan Demokratik Suriah yang didukung pasukan aliansi pimpinan AS.

Bulan berikutnya, tentara Suriah menguasai lagi kota Deir al-Zour, dan pasukan Irak merebut kembali kota al-Qaim yang terletak di perbatasan.

Ribuan orang terbunuh

Belum ada angka yang pasti untuk jumlah yang tepat dari korban perang menumpas ISIS.

The Syrian Observatory for Human Rights, kelompok pemantau HAM yang berbasis di Inggris, mencatat bahwa sejak perang saudara di Suriah dimulai pada tahun 2011, setidaknya 364.792 orang tewas, termasuk 110.687 warga sipil.

tiga kota kubu ISIS sasaran serangan

Presentational white space

Sementara PBB mencatat setidaknya 30.839 warga sipil tewas dalam aksi terorisme, kekerasan dan konflik bersenjata sejak 2014.

Namun, Irak Body Count, sebuah organisasi yang dikelola oleh para akademisi dan aktivis perdamaian, mencatat bahwa jumlah korban sipil lebih dari 70.000 orang.

Bagaimana IS muncul dan menyebar

Para jihadis mengeksploitasi kekacauan dan perpecahan di dalam negeri Suriah dan Irak.

ISIS awalnya merupakan pecahan al-Qaeda di Irak, dibentuk oleh militan Arab Sunni setelah invasi pimpinan AS pada tahun 2003, dan menjadi kekuatan utama dalam pemberontakan di negara itu.

Pada tahun 2011, kelompok yang sekarang dikenal sebagai Negara Islam di Irak (ISI) – bergabung dengan pemberontakan melawan Presiden Assad di Suriah, dan di sana mereka ia menemukan tempat berlindung yang aman dan akses mudah terhadap persenjataan.

Pada saat yang sama, mereka mengambil keuntungan dari penarikan pasukan AS dari Irak, serta kemarahan Sunni yang meluas atas kebijakan sektarian pemerintah yang didominasi Syiah.

Pada tahun 2013, ISI mulai merebut kekuasaan di beberapa wilayah Suriah dan mengubah namanya menjadi Negara Islam di Irak dan Levant (ISIS, atau ISIL).

Map showing different areas of control in Iraq and Syria in Jan 2015

Presentational white space

Tahun berikutnya, ISIS menyerbu sejumlah wilayah besar Irak utara dan barat, memproklamasikan pembentukan ‘kekhalifahan’, dan kemudian menyebut diri sebagai Daulah Islamiyah, atau ISIS, dan dikenal juga dalam sebutan lain, DAESH.

Dalam perkembangan berikutnya, mereka merangsek ke wilayah yang dikuasai oleh minoritas Kurdi Irak, dan melakukan pembunuhan dan perbudakan terhadap ribuan warga Yazidi, mendorong koalisi pimpinan AS untuk memulai serangan udara terhadap posisi ISIS di Irak pada Agustus 2014.

Jutaan pengungsi menyebar

Sedikitnya 6,6 juta warga Suriah telah mengungsi ke wilayah lain di negara itu, sementara 5,6 juta lainnya melarikan diri ke luar negeri – lebih dari 3,5 juta di antaranya mencari perlindungan di Turki, hampir satu juta di Libanon dan hampir 700.000 di Yordania.

Banyak warga Suriah mencari suaka di Eropa, terutama Jerman.

Di Irak, jumlah orang yang terusir dari rumah mereka jumlahnya untuk pertama kalinya sejak Desember 2013, menurun hingga di bawah 2 juta.

tujuan kaum pengungsi Suriah

Presentational white space

Pada September 2018, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan hampir empat juta orang telah kembali ke kampung halaman mereka.

Tapi PBB melaporkan bahwa kurangnya lapangan kerja dan hancurnya properti dan terbatasnya akses ke berbagai layanan, membuat banyak orang masih belum kembali ke rumah masing-masing.

Bagaimana ISIS setelah ini?

Sebuah laporan AS baru-baru ini mengatakan masih ada 14.000 militan ISIS di Suriah dan 17.100 militan ISIS di Irak, di kawasan-kawasan yang sudah tidak lagi mereka kuasai sepenuhnya.

Selain itu, para ahli PBB memperkirakan bahwa masih ada pula kantung besar militan ISIS di berbagai negara lain, seperti di Libya (antara 3.000 hingga 4.000 orang) dan Afghanistan (sekitar 4.000 orang).

Kelompok ini juga memiliki militan dalam jumlah yang tidak sedikit di Asia Tenggara, termasuk sejumlah pendukung di Indonesia, Afrika Barat, Semenanjung Sinai Mesir, Yaman, Somalia, dan Sahel.

Group of people walking along a road

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Sebagian pengungsi Suriah yang melarikan diri dari wilayah yang dikuasai ISIS atau kelompok yang menamakan dirinya Negara Islam.

Di Irak dan Suriah banyak militan mengubah taktik dengan kembali ke akar pemberontakan mereka, yakni melakukan pemboman, pembunuhan dan penculikan, sembari mencoba untuk membangun kembali jaringan mereka.

Ada pula individu-individu yang terinspirasi oleh ideologi kelompok itu, lalu melakukan berbagai serangan di Eropa dan di tempat lain.

Hasil penelitian pada bulan Oktober 2017 oleh kelompok intelijen strategis yang berbasis di New York, Soufan Center, memperkirakan bahwa sekitar 5.600 petempur ISIS telah kembali ke kampung halaman mereka di 33 negara di seluruh dunia.

Yang terbesar, sekitar 900 orang, telah kembali ke Turki. Sementara sekitar 1.200 orang telah kembali ke Uni Eropa – antara lain 425 orang ke Inggris, dan sekitar 300 pulang ke Jerman dan 300 lainnya kembali ke Perancis.

Ratusan petempur asing lainnya sudah ditangkap dan masih ditahan oleh SDF di kawasan Suriah timur laut yang dikuasai Kurdi. Amerika Serikat menyerukan negara-negara lainnya untuk membawa pulang warga negara mereka yang bergabung dengan ISIS, untuk diadili.

.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.