John Allen Chau: Apakah para penginjil melayani Tuhan atau ‘main-main jadi Tuhan’?


misionaris

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Bagaimana seharusnya dunia memandang tindakan para misionaris?

“Ibu dan ayah, mungkin kalian akan menganggap saya gila soal ini … Tapi saya rasa merupakan hal yang layak untuk mengabarkan tentang Yesus kepada orang-orang ini.”

Begitulah antara lain yang tertera dalam surat terakhir yang dikirim John Allen Chau kepada orang tuanya sebelum dia dibunuh oleh penduduk Pulau Sentinel Utara, pekan lalu.

Meskipun dia resminya bukan seorang misionaris, Chau jelas mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk membawa Injil ke suku Sentinel itu.

Dan langkahnya ini membuat ratusan ribu penginjil di seluruh dunia menjadi sorotan.

Siapakah para misionaris ini? Apa yang ingin mereka capai?

Apakah mereka membangun hal yang positif di seluruh dunia, atau justru mengganggu bahkan membahayakan hidup manusia lain?

Apa itu misionaris?

Sebagian besar agama—apapun itu—telah mengirimkan pendakwah ke seluruh penjuru dunia. Tapi tidak ada yang lebih luas rambahannya dan lebih dikenal dibanding para misionaris Kristen.

Misionaris dari semua aliran Kristen mengutip sebuah ayat dalam Alkitab, persisnya dalam Injil Matius, yang menyebutkan Yesus memerintahkan penginjilan: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Kaum misionaris Kristen menjelajahi berbagai belahan bumi sejak berabad-abad lalu, termasuk di Amerika Utara pada abad ke-17.

Ayat ini dikenal sebagai Amanat Agung, dan dianggap sebagai bagian dari sejumlah perintah terakhir Yesus kepada murid-muridnya sebelum naik ke surga.

Orang-orang religius sering berada di garda depan berbagai gerak kolonialisme. Menyebarkan agama dilihat sebagai cara untuk membuat orang-orang di luar Eropa dan Amerika Serikat—dalam konteks Kristen—menjadi ‘beradab’.

Seiring waktu, hal ini berkembang secara fisik maupun spiritual.

“Kendati kasus (Sentinel) ini bisa menjadi pemicu untuk percakapan luas tentang proyek-proyek penginjilan, John Chau bukanlah sosok yang mewakili misi penginjilan,” kata David Hollinger, pensiunan profesor emeritus di University of California di Berkeley, kepada BBC. “Dia merupakan anomali.”

“Kaum evangelis memang masih melakukan penginjilan (berusaha untuk meyakinkan orang lain untuk menjadi Kristen), tetapi mereka sekarang juga membangun rumah sakit dan sekolah,” katanya.

“Banyak yang memiliki proyek layanan (masyarakat) yang sangat kuat.”

Hak atas foto
Thierry Falise/LightRocket via Getty Images

Image caption

Foto dokumentasi tentang Allan Eubank, seorang misionaris Kristen dari Amerika, dalam upaya penginjilan di suku Talakon, Thailand, menggunakan gambar untuk membahas konsep dosa dan godaan iblis.

Menurut data Centre for the Study of Global Christianity, AS, pada tahun 2018 terdapat 440.000 misionaris Kristen yang melakukan penginjilan di luar negeri.

Angka ini meliputi para penginjil Katolik, Protestan, Kristen Ortodoks dan kelompok-kelompok seperti Saksi Yehuwa dan Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (Gereja LDS), yang dikenal sebagai Mormon.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Siapa Suku Sentinel yang membunuh misionaris Amerika?

Gereja LDS Mormon adalah salah satu dari sedikit yang menjalankan program misionaris terpusat.

Para misionaris Mormon sendiri berjumlah hampir 66.000 orang yang tersebar di seluruh dunia dan selama perjalanan sejarahnya, Mormon telah mengirimkan lebih dari satu juta misionaris.

Pada tahun 2017, gereja Mormon mengatakan bahwa para misionaris mereka telah membaptis 233.729 pengikut baru.

Apa yang dilakukan para misionaris?

John Allen dan istrinya, Lena – seorang bidan dan perawat – telah bekerja sebagai misionaris Kristen di Papua Nugini selama 15 tahun.

Mereka “berusaha untuk mempromosikan nilai-nilai Kristen dan model Injil transformasional,” kata Allen kepada BBC melalui email.

Hak atas foto
SAJJAD HUSSAIN/AFP/Getty Images

Image caption

Seorang anggota sebuah suku asli di India memprotes misionaris Kristen, dalam sebuah unjuk rasa beberapa tahun lalu di New Delhi.

“Ini bukan tentang membuat orang jadi beriman pada apa yang kami imani,” tulisnya.

“Ini tentang bagaimana orang-orang melihat sendiri, dari Alkitab, bahwa Tuhan memiliki rencana bagi umat manusia secara umum dan semua orang secara khusus.”

Pasangan Amerika itu mendirikan sebuah klinik medis 10 tahun yang lalu untuk membantu orang-orang Kamea di Gulf Province, tempat mereka tinggal.

Lima warga negara PNG dan tiga perawat Amerika bekerja bersama mereka di Pusat Kesehatan Kunai. Selain mengobati yang sakit dan merawat yang luka, tim ini membuat sejumlah program yang diperuntukkan bagi-ibu hamil dan bayi yang baru lahir.

Allen mengatakan pasangan itu fasih dalam bahasa perdagangan di sana, Tok Pisin, dan sedang mempelajari bahasa Kamea – sebuah dialek lisan sampai akhirnya pada 2009 pasangan itu mulai membuatnya menjadi bahasa tulisan.

“Sangat sulit untuk mempelajarinya, karena mereka yang menulis sekaligus mendokumentasikannya,” kata Allen. “Dari apa yang kami ketahui … tidak ada orang luar yang sudah benar-benar lancar (bahasa Kamea ini).”

“Tidak semua layanan misi seperti ini; tergantung pada apa yang kita lakukan,” ia menjelaskan.

Andrew Preston, profesor sejarah Amerika di University of Cambridge, mengatakan bahwa secara historis, banyak misionaris berada di garis depan dalam mempelajari bahasa.

“Sekarang sudah berkurang dibandingkan dulu,” katanya kepada BBC.

“Tapi 100 tahun yang lalu, para misionaris adalah satu-satunya pihak yang menguasai dengan lancar berbagai bahasa, tidak hanya bahasa Afrika atau bahasa Asia yang masih belum mapan, tapi juga bahasa Cina dan Jepang.”

Hak atas foto
Leemage/Corbis via Getty Images

Image caption

Bartolome de las casas (1484-1566), seorang padri Spanyol dari Ordo Dominikan dalam sebuah penginjilan suku Indian Amerika. Gambar dari Les anges de la terre karya Saintes, 1844.

Menurut Allen, adat setempat baginya merupakan “pengalaman belajar yang terus-menerus,” dan mereka sangat berkomitmen melakukannya.

“Cara terbaik untuk belajar tentang orang adalah duduk di atas tanah bersama mereka, menyantap makanan mereka bersama-sama, tidur di pondok mereka bersama-sama, bersukacita dalam kegembiraan mereka bersama-sama, dan memikul beban hidup mereka bersama-sama,” katanya.

“Saat itulah Anda mulai menghargai keluarga baru Anda dan mulai memandang budaya mereka melalui mata mereka.”

Lain lagi dengan Scott dan Jennifer Esposito, yang bekerja sebagai misionaris yang tak terikat gereja apa pun di Nikaragua. Mereka mengelola lahan pertanian, program olahraga, dan kelompok belajar Alkitab untuk menyebarkan iman mereka.

“Kami secara konstan memberitakan Injil,” kata Scott kepada BBC melalui telepon. Pasangan itu sengaja tidak menghitung berapa banyak yang berhasil mereka Kristenkan, tetapi memperkirakan sekitar 800 hingga 1.200 orang telah menjadi pengikut dalam enam tahun terakhir.

“Setiap jiwa berarti,” kata Scott. “Ketika Anda mulai menghitung dan menetapkan tujuan, katakanlah, Anda menginginkan 500 orang, Anda akan menjadi sangat berorientasi pada sasaran dan jumlah, sehingga meluputkan satu orang yang mungkin membutuhkan waktu penginjilan yang lama.”

Apa bedanya mereka dengan John Chau?

“Ketika cerita John Chau sampai di sini, rasanya seperti, ‘Wow, kami juga pernah berpikir untuk melakukan hal itu’,” John Allen, sang misionaris, berkata kepada BBC melalui email.

Menurutnya dia pribadi tidak berpikir untuk pergi ke kepulauan Andaman, namun sejumlah rekannya telah membahas keinginan mendekati suku Sentinel.

“Meskipun mereka tidak serius mempertimbangkannya, mereka melemparkan ide tentang cara menghampiri orang-orang itu dengan aman, bagaimana menjalin kontak yang bersahabat, bagaimana meminimalkan ‘jejak’ mereka dan pada saat yang sama menjangkau mereka untuk belajar bahasa dan budaya mereka, “katanya.

Hak atas foto
Instagram/John Chau

Image caption

Pada 21 October, @johnachau menggungah kabar bahwa ia berlayar ke pulau Sentinel Utara.

Menurut Scott dan Jennifer Esposito, apa yang terjadi pada John Chau adalah hal yang tragis. Mereka sadar bahwa banyak yang menganggap tindakan Chau bodoh, dan ia melakukannya karena ada yang mendukungnya.

“Saya akan ragu-ragu menghakiminya,” kata Jennifer Esposito. “Dari semua yang saya baca, dia mengasihi Tuhan – pengorbanannya dapat mendatangkan banyak jiwa bagi Kristus di masa depan.

“Siapa yang tahu tentang benih apa yang ditanam, atau apa yang akan terjadi kelak.”

Adapun Scott Esposito percaya bahwa jika yang melanggar hukum adalah tim dokter demi menyelamatkan suku itu dari suatu wabah, reaksinya akan berbeda.

“Jika yang pergi itu para dokter dan terbunuh, saya yakin kebanyakan orang di seluruh dunia akan menyebut mereka sebagai orang-orang pemberani,” katanya. Nah, “(John Chau) berlayar untuk menyelamatkan kehidupan abadi (jiwa) mereka.” 

Hak atas foto
Roland Neveu/LightRocket via Getty Images

Image caption

Dokumentasi lawas tentang seorang missionaris di tengah-tengah suku Dani, Papua.

Betapapun, Scott Esposito tidak mendukung pelanggaran hukum seperti yang dilakukan John Chau. Dia mengaku dirinya dan para misionaris ‘sangat menghormati’ hukum dan kebiasaan masyarakat setempat di mana pun.

“Kita semua harus meniru hatinya, dalam arti bahwa dia rela mati, tapi saya kira tidak perlu ada orang sengaja berusaha menginjilkan suku berbahaya.”

Apakah tindakan misionaris merupakan bentuk imperialisme?

Seorang mantan misionaris, Caitlin Lowery, menulis unggahan pada laman Facebook setelah kematian John Chau.

“Saya dulu seorang misionaris,” tulisnya. “Saya pikir saya menunaikan tugas dari Tuhan. Tetapi jika saya harus jujur, saya melakukannya karena membuat saya merasa baik.”

“Hal itu merupakan (tindakan) supremasi kulit putih. Hal itu adalah kolonisasi.”

Ada pula Mark Plotkin, seorang ahli botani merangkap pendiri serta presiden Amazon Conservation Team -Tim Konservasi Amazon. Kelompok ini bekerja sama dengan pemerintah Kolombia untuk melindungi masyarakat yang terisolasi.

“Saya telah bekerja selama 30 tahun di Amazon dan saya melihat ada dua jenis misionaris,” katanya kepada BBC.

“Yakni mereka yang ingin ‘menyiapkan suku-suku ini untuk hidup di dunia luar’, dan mereka yang ingin ‘menyelamatkan beberapa jiwa untuk Yesus’.

Hak atas foto
Historica Graphica Collection/Heritage Images/Get

Image caption

Syahid, atau Martir. Cukilan kayu dari The Travels and Sufferings of Father Jean de Brebeuf, 1938, menggambarkan Santo Jean de Brebeuf (1593 – 1649) ditangkap dan dibunuh suku Iroquois yang menyerbu desa Huron (sekarang St Louis, Kanada) pada 16 Maret 1649.

Dia mengatakan bahwa kendati para misionaris benar-benar percaya bahwa mereka membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik, tetapi apa yang mereka lakukan bisa sangat membahayakan suku-suku itu.

“Menyeret orang-orang yang tidak terkontaminasi keluar dari hutan demi kebaikan mereka sendiri terkadang bukan untuk kebaikan mereka sendiri,” katanya kepada BBC.

Dia merujuk kaum Akuriyo di Suriname, yang didatangi oleh misionaris pada tahun 1969.

Dalam dua tahun, kata Plotkin, “sekitar 40 hingga 50% dari suku Akuriyo mati” karena penyakit pernapasan, serta karena apa yang diduga Plotkin sebagai stres atau ‘gegar budaya’.

“Mereka untuk pertama kalinya melihat orang-orang yang mengenakan pakaian dan memberi mereka suntikan,” katanya.

“Tidak boleh ada yang main-main menjadi Tuhan.”

Hak atas foto
Amazon Conservation Team

Image caption

Mark Plotkin bekerja untuk melindungi kaum pribumi yang terisolasi.

Berbagai negara di seluruh dunia memiliki pandangan miring mengenai karya para misionaris.

Upaya membuat orang pindah agama adalah ilegal di Nepal. Bahkan, pada bulan Agustus lalu perundangan diperketat sehingga orang asing yang dihukum karena pidana ini dapat dideportasi setelah menjalani hukuman penjara maksimum lima tahun.

Secara historis, kata Prof Preston ada misionaris Protestan AS yang membawa ‘misi imperialis.’

“Mereka menyadari bahwa mereka adalah bagian dari kekuatan keras AS, mereka tidak dapat menghindarinya.”

Karena kaitan itu, sejumlah misionaris mempromosikan identitas lokal dan nilai nasionalis – bahkan ketika hal itu bertentangan dengan tujuan kepentingan AS.

“Masih ada banyak orang Amerika yang berbeda,” katanya, yang percaya AS itu posisinya unik di antara bangsa-bangsa. “Tetapi banyak dari para misionaris itu ingin ‘memperbaiki’ dunia dengan nilai-nilai Kristen, bukan dengan garis Amerika.”

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Mati untuk Kristus di Amazon.

Allen setuju bahwa kaitan ini bisa jadi pelik, dan dia sendiri merasa ‘jijik’ ketika dia melihat banyak misionaris menunjukkan perilaku kolonialis, bahkan perilaku pengusaha.

“Terkadang, tidak peduli seberapa keras kita berusaha, kita seperti memperoleh penghormatan yang tidak perlu,” katanya.

Menurutnya, para misionaris berusaha untuk membangun “hubungan yang tulus berdasarkan rasa saling percaya dan saling hormat”.

“Saya tidak cukup naif untuk berpikir saya akan menjadi seorang suku Kamea. Tim kami di lapangan berusaha untuk bekerja membongkar semua kecenderungan perilaku kolonial dan menggantikannya dengan persahabatan yang saling bergantung satu sama lain.”



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.