Insiden bianglala membayangi sekaten di Yogyakarta, aspek keselamatan dipertanyakan


Sekaten

Hak atas foto
Robertus Pudyanto/Getty Images

Pasar malam perayaan Sekaten menjadi agenda tahunan di Yogyakarta, namun isu eksploitasi hewan dan buruknya aspek keselamatan wahana membayangi perayaan agama dan budaya ini.

Tahun ini, insiden wahana bianglala terbalik dan sirkus lumba-lumba mewarnai pagelarannya.

Perayaan sekaten di Yogyakarta merupakan paduan tradisi dan budaya yang dilakukan memperingati hari lahir nabi Muhammad, atau Maulid Nabi.

Dalam sekaten dilakukan sejumlah acara Kraton Yogyakarta termasuk Miyos Gongso, pemindahan gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu dan Kanjeng Kyai Naga Wilaga dari Kraton ke Masjid Gedhe Kauman, serta Kondur Gongso, kembalinya gamelan tersebut ke Kraton.

Hak atas foto
Peter Charlesworth/LightRocket via Getty Images

Image caption

Abdi Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggotong gunungan berisi bahan makanan pokok yang biasanya menjadi rebutan warga Yogyakarta dalam perayaan Sekaten

Sekaten dimeriahkan dengan pasar malam. Gerai-gerai dibuka, juga panggung kesenian masyarakat, tak ketinggalan wahana permainan. Namun, insiden terakhir membuat aspek keselamatan di hajatan tahunan itu dipertanyakan.

Insiden terjadi di pasar malam perayaan sekaten Alun Alun Selatan, Yogyakarta, Minggu (11/11) petang. Sebuah wahana bianglala atau disebut juga kincir angin tiba-tiba berhenti ketika sedang beroperasi, menyebabkan sebagian bangkunya terbalik dan membuat panik para pengguna wahana itu.

Dari video yang beredar di media sosial, beberapa penumpang sempat hampir terjatuh, tetapi kemudian bisa diturunkan dari kabin yang macet. Tidak ada korban jiwa.

Kabid Humas Polda Yogyakarta, AKBP Yulianto menerangkan pengoperasian wahana bianglala tersebut dihentikan setelah insiden dan petugas tengah melakukan pemeriksaan.

“Semua permainan yang ada di alun-alun itu dicek ulang untuk keselamatannya,” ujar Yulianto kepada BBC News Indonesia.

Namun insiden ini membuat warga mempertanyakan keselamatan wahana di hajatan tahunan itu. Tak sedikit yang kemudian mengurungkan niat mereka untuk menaiki wahana

Salah seorang warga Yogyakarta, Jimi Mahardikka, menyatakan dia jadi ragu naik wahana di pasar malam.

“Karena selain wahana banyak kegiatan budaya, tapi untuk wahananya terus terang jadi berpikir ulang,” ungkap Jimi.

Jimi mengungkapkan, semakin lama wahana permainan di sekaten memang semakin banyak dan tidak nyaman.

“Brutal. Pengalaman saya pertama naik itu, saya minta turun itu tidak diperbolehkan, malah dikencengin,” ujarnya.

Namun sayangnya, perkembangan wahana tidak dibarengi standar operasi yang baik untuk menjamin keselamatan penumpangnya.

Hak atas foto
Robertus Pudyanto/Getty Images

Image caption

Wahana Tong Setan juga menjadi atraksi tersendiri dalam perayaan Sekaten

“Belum ada kontrol, harusnya kan ada standarisasi safety-nya bagaimana, seperti asuransi yang melindungi warga kalau ikut pengalaman naik wahana itu,” ujar Humas Polda Yogyakarta AKBP Yulianto.

Terkait hal itu Yulianto memastikan aspek keselamatan menjadi prioritas dari penyelenggaraaan sekaten. Dia mengatakan kepolisian Yogyakarta memanggil para pengelola wahana untuk mengkonfirmasi aspek keselamatan dari wahana-wahana itu.

Hak atas foto
Robertus Pudyanto/Getty Images

Image caption

Perawatan secara berkala terhadap peralatan dan wahana penunjang sesuai petunjuk pabrik juga mutlak dilakukan.

“Nanti kalau misalnya memenuhi unsur pidana akan kita proses. Tapi sampai sekarang kami belum ada kesimpulan apa ini memenuhi unsur pidana atau tidak, masih dibahas,” kata dia.

Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 27 Tahun 2014 menetapkan tentang standar usaha taman rekreasi, ketersediaan peralatan dan wahana penunjang bagi jaminan keselamatan pengunjung termasuk dalam prosedur operasional standar dari wahana.

Selain itu, perawatan secara berkala terhadap peralatan dan wahana penunjang sesuai petunjuk pabrik juga mutlak dilakukan.

Eksploitasi lumba-lumba di sirkus tahunan

Ini bukan kali pertama polemik terjadi di hajatan tahunan ini. Sebelumnya keberadaan sirkus lumba-lumba di perayaan sekaten juga menuai protes dari para aktvis hewan.

Anggodaka Sartika Dwi Angga dari Animal Friends Jogja (AFJ) menyebut keberadaan sirkus lumba-lumba itu sebagai “eksploitasi” terhadap mamalia ini.

Mereka pun sempat menggelar aksi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan buruknya dampak kehidupan sirkus terhadap kesejahteraan hewan ini.

Hak atas foto
Solo Imaji / Barcroft Images / Getty Images

Image caption

AFJ menggelar aksi melawan sirkus hewan dalam perayaan Sekaten pada 22 November lalu

“Kalau kita mengacu pada kesejahteraan hewan adalah mereka harus terbebas dari lapar dan haus, dalam prakteknya dalam sirkus lumba-lumba mereka dilatih dengan metode lapar. Artinya, mereka tidak akan dikasih makan jika mereka belum melakukan atraksi,” jelas Anggodaka.

Publication and Community Manager AFJ tersebut juga menerangkan lumba-lumba itu juga semestinya terbebas dari rasa takut dan stres. Namun itu dilanggar ketika penyelenggara sirkus menempatkan lumba-lumba di sebuah tempat yang kecil dan dikelilingi oleh suara keras.

“Karena lumba-lumba ini mempunyai pendengaran yang sensitif, mereka memiliki cara komunikasi melalui sonar, itu pasti akan rusak ketika mereka berada di kondisi seperti itu” kata dia.

Hak atas foto
Aditya Irawan/NurPhoto via Getty Images

Image caption

Animal Friends Jogja (AFJ) menyebut keberadaan sirkus lumba-lumba itu sebagai ‘eksploitasi’ terhadap mamalia ini.

Selain itu, lumba-lumba di sirkus tidak bisa melakukan kegiatan alami mereka. Seperti diketahui, lumba-lumba merupakan makhluk sosial yang hidup dalam kelompok besar dan ikatan sosial mereka kuat.

“Nah, di sirkus lumba di mana mereka tidak bisa bersosialisasi dengan kawanannya akan membuat mereka tidak bisa mengekspresikan kelakuan alami mereka,” imbuh Angga.

Namun, Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi menegaskan dari sisi perizinan dan teknis, sirkus lumba-lumba itu sudah memenuhi persyaratan.

Hak atas foto
WF Sihardian / Barcroft Images / Getty Images

Image caption

“Dalam sirkus lumba-lumba mereka dilatih dengan metode lapar. Artinya, mereka tidak akan diberi makan jika mereka belum melakukan atraksi,” ujar Angga dari AFJ.

“Tetap dilaksanakan karena secara legal sudah terpenuhi semuanya, secara teknisnya terpenuhi, penyelenggaranya adalah lembaga konservasi Taman Impian Jaya Ancol yang memang punya legalitas untuk menyelenggarakan pertunjukkan ini,” ujar Heroe.

Dia pula memastikan atraksi sirkus lumba-lumba ini akan menjadi aksi terakhir mereka di perayaan sekaten. Pada tahun depan, atraksi sirkus lumba-lumba dan atraksi eksploitasi hewan lainnya akan dilarang di kota pelajar itu.

“Semoga ini menjadi yang terakhir di kota Yogyakarta karena kita sepakat untuk kedepannya kita akan mencoba mengurangi eksploitasi hewan di Yogyakarta, termasuk topeng monyet, (sirkus) lumba-lumba dan lain sebagainya.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.