Fakta yang tidak kita tahu tentang orang-orang terkaya di dunia



Ekonomi

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Ketimpangan ekonomi di berbagai negara merupakan isu umum. Namun tak semua orang tahu seberapa besar ketidakseimbangan kekayaan itu terjadi.

Hasil pemilu sela Amerika Serikat melanjutkan tren ketimpangan tajam yang belakangan ini muncul dalam sejumlah kebijakan politik di seluruh dunia.

Bukan hanya DPR dan Senat AS yang kini dikontrol oleh dua partai berbeda, analisis sebelumnya menyebut sangat sedikit kelompok ras terpengaruh oleh ketimpangan antara pedesaan, wilayah pinggiran dan perkotaan serta faktor etnis dan kelas ekonomi.

Barack Obama menggaungkan perihal ini dalam campur tangannya yang langka pada debat publik di AS.

Pernyataan Obama menunjukkan betapa ia khawatir pada ancaman terhadap demokrasi dan keadaan yang disebabkan ketimpangan ekonomi, serta bagaimana situasi ini mendorong pengelompokan sosial.

Menurut saya, Obama pantas cemas. Konsentrasi kekayaan di kelompok masyarakat ekonomi atas terus bertumbuh. Itu bukan hanya terjadi di AS.

Pada 2017, untuk pertama kalinya sejak kita memiliki penghitungan kekayaan andal berbasis statistik nasional, muncul fakta bahwa 1% orang paling kaya di dunia mempunyai harta yang lebih banyak dibandingkan seluruh orang yang hidup di bumi.

Namun saat para pelaku jajak pendapat bertanya pada publik untuk menebak proporsi kekayaan orang-orang superkaya itu di negara mereka, kebanyakan jawaban yang muncul keliru.

Setidaknya itu yang terangkum dalam kajian berjudul Perils of Perception yang dilakukan firma penelitian berbasis di Paris, Prancis, Ipsos.

Responden di Inggris dan Prancis mengajukan tebakan yang paling tidak tepat. Persentase kekayaan 1% orang di dua negara itu sama: yaitu sebesar 23%.

Adapun, masyarakat Inggris rata-rata menjawab 59%, sementara responden di Prancis mengajukan angka 56%.

Di sisi lain, masyarakat di sejumlah negara justru tidak mengira bahwa kekayaan di negara mereka terkonsentrasi pada segelintir orang.

Sebagian besar responden Rusia menebak, 1% orang superkaya di negara mereka menguasai 53% kekayaan. Padahal, faktanya ketimpangan ekonomi di Rusia lebih buruk daripada Inggris dan Prancis, yaitu sebesar 70% atau tiga kali lebih besar dibanding dua negara itu.

AS juga mencuat sebagai salah satu negara yang mempunyai ketimpangan distribusi kekayaan, bahwa 1% masyarakat negara itu menguasai 37% ekonomi. Namun dalam survei, responden di AS sebenarnya tidak sedemikian pesimis karena mengajukan tebakan sebesar 57%.

Pertanyaannya kini, mengapa jawaban yang ada tak sesuai dengan realitas?

Sebagian besar penjelasan akan merujuk reaksi emosional dibandingkan ketidaktahuan kita pada fakta.

Seperti Obama, kita paham ketimpangan ada isu yang terus membesar. Kita kerap mendengar perihal ini, anekdot terang-terangan tentang dampak situasi itu pada kemiskinan yang dirasakan banyak orang.

Jadi tebakan yang muncul dalam kajian tadi bisa jadi terlau dibesar-besarkan.

Entah masyarakat mempedulikannya atau tidak, dalam titik tertentu kita sebenarnya menyampaikan bahwa ini adalah isu besar yang mengkhawatirkan: ketimpangan mengambil porsi besar dalam pikiran sehingga kita secara tidak langsung memperbesar realitas.

Psikolog sosial memiliki terminologi untuk fenomena ini. Mereka melabelinya sebagai ‘hitung-hitungan emosional’.

Artinya, ketika kita meminta orang lain menebak skala suatu persoalan, dampak dan efek yang muncul bergerak ke dua arah.

Dalam bahasa lainnya, bukan cuma mengkhawatirkan permasalahan yang kita anggap besar, kita justru memperbesar skala isu yang kita pikirkan itu.

Hitung-hitungan emosional menunjuk pada konklusi yang penting. Karena sebagian kesalahpahaman kita didasarkan pada perasaan, anggapan suatu hal terlalu besar untuk dianggap keliru tak akan memperbaiki keadaan. Alasannya, pendekatan itu menuding penyebab yang salah.

Kami juga menanyakan pertanyaan tentang harta kekayaan yang sepatutnya dimiliki 1% kelompok orang super tajir itu. Jawabannya pun mengungkap pola yang menarik.

Pertama, kebanyakan responden tidak memprediksi ketimpangan kekayaan-sebagian menyebut harta 1% kelompok itu seharusnya setara dengan 14% kekayaan Israel atau 32% perekonomian Cina.

Namun beberapa orang di negara-negara itu ternyata menginginkan keseimbangan kekayaan.

Responden Inggris berada di urutan teratas, sebesar 19% di antara mereka menyebut 1% kelompok itu sepatutnya hanya menguasai 1% kekayaan.

Di peringkat berikutnya adalah Rusia, bahwa 18% responden di negara itu mengharapkan hal serupa dengan sebagaian warga Inggris.

Jawabannya kedua, jika kita merujuk kembali ke anggapan tentang ketimpangan dan membandingkannya dengan realitas, jawabannya mencengangkan: sebagian orang di berbagai negara nyaman dengan ketimpangan ekonomi.

Misalnya, responden Prancis menyebut 1% kelompok orang kaya seharusnya menguasai 27% ekonomi. Padahal persentase yang sebenarnya adalah 23%.

Kecenderungan itu memperlihatkan, Prancis, negara yang menjadikan ‘égalité’ atau kesetaraan sebagai tali pengikat bangsa, tetap memandang sebagian kelompok haruslah lebih kaya.

Tentu, itu adalah interpretasi yang sangat salah.

Kami paham dari pertanyaan tentang bagaimana orang-orang melihat realitas itu, bahwa sebagian masyarakat Prancis mengira 1% orang super kaya menguasai 56% kekayaan negara mereka.

Jadi, para responden itu sebenarnya hendak berkata, kelompok orang tajir itu seharusnya memiliki setengah dari harta yang telah mereka kuasai.

Hasil jajak pendapat ini adalah kunci memahami kesalahpahaman kita tentang isu finansial dan kekayaan.

Kita perlu tahu yang orang pikirkan tentang situasi terkini sebelum kita menanyakan kondisi yang mereka anggap sepatutnya terjadi.

Dalam kata lain, tak mengetahui seberapa salah kita tentang realitas yang ada dapat membuat kita mengambil kesimpulan keliru atas hal-hal yang perlu kita lakukan.

Anda dapat membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dalamBBC Capitaldengan judulWhat we just don’t understand about the 1%.

Bobby Duffy adalah penulis The Perils of Perception.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.