Evakuasi jenazah Lion Air: ‘Kami ingin membawa jenazah istri saya ke kampung’


Jenazah penumpang Lion Air JT610.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Polri melakukan proses identifikasi terhadap penumpang dan awak pesawat Lion Air JT610.

Ervina Kusuma Wijayanti adalah satu dari 189 penumpang dan awak Lion Air JT610 yang jatuh di perairan Teluk Karawang, 13 menit setelah lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, Senin (29/10) pagi, dalam penerbangan menuju Pangkal Pinang.

Sejumlah jenazah atau bagian tubuh penumpang sudah ditemukan dan pihak keluarga diminta menyerahkan data untuk membantu proses identifikasi.

Untuk itulah, suami Ervina, Edi Susanto, mendatangi Rumah Sakit Polri Jakarta.

Di sinilah tim Polri melakukan identifikasi korban.

“Semua ini sudah titipan. Kalau Yang Maha Kuasa ngambil titipannya, kita tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Edi kepada Quin Pasaribu untuk BBC News Indonesia, Rabu (31/10).

“Cuma yang kami inginkan, yang kami minta,” lanjutnya dengan intonasi tenang.

“Mudah-mudahan segera ditemukan (jenazah istri), kalau memang bisa ditemukan, baik masih hidup atau sudah meninggal.”

“Kami ingin kepastian, itu saja.” Edi menekankan kalimatnya. “Kalau sudah ada (jenazahnya), bisa kami bawa pulang ke kampung.”

Minimal, sambungnya, ditemukan jasadnya. “Apa pun kondisinya, kami sudah ikhlas, kami sudah menerima.”

“Yang penting istri saya bisa ditemukan,” ujar Edi.

‘Tak ada bekas terbakar atau ledakan’

Dari jenazah yang ditemukan sejauh ini, tidak terdapat bagian tubuh yang mengalami luka bakar, kata Kepala Bidang Disaster Victim Identification (DVI) Mabes Polri, Lisda Cancer.

Hak atas foto
Ulet Ifansasti/Getty Images

Image caption

Epi Syamsul (50), dan istrinya menunjukkan foro anaknya, Mohammad Rafi Andrian, yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

“Tidak ada bekas terbakar atau ledakan,” kata Lisda, hari Kamis (01/11).

Hingga saat ini RS Polri sudah menerima tambahan delapan kantung jenazah jatuhnya pesawat Lion Air JT 610. Dengan begitu total yang didapat hingga hari Kamis berjumlah 56.

Data antemortem yang sudah didapat sebanyak 189 sementara sampel DNA yang diterima 152.

Polri berharap keluarga yang belum menyerahkan sampel DNA agar segera dikirimkan. Ini agar proses identifikasi tak berlarut-larut.

“Ketika 37 (sampel DNA) itu menyusul, maka hitungannya proses identifikasi menjadi lebih lama,” ujar Wakil Kepala RS Polri, Hariyanto.

Hak atas foto
Adriana Adinandra/SOPA Images/LightRocket via Get

Image caption

Wali Kota Bogor, Bima Arya, melihat foto keluarga yang di antara anggotanya menjadi korban jatuhnya Lion Air JT 610.

Tim gabungan masih terus mencari badan utama pesawat.

“Dari sisi prosedur, begitu ditemukan target (bangkai pesawat), pasti dilakukan evakuasi (jenazah korban),” kata Direktur Kesiapsiagaan dan Latihan Basarnas, Didi Hamzar, kepada wartawan BBC News Indonesia, Heyder Affan, Rabu (31/10) sore.

Sebagian besar korban diperkirakan masih terperangkap dalam bangkai pesawat yang tenggelam di perairan Karawang yang memiliki kedalaman antara 30-40 meter.

“Diperkirakan (korban) terperangkap di seat belt (sabuk pengaman di kursi pesawat),” kata Didi Hamzar.

Dia meyakini hal itu karena jika jenazah tidak terperangkap dalam bangkai pesawat, maka jenazah akan mengambang ke atas setelah dua kali 24 jam.

Hak atas foto
ANTARA FOTO/Ananta Kala

Image caption

Karyawan PT Timah Tbk meletakkan bunga di meja kerja rekannya yang menjadi korban jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 sebagai bentuk penghormatan, di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, Rabu (31/10).

Ditanya sampai kapan proses evakuasi jenazah itu dilakukan, Didi mengatakan hal itu sangat tergantung kepada proses pencarian bangkai pesawat, sesuai prosedur yang berlaku.

“Begitu ditemukan target (bangkai pesawat), pasti dilakukan evakuasi (jenazah).

Dia kemudian menambahkan, “Sesuai prosedur operasi Basarnas, operasi SAR itu dilakukan satu sampai tujuh hari.”

Ketika memasuki hari ketujuh, pihaknya akan melakukan evaluasi.

“Yaitu dievaluasi apakah akan diperpanjang selama tiga hari apabila proses pencariannya belum selesai.”

Pengalaman mengevakuasi jenazah Air Asia Q2 8501

Didi kemudian memberikan contoh ketika tim SAR menemukan bangkai pesawat Air Asia Q2 8501 di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalteng, pada awal Maret 2015.

Hak atas foto
Jefta Images / Barcroft Media via Getty Images

Image caption

Tim SAR mengumpulkan badan pesawat Air Asia QZ8501 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 Maret 2015, setelah pesawat itu jatuh pada 28 Desember 2014.

“Dalam pengalaman (jatuhnya pesawat) Air Asia, pasti jenazah akan kita angkat ke atas. Kita ada pengalaman itu,” tegasnya. Saat itu, Basarnas berhasil mengangkat bangkai pesawat Air Asia yang jatuh pada 28 Desember 2014.

Ada kemiripan kedalaman perairan di lokasi jatuhnya pesawat Air Asia dan Lion Air yaitu sekitar 30-40 meter. Namun menurutnya proses pencarian pesawat Lion Air didukung “cuaca yang bagus”, “sumber daya yang memadai” dan “lokasi relatif dekat” dengan daratan.

Sejumlah laporan menyebutkan para penyelam yang tergabung dalam tim SAR menghadapi persoalan lumpur yang pekat. “Ini merupakan faktor tersendiri,” kata Didi.

Mengapa jenazah penumpang Adam Air DHI 574 tidak dievakuasi?

Sambil menunggu proses pencarian bangkai pesawat Lion Air, Didi mengingatkan bahwa bisa saja evakuasi jenazah korban dihentikan seperti yang terjadi saat tim SAR menangani jatuhnya pesawat Adam Air pada 1 Januari 2007.

Hak atas foto
ADEK BERRY/AFP

Image caption

Seorang anggota TNI dari atas KRI Fatahillah terlibat proses pencarian pesawat Adam Air yang jatuh di perairan Sulawesi pada 9 Januari 2007.

Pesawat Adam Air DHI 574, yang membawa 102 orang, jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat, yang kedalamannya mencapai 2000 meter.

Tim SAR membutuhkan waktu sekitar delapan bulan untuk menemukan Black Box (kotak Hitam) pesawat tersebut, tetapi akhirnya memutuskan tidak mengevakuasi bangkat pesawat dan jenazah korban.

Hak atas foto
AFP/BAY ISMOYO

Image caption

Seorang penumpang pesawat sedang membaca pemberitaan tentang jatuhnya pesawat Adam Air pada 2 Januar1 2007.

“Setelah lihat dari posisi target (bangkai pesawat Adam Air), dengan kedalaman dan resiko ditimbulkan, jangan sampai operasi ini menambah jumlah korban (di pihak tim SAR),” kata Didi.

Artinya, jenazah korban akhirnya dibiarkan terkubur di dalam palung perairan Majene, Sulawesi Barat.

Hak atas foto
Jefta Images / Barcroft Media via Getty Images

Image caption

Salah-satu rangkaian bangkai pesawat Air Asia QZ8501 diangkut ke pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 2 Maret 2015.

Sebaliknya, apabila posisi dan lokasi bangkai pesawat memungkinkan untuk ‘diangkat’, tim SAR akan mengupayakan untuk mengangkat badan pesawatnya.

“(Pesawat) Air Asia ‘kan diangkat badan pesawatnya dan (jenazah penumpangnya) dievakuasi,” jelasnya.

‘Tidak akan mempengaruhi pemeriksaan DNA’

Sementara, Kepala RS Polri di Jakarta, Kombes Polisi Musyafak mengatakan, kemungkinan besar jenazah yang berada di dalam bangkai pesawat sudah mengalami proses pembusukan.

Hak atas foto
AGUNG SWASTIKA/AFP/Getty Images

Image caption

Seorang nelayan bernama Bakrie (tengah) memegang potongan badan pesawat Adam Air yang ditemukan di peraian di wilayah Sulawesi Barat, 13 Januari 2007.

“Tapi tidak akan mempengaruhi pemeriksaan DNA,” kata Musyafak kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31/10), seperti dilaporkan Quin Pasaribu untuk BBC News Indonesia.

Dia memperkirakan, proses pembusukan jenazah yang berada di dasar laut akan berjalan lebih lambat jika dibandingkan yang ada di daratan.

“Kalau di laut di situ ada mungkin asin, ada garam, barangkali lebih lama dibandingkan dengan di darat,” ujarnya.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.