‘Dua raksasa’ gagal sepakat, pertama kalinya KTT APEC ditutup tanpa deklarasi akhir


Mike Pence dan Xi Jinping

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Mike Pence menatap Presiden Xi Jinping menjelang jamuan makan malam KTT APEC pada Sabtu (17/11).

Perbedaan tajam antara Amerika Serikat dan Cina terkait perdagangan menyebabkan Konferensi Tingkat Tinggi Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) berakhir tanpa deklarasi akhir untuk pertama kalinya.

KTT berlangsung di Papua Nugini dan ditutup pada Minggu (18/11). Tuan rumah, Perdana Menteri Peter O’Neill menjelaskan bahwa “dua raksasa di ruang” gagal mencapai kesepakatan.

Dikatakannya pernyataan dari ketua konferensi APEC akan dirilis kemudian.

Amerika Serikat dan Cina terlibat dalam perang dagang yang sengit dan menyampaikan visi yang berbeda-beda dalam pertemuan puncak APEC.

Dalam acara itu, Amerika Serikat mengatakan akan bergandengan tangan dengan Australia dalam mengembangkan pangkalan laut di Papua Nugini, dalam upaya yang tampaknya diarahkan untuk meredam pengaruh Cina.

‘Lautan utang’

Menurut Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence, pangkalan laut itu akan membantu “melindungi kedaulatan dan hak-hak maritim di kepulauan Pasifik”.

Pada Sabtu, Presiden Cina Xi Jinping menyerang kebijakan Amerika, yang mengutamakan kepentingan dalam negeri, dengan mengatakan bahwa negara-negara yang memberlakukan proteksionisme “akan mengalami malapetaka”.

Hak atas foto
AFP

Image caption

Wapres AS Mike Pence (ketiga dari kanan) Xi Jinping tampak tidak tampil bersama dalam foto para pemimpin APEC.

Pence kemudian mengatakan bahwa negaranya siap “melipatgandakan atau bahkan lebih” tarif yang dikenakan terhadap barang-barang dari Cina.

Pada Minggu (18/11), Cina mengatakan tidak ada satu pun negara berkembang yang mengalami kesulitan utang karena bekerja sama dengan Beijing.

Hak atas foto
ALEKSANDAR PLAVEVSKI/EPA

Image caption

Pemberlakukan tarif Amerika Serikat terhadap barang-barang Cina, kata AS, merupakan balasan atas tindakan ‘curang’ negara itu.

Pernyataan tegas Kementerian Luar Negeri Cina ini dikeluarkan setelah Wakil Presiden Amerika Serikat, Mike, Pence, memperingatkan bahwa negara-negara dapat terjerumus ke dalam lautan utang jika mereka meminjam dari Cina.

Salah satu negara yang mengeluh terjerat utang dari Cina adalah Maladewa. Presiden baru Maladewa mengeluh betapa besar beban utang yang ditanggung negaranya akibat meminjam dari Cina.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.