Dituduh mata-mata Qatar, pemimpin oposisi Bahrain dipenjara seumur hidup


Bahrain"s Al-Wefaq opposition group leader Sheikh Ali Salman looks on during a rallly in November 2014

Hak atas foto
AFP

Image caption

Foto Sheikh Ali Salman, yang diambil pada 2014, sebelum dia dipenjara semenjak 2015

Pemimpin oposisi Bahrain, Sheikh Ali Salman, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena dianggap bersalah menjadi mata-mata untuk Qatar.

Putusan ini dikeluarkan hanya beberapa bulan setelah Pengadilan Tinggi Bahrain membebaskan Salman dari tuduhan “berkolusi” dengan negara pesaing.

Bahrain telah memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada 2017.

Amnesty International menganggap Sheikh Ali Salman sebagai tahanan hati nurani dan menyebut hukuman terhadapnya sebagai kepalsuan yang menunjukkan usaha Bahrain mengekang perbedaan pendapat.

Hak atas foto
Reuters

Image caption

Jaksa penuntut umum Bahrain mengatakan tiga pria itu dipenjara karena “tindakan permusuhan” terhadap Bahrain dan “menjalin komunikasi dengan pejabat Qatar … untuk menggulingkan tatanan konstitusional”.

“Putusan ini … menunjukkan pemerintah Bahrain terus-menerus melanggar hukum untuk membungkam segala bentuk perbedaan pendapat,” kata direktur Amnesty Timur Tengah dan Afrika Utara, Heba Morayef.

“Syekh Ali Salman adalah tahanan hati nurani yang ditahan semata-mata karena secara damai menggunakan haknya untuk kebebasan berekspresi.”

Ali Salman, yang memimpin gerakan Al-Wefaq – yang saat ini dilarang – dituduh berkomplot dengan pemerintah Qatar untuk memicu kerusuhan anti-pemerintah pada 2011 lalu, bersama pemimpin oposisi Hassan Sultan dan Ali al-Aswad.

Keduanya juga divonis hukuman pidana penjara seumur hidup.

Mengapa sekarang?

Jaksa penuntut umum Bahrain mengatakan tiga pria itu dipenjara karena “tindakan permusuhan” terhadap Bahrain dan “menjalin komunikasi dengan pejabat Qatar … untuk menggulingkan tatanan konstitusional”, seperti dilaporkan kantor berita AFP.

Hak atas foto
AFP/Getty

Namun berbagai tuduhan itu, yang sudah ada sejak tujuh tahun lalu, baru terungkap 2017 lalu, setelah Bahrain, Arab Saudi, UAE dan Mesir memutuskan hubungan dengan Qatar.

Arab Saudi dan negara-negara itu menuduh Qatar mendukung kelompok-kelompok teroris dan terlalu dekat dengan Iran – sebuah tuduhan yang dibantah keras oleh pimpinan Qatar.

Saat itu, gerakan Wefaq mengatakan tuduhan itu merupakan upaya pemerintah Bahrain untuk memperpanjang hukuman penjara terhadap pemimpinnya, yang telah ditahan sejak 2015.

Apa yang terjadi pada 2011?

Para pengunjukrasa – terutama dipimpin oleh kelompok mayoritas yaitu komunitas Syiah – turun ke jalan pada Februari 2011, menuntut lebih banyak penerapan demokrasi sebagai bagian dari gerakan pro-demokrasi yang terjadi di seluruh dunia Arab.

Tetapi keluarga kerajaan Al Khalifa, yang memegang sebagian besar pos politik dan militer, berhasil menekan protes dengan bantuan negara-negara tetangga, diantaranya yang paling penting adalah Arab Saudi.

Saat itu, kerusuhan menyebabkan sedikitnya 30 warga sipil dan lima anggota polisi tewas.

Sejak saat itulah, Bahrain yang diperintah oleh kelompok Sunni dilanda berbagai kerusuhan.

Sebagai tanggapan, Bahrain – sekutu kunci Amerika Serikat dan Inggris, yang keduanya memiliki pangkalan angkatan laut di negara itu – telah melarang kelompok oposisi, sementara ratusan kritikus pemerintah telah dipenjara.

Penting secara strategis

Yolande Knell, wartawan BBC masalah Timur Tengah

Sebagian besar orang-orang yang tinggal di negara-negara Teluk yang berukuran kecil adalah kaum Muslim Syiah, tetapi diperintah oleh keluarga kerajaan yang beraliran Islam Sunni.

Mereka inilah yang mengontrol posisi-posisi penting di pemerintahan.

Sebagai pemimpin partai oposisi Syiah, Sheikh Ali Salman termasuk di antara mereka yang menyerukan reformasi demokratis, termasuk pembuatan konstitusi monarki serta pemilihan seorang perdana menteri.

Gerakan Al-Wefaq memiliki pendukung terbesar di parlemen sebelum protes 2011, namuni anggotanya mengundurkan diri ketika mereka ditindas. Kemudian partai itu dilarang – bersama dengan kelompok oposisi agama dan sekuler lainnya.

Puluhan ulama dan aktivis telah dipenjara. Sebelum putusan ini, Sheikh Ali Salman sudah dipenjara dengan tuduhan menghasut kebencian.

Kelompok hak asasi manusia menuduh komunitas internasional tidak mampu menekan Bahrain atas berbagai pelanggaran yang terjadi, karena lokasi dan nilai strategisnya yang penting sebagai pusat pertahanan dan keamanan di kawasan tersebut.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.