Cinta, persahabatan dan filosofi di balik komik Peanuts


Lucy dan Charlie Brown

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Kreator Peanuts, Charles M Schulz, mengklaim bahwa setrip komiknya “bukan tentang apa-apa”. Padahal komik ini punya pengaruh dahsyat pada publik. Salah satunya adalah — bahwa berbagai bentuk persahabatan tak perlu sebuah penjelasan.

Saat saya tumbuh besar di tempat antah-berantah di barat Kanada, saya sangat menyukai strip komik Peanuts karya Charles M Schulz.

Nada penceritaannya yang kalem dan tenang selaras dengan pemahaman saya akan hidup. Setrip komik ini penuh dengan kerapuhan masa kecil; kepuasan yang diberikannya sangat lembut dan sulit didapat — seperti halnya dalam persahabatan.

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Pada hampir 18.000 setrip komik yang digambar Schulz dalam 50 tahun kariernya (1950-2000), orang dewasa hampir tak pernah muncul, dan saat mereka muncul, bentuknya hanya kaki abstrak.

Dalam film animasinya, orang dewasa jarang terdengar, sekalinya mereka dibolehkan berbicara, mereka terdengar ribut di latar seperti suara angsa. Seperti itulah pesona dunia orang dewasa digambarkan.

Hubungan personal saya dengan kehidupan internal Charlie Brown juga dialami oleh sekian banyak orang lain. Pada puncaknya, Peanuts disindikasi di 75 negara, diterjemahkan ke 21 bahasa, dan punya total pembaca 355 juta.

Hak atas foto
Peanuts

Sebuah pameran yang didedikasikan pada karya dan pengaruh Schulz tengah berlangsung di Somerset House di London, yang penuh dengan pengunjung saat saya datang ke sana.

Schulz meninggal dunia pada 2000, tapi warisannya tetap hidup. Andai saja Charlie dan teman-temannya tahu betapa banyak orang yang menghargai mereka.

Seperti kata Claire Catterall, kurator pameran ini, “Untuk sebuah setrip komik yang menurut pembuatnya ‘bukan tentang apa-apa’, dan merupakan kisah-kisah tentang ‘insiden kecil’, pengaruh Peanuts pada budaya dan masyarakat begitu dahsyat.”

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Image caption

“Lihat horison di sana? Lihat betapa besarnya dunia? Bisa lihat bahwa ada begitu banyak ruang di luar sana untuk semua orang?”

Siapakah pencipta komik ini? Schulz tampaknya adalah sosok dengan nilai-nilai tradisional Protesan yang kuat.

Dia pendiam, sopan, sering merenung, rendah hati, dan pekerja keras sampai-sampai dia tidak suka liburan. Dia tumbuh besar di Minnesota di AS; salah satu negara bagian dengan musim panas yang gerah dan musim dingin yang membeku, dan saat Anda lihat di peta, tak banyak kota-kota di sana.

Dia bertugas di Militer AS di Eropa pada Perang Dunia Dua (“militer mengajarkan semua yang perlu saya ketahui tentang kesepian”). Dia sangat suka hoki dan ski es, sampai-sampai ketika dia pindah ke California saat tua, dia membangun arena ski di kampung halamannya.

Bagi seorang sosok yang dianggap panutan dalam meragukan diri sendiri, Schulz menyusun dan menggambar setrip komiknya dengan ketegasan. Dia memilih untuk langsung menggambar dengan tinta. Oh, dan saat dia masih anak-anak, dia punya anjing bernama Spike yang kemudian menjadi Snoopy.

Hak atas foto
Schulz Family Intellectual Property Trust/Courtesy

Image caption

Charles Schulz dan anjingnya Spike pada 1935, saat Schulz berusia 13 tahun.

Jadi kita melihat sosok pria luar biasa yang sangat biasa, sosok yang paling menarik. Pengaruh dari setrip komik Peanuts tampaknya cukup kuat.

Menurut jandanya, Jeannie, Schulz sering mengatakan bahwa dia “mirip seperti banyak karakternya. Charlie Brown adalah sisi diri saya yang peragu dan tak percaya diri. Lucy adalah sisi diri saya yang sok tahu. Linus adalah saya yang lebih ingin tahu dan pemikir. Snoopy adalah sosok yang ingin saya capai — tanpa rasa takut, jadi pusat perhatian, dan bisa menghilangkan kemarahan Lucy dengan sekilas ciuman.”

Mungkin kumpulan keunggulan para karakter ini menggambarkan secara sempurna apa artinya menjadi manusia. “Saya pikir setrip komik ini menyajikan kejujuran yang sederhana,” kata Jeannie. “Dunia di luar sana adalah campuran rasa yang manis, kadang penuh kebahagiaan dan kadang mengecewakan.”

Catterall menambahkan bahwa, “Schulz tak akan menganggap serius pemikiran bahwa karyanya adalah ‘Karya Penting’, dia yakin bahwa seni yang sebenarnya tak akan lekang oleh waktu dan baru bisa terbukti jika karya itu tetap bermakna lama setelah senimannya pergi.”

Saya tidak bermaksud mengecilkan saat saya menyatakan bahwa sketsa-sketsa Schulz adalah ‘Karya Penting’ — lewat ‘insiden-insiden kecilnya’, dia mengenalkan anak-anak — dan juga orang dewasa — pada pemikiran filosofis penting.

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Mempertanyakan eksistensi

Meski berasal dari latar belakang Kristen, Schulz juga punya kecenderungan dekat pada pemikiran eksistensialis dan humanis seperti Jean-Paul Satre atau Samuel Beckett.

Filsafat eksistensialisme menyebut bahwa kita hidup di jagad yang kosong dan tak punya pilihan selain berusaha untuk membuatnya masuk akal. (Coba lagi, gagal lagi, gagal lebih baik, kata Beckett.) Schulz bukan orang yang menghindar dari pertanyaan-pertanyaan sulit.

Ada setrip klasik yang menampilkan Snoop berbaring di atap rumah anjingnya dan berusaha untuk memahami makna hidup. Dia tak kunjung mendapat apa yang dicarinya sampai Charlie datang dengan piring penuh berisi makanan anjing dan Snoopy mendapat pencerahan.

Ini adalah khas gaya Schulz: tak ada jawaban besar, hanya ada jawaban-jawaban kecil sesaat, seperti nikmatnya makanan dan persahabatan.

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

A Charlie Brown Christmas (1965) mungkin adalah karya besar Schulz untuk televisi.

Film itu menampilkan ketegangan yang pahit dan manis antara perasaan keagamaan dan eksistensialisme, serta keterhubungan dan keterasingan dalam karyanya. Charlie berupaya memaknai Natal dan bertanya-tanya apa ini hanya berarti keegoisan dan komersialisme saja.

Kemudian film ini berhasil menampilkan penampilan yang menyentuh saat Linus membacakan Alkitab Versi Raja James. Namun di saat bersamaan, kisah ini berakhir dengan para karakter Peanuts bekerja bersama untuk mengubah pohon fir yang kering dan layu menjadi pohon Natal yang gemerlap lewat persahabatan mereka.

Kebetulan, lagu latar yang inovatif di Charlie Brown Christmas banyak memasukkan jazz dari Vince Guaraldi Trio. Ini pilihan yang tidak biasa. Meski begitu, orang bisa berargumen bahwa improvisasi dalam musik jazz membuatnya cocok bagi dunia Schulz yang penuh ketidakpastian. Dan cocok untuk pikiran anak-anak.

Permainan perang

Schulz menggambar Peanuts pada dekade-dekade penuh guncangan di Amerika, diawali dengan Perang Korea (1950-3); Perang Vietnam (Amerika terlibat mulai 1965 dan perang itu selesai pada 1975); Perang Dingin; benturan konstan yang terjadi di gerakan Hak Sipil; pembunuhan John F Kennedy dan Dr Martin Luther King Jr.

Snoopy yang selalu tenang dan tak terpengaruh menjadi maskot di kalangan tentara AS di Perang Vietnam, dilengkapi peralatan, emblem dan bendera-bendera; sesuatu dari Minnesota untuk membuat mereka nyaman di neraka.

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Ada sebuah strip komik dari 1954 yang menggambarkan anak-anak mencoba untuk membuat dan menguji bom hidrogen. (Lucy — siapa lagi? — berdiri menjadi bom dan meneriakkan ‘BWHAM’!)

Dalam serangkaian strip komik yang merujuk ke gangguan kampus anti-Vietnam pada 1970an, Snoopy kembali ke tempat dia dibesarkan, Daisy Hill Puppy Farm, untuk berpidato. Tapi saat dia berdiri di podium, dia dilempar dengan mangkuk makanan anjing.

Hak atas foto
Schulz Family Intellectual Property Trust/Courtesy

Pada strip komik selanjutnya, dia kena gas air mata. Dalam strip berikutnya, kita mengetahui bahwa protes itu adalah tentang ‘War Dogs’ dikirim ke Vietnam dan tak kembali lagi.

Hubungan antar-ras

Setelah Dr King dibunuh pada 1968, Schulz menerima surat dari Harriet Glickman, seorang pensiunan guru (kulit putih) asal California yang memintanya untuk memasukkan karater anak kulit hitam di grup karakter Peanuts untuk membantu mendorong pemahaman antar-komunitas. Schulz menjawab bahwa dia belum melakukan itu karena dia khawatir akan tampak ‘menggurui’.

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Glickman kemudian menghubungi temannya yang keturunan kulit hitam dan meminta mereka menulis ke Schultz; salah satu surat itu, dari seorang pria bernama Kenneth Kelly, yang secara manis meyakinkan bahwa karakter kulit hitam, bahkan di peran figuran sekalipun, akan sangat membantu.

Hak atas foto
Schulz Family Intellectual Property Trust/Courtesy

Schulz kemudian memutuskan untuk melakukan sesuatu dan menciptakan karakter kulit hitam.

Pimpinan United Feature Syndicate berupaya untuk menekannya untuk menarik karakter tersebut karena dia menilai keputusan Schulz terlalu kontroversial. Schulz mengatakan bahwa mereka bisa menerbitkan strip komiknya atau dia akan berhenti.

Setelah itu, Franklin, karakter Peanuts kulit hitam pertama, naik cetak. Pada saat ini, Peanuts-mania di Amerika tengah mencapai puncaknya; menurut Glickman, tiga anaknya terobsesi dengan karakter-karakter ini.

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Melihat ke dalam

‘Kios’ psikiatris Lucy sudah menjadi bagian dari legenda: dari posisinya sebagai seorang ‘dokter’, dia membagikan nasihat satir yang juga masuk akal, dan dia membantu menciptakan budaya introspeksi dan kesadaran yang kita miliki sekarang.

Charlie Brown adalah sosok neurotik dan mengklaim dirinya depresif, terus-terusan bergelut dengan pemikiran buruknya, baik itu ketidakmampuannya berbicara ke Gadis Kecil Berambut Merah, yang dia puja dari jauh, kekhawatirannya akan kegagalan, atau rasa frustrasinya karena dia selalu kehilangan layangan di Pohon Pemakan Layangan.

Kemudian ada Linus yang sangat cerdas dengan emosi yang sensitif, ke mana-mana dia membawa selimut untuk merasa aman. (Istilah ‘security blanket‘ diyakini berasal dari strip komik Peanut.)

Hak atas foto
Schulz Family Intellectual Property Trust/Courtesy

Para psikolog dan dokter anak terkemuka melihat nilai-nilai Schulz yang tampak sederhana soal hubungan manusia dan menulis surat meminta izin untuk menggunakan karya-karyanya dalam pekerjaan mereka.

Dokter anak Benjamin Spock, psikolog Timothy Leary, dan psikiater Donald Winnicott semuanya berkorespondensi dengan Schulz.

Hak atas foto
Schulz Family Intellectual Property Trust/Courtesy

Membalik peran gender

Satu kata: Lucy. Tak pernah ada sosok seperti dia di strip komik. Karakter ini adalah perwujudan dari niat yang kuat, digabungkan dengan kurangnya pemahaman akan dirinya sendiri, dan ini biasanya merupakan teritori maskulin.

Terlepas dari dia salah atau benar, dia melakukannya sepenuh hati dan tanpa maaf. Dia dan Charlie Brown adalah karakter yang berlawanan, dua nilai yang jika digabung menjadi satu manusia yang utuh.

Hak atas foto
Schulz Family Intellectual Property Trust/Courtesy

Sejak awal, Schulz tak biasa dalam membuat karakter perempuannya sama kompleks dan utuhnya seperti karakter prianya. Meski Charlie Brown mengejar Gadis Kecil Berambut Merah dengan gayanya yang penuh keraguan dan pemalu, Lucy mengejar objek perasaannya, Schroeder, tanpa lelah, kadang membungkus dirinya di dekat piano untuk mendapat perhatiannya.

Hak atas foto
Peanuts Worldwide

Image caption

“Kami, perempuan, tak akan diam lagi Chuck!”

Dan seperti biasanya, selalu ada yang kaya di Peanuts. Peppermint Patty tak pernah nyaman dengan gambaran klisé perempuan. Pendekatannya yang maskuline dan tanpa basa-basi, dan fakta bahwa dia punya teman/pengikut, Marcie, yang memanggilnya ‘Sir’, mengesankan bahwa identitas gender dan seksualnya mungkin tak seperti yang ada di permukaan.

Persahabatan adalah segalanya

Namun hubungan favorit saya di strip komik ini adalah soal persahabatan yang unik tapi hangat dan jujur antara Snoopy dan burung kuning Woodstock.

Meski mereka berasal dari spesies yang berbeda, mereka bisa memahami dan berempati satu sama lain.

Ada beberapa upaya untuk menjelaskan kedekatan mereka dan membayangkan Woodstock sebagai perempuan, tapi saya rasa ini adalah upaya yang salah dan tak adil dalam memahami kompleksitas Schulz.

Hak atas foto
Schulz Family Intellectual Property Trust/Courtesy

Dia selalu menjelaskan bahwa keduanya adalah laki-laki, dan sahabat dalam makna yang transenden dan tidak pasti. Kedekatan mereka selaras dengan pemikirannya — dan filosofi di balik setrip komiknya — bahwa berbagai bentuk persahabatan tak perlu sebuah penjelasan.


Anda bisa membaca versi asli tulsian ini dalam bahasa Inggris di Good Grief!: The beguiling philosophy of Peanuts di laman BBC Culture



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.