Bagaimana orang-orang Finlandia dapat bertahan hidup tanpa basa basi


Helsinki

Hak atas foto
HEIKKI SAUKKOMAA/AFP

Image caption

Orang-orang Finlandia berpikir jika tidak ada topik penting untuk didiskusikan, maka tidak ada percakapan sama sekali.

Keinginanmereka menghindar merupakan kecenderungan umum sehingga hal itu sudah amat mengakar pada kebudayaan Finlandia.

Saya bertemu sahabat saya, Hanna, sekian tahun silam selama kunjungan pertama saya ke Helsinki, dalam acara minum kopi lantaran putus asa.

Tanpa seorang pun kenalan di kota itu, saya hanya menginginkan seorang teman duduk di tempat umum, dan dia cocok, mengingat hubungan kerja kami yang tidak terlalu akrab

Acara minum kopi kami segera saja berganti menjadi makan malam, diakhiri empat jam kemudian dengan percakapan mendalam tentang politik, agama, seks dan kehidupan, jenis pembicaraan yang biasanya membutuhkan pertemanan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun.

Satu tahun kemudian, saya terbang kembali sebagai pendamping pengantin perempuan pada hari pernikahannya, dan saya masih terkejut mengingat betapa cepatnya kami menjalin hubungan.

“Laura,” katanya blak-blakan ketika saya bertanya kenapa kami bisa akrab begitu cepat, “Orang Finlandia tidak percaya omong kosong.”

Namun, yang tidak dia ceritakan kepada saya adalah orang-orang Finlandia berpikir bahwa jika tidak ada topik penting untuk didiskusikan, maka tidak ada pembicaraan sama sekali. Faktanya, salah satu peribahasa nasional mereka adalah ‘Diam itu emas, berbicara itu perak’.

Finlandia

Hak atas foto
OLIVIER MORIN/AFP

Image caption

Salah satu peribahasa nasional Finlandia adalah ‘Diam itu emas, berbicara itu perak’

Berbasa basi di luar situasi sosial antar teman-teman dekat jelas-jelas tidak ada. Interaksi dengan barista? Terbatas pada jenis kopi yang ingin Anda pesan.

Duduk, jalan atau berdiri dengan cara membuat mereka harus memperhatikan kehadiran orang asing? Tidak pernah.

(Sebuah meme yang menggambarkan orang yang berdiri di luar shelter bus dan bukan di bawahnya adalah bahan bercandaan yang sering dilontarkan di Finlandia untuk mengilustrasikannya).

Jika Anda seorang asing, selamat – Anda mungkin satu-satunya orang yang bersuara keras dalam transportasi umum yang sering kali (tanpa disadari) hening.

Dengan dua juta sauna di negara, yang dinikmati dengan telanjang bulat (umumnya dipisahkan berdasarkan gender, meskipun aturan itu cenderung diacuhkan karena kelompok pertemanan), orang-orang Finlandia tampaknya tidak punya masalah dengan berramah tamah. Tetapi ketika sudah berpakaian, tidak ada lagi kelanjutannya.

Helsinki

Hak atas foto
RONI REKOMAA/AFP

Image caption

Orang-orang Finlandia seringkali menghindari percakapan basa-basi yang melekat pada budaya-budaya lain.

Orang-orang Finlandia acapkali menghindari percakapan basa-basi yang melekat pada budaya-budaya lain, dan biasanya tidak menganggap hal itu penting untuk menyenangkan kolega-kolega asing, para turis, dan teman-teman biasa.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Tiina Latvala, mantan guru bahasa Inggris di Sodankylä, Lapland, bagian dari pekerjaannya adalah untuk memperkenalkan konsep basa basi kepada murid-muridnya.

“Kami mengadakan latihan di mana Anda harus berpura-pura bertemu dengan seseorang untuk yang pertama kalinya,” kata Latvala.

“Anda harus berpura-pura bertemu di cafe atau di atas bus dan Anda tidak saling mengenal dan mulai berbasa basi.

“Kami telah menuliskan semua topik aman di papan tulis sehingga mereka tidak harus berusaha keras mencari bahan untuk dibicarakan. Kami melakukan olah otak. Biasanya mereka menganggap hal tersebut sulit dilakukan,” paparnya.

Finlandia

Hak atas foto
Andreas Rentz/Getty Images

Image caption

Ketika orang-orang Finlandia memilih tidak terlibat dalam percakapan biasa, pastinya dilakukan dengan penuh hormat.

Alina Jefremoff, seorang mahasiswa Finlandia berusia 18 tahun di Helsinki, teringat latihan yang diatur sedemikian rupa ini dengan perasaan tidak pasti.

Berkat televisi dan film-film (yang kebanyakan disiarkan dalam bahasa Inggris) dia sudah mengenal gaya komunikasi orang-orang non-Finlandia. Meski demikian, dia harus menyelesaikan serangkaian tugas pekerjaan rumah yang saling berhubungan.

“[Tugas-tugas itu] tentang percakapan dasar,” jelasnya. “Jawaban-jawabannya sudah tersedia. Kami diajarkan untuk menjawab ‘Saya baik-baik saja, bagaimana dengan Anda?’, ‘Bagaimana kabar ibumu?’.

“Hal itu sudah sangat jelas bagaimana berada dalam sebuah percakapan, seolah-olah kami belum tahu. Benar-benar aneh… seperti ada jawaban-jawaban yang benar untuk pertanyaan-pertanyaan.”

Ketika diminta sebuah contoh bagaimana dia mengharapkan masyarakat Finlandia menjadi lebih terbuka, Jefremoff memberikan contoh tentang melakukan sesuatu yang aneh, seperti menjatuhkan bukunya di kereta bawah tanah, dan kemudian menertawai diri sendiri.

Katanya dia berharap orang-orang asing akan bergabung dengannya setelah menyadari kelucuan situasinya dengan tertawa atau berkomentar.

Memulai kontak sosial dengan orang-orang yang tidak Anda kenal? Bukanlah sesuatu yang diajarkan kepada Anda.

Helsinki

Hak atas foto
EMMI KORHONEN/AFP

Image caption

Di antara rekan-rekan Finlandia, diam berfungsi sebagai perpanjangan dari suatu percakapan yang menyenangkan.

Ada lebih banyak hipotesis ketimbang jawaban mengapa budaya Finlandia memiliki selubung diam yang dijahit secara permanen di tempat.

Latvala percaya keterusterangan yang sudah menjadi penanda khusus mereka berhubungan dengan kompleksitas bahasa Finlandia dan jarak antar kota yang cukup besar (Latvala berdalih: Jika Anda menempuh jarak berapapun jauhnya untuk menemui seseorang, kenapa membuang-buang waktu?).

Namun, Prof Laura Kolbe, yang mengajar Sejarah Eropa di Universitas Helsinki melihat topik itu melalui kacamata yang komparatif.

Orang-orang Finlandia, katanya, tidak menganggap sikap diam mereka atau kurangnya basa basi sebagai hal yang negatif.

Sebaliknya, setiap budaya menilai budaya lain dengan menggunakan norma sosial mereka, oleh karenanya stereotip yang tersebar luas orang Finlandia yang pendiam di antara banyak bangsa-bangsa yang lebih emosional.

“Gagasan tentang diam terutama telah sangat lazim ketika bangsa Finlandia dilihat dari sudut pandang tetangga dekat,” jelasnya.

Helsinki

Hak atas foto
Treflyn Lloyd-Roberts/Getty Images

Image caption

Salah-satu sudut ikonik Ibu Kota Finlandia, Helsinki, dengan katedral Lutherannya.

“Misalnya, ketika masyarakat berbahasa Swedia dan Jerman datang ke Finlandia di masa lalu, mereka memandang bangsa Finlandia sebagai penduduk yang pendiam, bertanya-tanya kenapa orang-orang tidak berbicara bahasa Swedia atau Jerman, dan tetap pendiam di antara tamu-tamu mereka.

Hal ini bukan karena kurangnya keterampilan, karena Finlandia memiliki dua bahasa nasional – bahasa Finlandia dan Swedia – dan penduduk Finlandia mulai belajar bahasa Inggris ketika berusia enam atau tujuh tahun.

Tetapi karena dihadapkan dengan permintaan untuk mengekspresikan diri mereka dalam bahasa kedua (atau ketiga), kebanyakan lebih sering memilih untuk tidak mengatakan apa-apa, daripada menanggung risiko yang tidak sepenuhnya dipahami.

Namun demikian ketika berada di antara mereka sendiri, keheningan berfungsi sebagai perpanjangan dari percakapan yang nyaman.

Helsinki

Hak atas foto
Fishman/ullstein bild via Getty Images

Image caption

Tetapi keinginan mereka untuk menghindar merupakan kecenderungan yang amat umum sehingga sudah mendarah daging dalam budaya Finlandia.

Ini adalah gagasan yang didukung oleh Dr Anna Vatanen, seorang peneliti di Universitas Oulu, yang penelitian berikutnya ‘Lapses in interaction and the stereotype of the Silent Finn’ menunjukkan bahwa setidaknya di antara mereka sendiri, bangsa Finlandia berkomunikasi melalui keheningan yang nyaman – terutama di antara orang-orang yang saling mengenal.

Ketika orang luar datang menilai bangsa Finlandia yang secara umum jujur, dia memperingatkan bahwa beberapa nuansa tidak dapat diterjemahkan secara tepat.

“Hal ini bukan tentang masalah struktur atau fitur bahasa, tetapi lebih dari cara orang menggunakan bahasa untuk melakukan sesuatu,” jelasnya melalui email.

“Misalnya, pertanyaan ‘Apa kabar?’ yang paling sering ditempatkan di awal sebuah pertemuan. Di dalam negara-negara berbahasa Inggris, sebagian besar digunakan hanya sebagai sapaan dan tidak ada jawaban serius yang diharapkan darinya.

“Sebaliknya, mitra bangsa Finlandia (Mitä kuuluu?) dapat mengharapkan jawaban yang ‘nyata’ setelahnya: cukup sering orang yang menjawab pertanyaan mulai menceritakan bagaimana kehidupan mereka sebenarnya saat ini, apa yang baru, apa yang telah mereka lakukan.”

Helsinki

Hak atas foto
OLIVIER MORIN/AFP

Tetapi ketika bangsa Finlandia memilih untuk tidak terlibat dalam percakapan biasa, kata Karoliina Korhonen, penulis Finnish Nightmares, sebuah buku dan serial komik daring di mana masyarakat Finlandia kebanyakan menghadapi teror kehidupan yang paling ringan.

Mengapa mengambil risiko membuat orang lain merasa tidak nyaman?

“Saya cenderung berpendapat orang-orang Finlandia menghargai ruang personal,” jelasnya.

“Jika Anda tidak mengenal orang lain, Anda tidak ingin mengganggu mereka. Mereka mungkin sedang menikmati waktu mereka sendiri atau mereka tidak ingin seorang asing datang dan mengganggu mereka.

“Jika Anda melihat mereka terbuka dan Anda berdua terbuka, Anda dapat memiliki sesuatu. Tetapi seringnya orang-orang bersikap sopan dan menjaga jarak,” kata Korhonen.

Tetapi keinginan mereka untuk menghindar merupakan kecenderungan yang amat umum sehingga sudah mendarah daging dalam budaya Finlandia.

Pembalap Formula Satu, Kimi Räikkönen, telah membangun citra ikoniknya seputar sikap pendiamnya. Para pelawak menggunakan sikap orang Finlandia yang tidak berbasa basi sebagai bagian dari rutinitas mereka.

Bahkan sampai ke tingkat internasional: berkat lonjakan yang tidak terduga pada karya Korhonen di Cina, para remaja di sana yang tidak menikmati interaksi sosial menggambarkan diri mereka sebagai “bangsa Finlandia spiritual’

Helsinki

Hak atas foto
OLIVIER MORIN/AFP

Namun dalam beberapa kasus, masyarakat Finlandia tampaknya lebih condong ke arah kehidupan yang lebih sedikit terbuka.

Meski demikian, hal itu terjadi secara perlahan. Bagi Jussi Salonen, seorang COO dari perusahaan cokelat Finlandia, Goodio, menetap di Los Angeles selama dua tahun membuatnya berharap dapat mengimpor semangat keterbukaan bangsa Amerika Serikat ke negaranya.

“Ketika saya kembali ke Finlandia, saya hampir tersinggung ketika saya membeli secangkir kopi dari sebuah kedai kopi dan mereka tidak mengatakan apapun,” kenangnya.

“Sekalipun hanya “apa yang Anda inginkan?’. Bagaimana Anda dapat mengatakannya? Apakah Anda tidak akan menanyakan apa-apa lagi sebelumnya?

“Oh ya. Ini negara saya sendiri. Ini adalah apa yang memang berlaku di sini. Sungguh lucu menyadari bagaimana keadaan menjadi sedikit membingungkan ketika saya tinggal di sini…. Saya kira sedikit percakapan atau basa basi tidak akan menyakitkan.”

Adalah merupakan gagasan yang sangat menjanjikan bahwa bangsa Finlandia dapat bertemu dengan sebagian warga dunia dan saling menghormati privasi masing-masing.

Tetapi untuk sekarang, Finlandia tetap menjadi salah satu sosial dikotomi yang paling menarik.

Tentu saja, Anda mungkin tidak berbicara dengan orang-orang di jalanan. Tetapi jika Anda beruntung, kadang-kadang orang asing akan langsung menjadi teman dan memberi tahu segalanya kepada Anda.

Artikel ini dapat Anda baca dalam versi bahasa Inggris pada BBC Travel dengan judul How the Finnish survive without small talk.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.