AS siap jatuhkan “sanksi terberat” terhadap Iran


Iran protes AS

Hak atas foto
Majid Saeedi/Getty Iamges

Image caption

Anak-anak muda di Teheren ikut menunjukkan sikap mereka terhadap sanksi AS terhadap negara mereka.

Amerika Serikat akan resmi menjatuhkan sanksi “terberat” terhadap Iran, Senin (05/11), di tengah unjuk rasa masyarakat Iran yang mengecam tindakan AS.

“Sanksi terhadap Iran sangatlah kuat. Ini adalah sanksi terkuat yang pernah kami terapkan. Dan kita akan melihat apa yang terjadi dengan Iran,” kata Presiden AS Donald Trump.

Sanksi ekonomi AS terhadap Iran ini diawali oleh keputusan Presiden Donald Trump pada awal tahun ini yang menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran.

Para pengamat mengatakan sanksi terbaru AS ini akan memukul Iran, utamanya terkait ekspor minyak, perbankan, hingga pengiriman barang.

Keputusan AS ini menimbulkan reaksi warga Iran yang pada Minggu (04/11) menggelar unjuk rasa di beberapa kota. Mereka meneriakkan yel-yel “Death to America.”

Mereka mengecam sanksi ekonomi AS yang rencananya akan mulai diterapkan pada Senin (05/11).

Hak atas foto
Majid Saeedi/Getty Images

Image caption

Keputusan AS ini menimbulkan reaksi warga Iran yang pada Minggu (04/11) menggelar unjuk rasa di beberapa kota. Mereka meneriakkan yel-yel “Death to America.”

Para pengunjuk rasa, yang dimotori kelompok garis keras, menolak upaya perundingan dengan Washington.

Sebagai reaksi lebih lanjut terhadap sanksi itu, militer Iran dilaporkan akan menggelar latihan pertahanan udara pada Senin (05/11) dan Selasa (06/11) untuk membuktikan kemampuan pertahanan mereka.

Unjuk rasa anti-AS berlangsung bertepatan dengan ulang tahun ke-39 pendudukan kedutaan Amerika Serikat di Teheran, yang menyebabkan permusuhan antara kedua negara selama empat dekade.

Mengapa AS memberikan sanksi kepada Iran?

Washington kembali memberlakukan sanksi kepada Iran setelah Presiden Trump pada Mei lalu menarik dari kesepakatan 2015 yang ditujukan untuk membatasi ambisi nuklir Iran.

Washington juga mengatakan ingin menghentikan apa yang disebutnya sebagai beragam kegiatan “jahat” Teheran, termasuk serangan dunia maya, uji coba rudal balistik, dan dukungan terhadap kelompok teroris dan milisi di Timur Tengah.

Hak atas foto
ATTA KENARE/AFP

“Kami bekerja optimal untuk memastikan bahwa kami mendukung rakyat Iran dan bahwa kami mengarahkan kegiatan kami untuk memastikan bahwa perilaku buruk Republik Islam Iran dapat berubah,” kata Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, kepada Fox News Sunday.

“Itulah tujuannya, itulah misinya, dan itulah yang akan kami raih atas nama presiden,” paparnya.

Apa dampaknya?

AS telah secara bertahap memberlakukan sanksi terhadap Iran, tetapi para analis mengatakan putaran terakhir ini merupakan yang paling signifikan.

Lebih dari 700 individu, entitas, kapal dan pesawat akan dimasukkan dalam daftar sanksi, termasuk bank-bank besar, perusahaan eksportir minyak dan pelayaran.

Menlu AS Pompeo mengatakan bahwa lebih dari 100 perusahaan internasional berskala besar telah ditarik dari Iran karena dampak sanksi tersebut.

Hak atas foto
Huw Evans picture agency

Image caption

“Sanksi terhadap Iran sangatlah kuat. Ini adalah sanksi terkuat yang pernah kami terapkan. Dan kita akan melihat apa yang terjadi dengan Iran,” kata Presiden AS Donald Trump.

Dia juga mengatakan ekspor minyak Iran telah turun hampir satu juta barel per hari, sekaligus diperkirakan berdampak pada sumber utama pendanaan negara itu.

Bagaimana reaksi negara-negara Uni Eropa?

Inggris, Jerman dan Perancis – yang merupakan salah satu dari lima negara yang masih berkomitmen pada kesepakatan nuklir dengan Iran – keberatan dengan sanksi AS tersebut.

Mereka telah berjanji mendukung perusahaan-perusahaan Eropa yang melakukan “bisnis sah” dengan Iran dan telah menyiapkan mekanisme pembayaran alternatif – atau Special Purpose Vehicle (SPV) – yang akan membantu perdagangan perusahaan tanpa menghadapi hukuman AS.

Namun, para analis meragukan upaya ini secara material akan mengurangi dampak sanksi terhadap Iran.

Dan dalam beberapa hari terakhir, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan AS akan melakukan upaya “agresif” untuk menargetkan setiap perusahaan atau organisasi yang berupaya “menghindari sanksi kami”.

Siapa yang dikecualikan?

Pemerintahan Trump telah memberikan pengecualian kepada delapan negara untuk terus mengimpor minyak Iran, tanpa menyebut jati diri mereka.

Mereka dilaporkan termasuk sekutu AS seperti Italia, India, Jepang dan Korea Selatan, serta Turki, Cina dan India.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Menlu AS Pompeo mengatakan bahwa lebih dari 100 perusahaan internasional berskala besar telah ditarik dari Iran karena dampak sanksi tersebut.

Pompeo mengatakan negara-negara tersebut telah melakukan “pengurangan signifikan dalam ekspor minyak mentah mereka” tetapi membutuhkan “sedikit lebih banyak waktu”.

Dia mengatakan dua dari negara-negara itu pada akhirnya akan menghentikan impor dan enam lainnya akan mengurangi impornya dari Iran.

Apa reaksi yang terjadi di Iran?

Sanksi AS terhadap Iran bertepatan waktunya dengan pengepungan kedutaan AS pada 4 November 1979, yang terjadi tidak lama setelah jatuhnya rezim Shah yang didukung AS.

Sekitar 52 orang warga AS disandera di kedutaan selama 444 hari dan sejak itulah kedua negara menjadi bermusuhan.

Kelompok garis keras menggelar protes untuk memperingati pengepungan tersebut setiap tahun, tetapi pada hari Minggu, para pemrotes juga melampiaskan kemarahan mereka terhadap sanksi AS.

Media pemerintah Iran melaporkan jutaan orang di berbagai kota turun ke jalan, dan bersumpah setia kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, meskipun BBC tidak dapat memverifikasi secara independen angka ini.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengatakan AS tidak lagi bisa mendominasi Iran

Aksi unjuk rasa ini digelar tidak lama setelah pidato berapi-api Ayatollah Khamenei pada Sabtu, di mana dia memperingatkan AS agar tidak “membangun kembali dominasinya” yang pernah terjadi atas Iran sebelum 1979.

Namun, beberapa orang warga Iran melayangkan kekecewaannya – melalui media sosial Twitter – terhadap rezim yang berkuasa di Iran, dengan tagar #Sorry_US_Embassy_Siege yang bergulir hingga 19.000 cuitan di tweeter.

Ssalah-seorang pengguna tweeter menulis dalam bahasa Inggris: “Selama 40 tahun terakhir, rezim Islam Iran mencoba menghadirkan AS dan Israel sebagai musuh Iran. Tetapi orang-orang Iran tidak berpikir seperti mullah. Kami mencintai semua bangsa dan semua orang di dunia.”

Yang lain berkata: “Amerika bukan musuh kita, musuh kita telah menjadikan kita sebagai sandera di rumah kita sendiri [negara].”



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.