AS ‘belum ambil keputusan’ soal pembunuhan Khashoggi


Demonstran mengenakan topeng Pangeran Mohammad bin Salman

Hak atas foto
Getty Images/Yasin Akgul

Image caption

Demonstran mengenakan topeng Pangeran Mohammad bin Salman saat aksi protes di luar konsulat Saudi di Istanbul. Pemerintah Saudi mendapat banyak tekanan untuk segera mengungkap kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

Amerika Serikat, melalui Kementerian Luar Negeri, menyebut mereka belum mencapai kesimpulan final soal pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, kendati laporan CIA menyebutkan adanya keterlibatan putra mahkota Saudi, Pangeran Mohammad bin Salman.

“Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri AS, Minggu (18/11).

Sebelumnya, sebuah sumber mengatakan pada media AS bahwa mereka tidak percaya pembunuhan bisa dilakukan tanpa sepengetahuan ataupun persetujuan putra mahkota.

Di sisi lain, Arab Saudi membantah klaim tersebut dan mengatakan MBS tidak tahu mengenai rencana pembunuhan Khashoggi.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dia akan menerima laporan lengkap mengenai kasus tersebut pada Selasa (20/11) mendatang, yang memberikan garis besar mengenai pihak yang bertanggung jawab atas kematian jurnalis kondang Saudi itu.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Salat gaib untuk Jamal Khashoggi digelar secara serentak di beberapa kota di Arab Saudi dan Turki, termasuk di Jeddah, Mekkah, Madinah dan Istanbul.

Khashoggi, yang kritis terhadap pemerintahan Saudi, tewas setelah memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober, saat hendak mengurus dokumen pernikahan.

Arab Saudi menyebut Khashoggi tewas karena ‘operasi liar’.

Jaksa penuntut umum telah mendakwa 11 orang atas pembunuhan Khashoggi dan mengincar hukuman mati untuk lima orang diantaranya.

Kendati demikian, kecurigaan adanya keterlibatan dari level tertinggi pemerintahan terus mencuat dan Saudi mendapatkan banyak tekanan untuk segera menuntaskan kasus tersebut.

Apa dasar temuan CIA?

Koran Washington Post, media tempat Khashoggi bekerja, menyebut temuan CIA sebagian berdasarkan pada panggilan telepon dari kakak putra mahkota, Pangeran Khalid bin Salman, yang merupakan duta besar Arab Saudi untuk Amerika Serikat.

Pangeran Khalid diduga menghubungi Khashoggi atas perintah saudaranya dan meyakinkan Khashoggi bahwa aman baginya untuk pergi ke konsulat Saudi.

Namun, Pangeran Khalid, yang sekarang sudah berada di Saudi, mencuit di Twitter bahwa dia sudah tidak berkomunikasi dengan Khashoggi nyaris selama satu tahun.

Dia juga membantah ‘menganjurkan’ Khashoggi – yang tengah berada di London untuk mengikuti konferensi sebelum menghilang – untuk pergi ke Turki demi alasan apapun.

CIA juga memeriksa panggilan telepon kepada asisten senior Pangeran Mohammad bin Salman, dari tim yang melakukan pembunuhan.

Sumber dari media AS menekankan bahwa tidak ada satu pun bukti yang mengarah langsung pada putra mahkota, namun CIA yakin pelaksanaan operasi tersebut membutuhkan persetujuannya.

“Pemahaman yang bisa diterima adalah tidak mungkin hal ini terlaksana tanpa sepengetahuan ataupun persetujuan putra mahkota,” tulis The Washington Post, mengutip sumber tersebut.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Presiden Donald Trump mengatakan bahwa dia sudah mendapat laporan mengenai temuan CIA atas kasus pembunuhan Jamal Khashoggi.

Bagaimana tanggapan Gedung Putih?

“Laporan yang mengindikasikan pemerintahan Amerika Serikat telah mencapai kesimpulan final (soal pembunuhan Khashoggi) tidak akurat,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Heather Nauert.

Dia menambahkan, Kemenlu AS akan terus melanjutkan upaya mereka mencari “fakta relevan” dan membuat mereka yang terlibat pembunuhan itu bertanggung jawab.

Di sisi lain, Gedung Putih menyatakan Presiden Donald Trump telah berbicara pada Direktur CIA Gina Haspel dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengenai temuan CIA soal pembunuhan Khashoggi.

Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders tidak memberikan detail pembicaraan tersebut, namun menyebut Trump percaya pada CIA.

Meskipun demikian, dalam sebuah pernyataan, Trump menyebut Saudi sebagai “sekutu yang penting” dan AS harus “mempertimbangkan banyak hal”.

Media playback tidak ada di perangkat Anda

Apa yang akan terjadi pada MBS? simak analisis Frank Gardner.

Kasus yang memberatkan tanpa bukti jelas

Frank Gardner, Koresponden Keamanan, BBC News

Laporan hasil temuan CIA mengenai keterlibatan Mohammad bin Salman (MBS) dalam pembunuhan Khashoggi senada dengan temuan intelijen di negara-negara Barat lainnya, termasuk Inggris.

Panggilan telepon yang disadap – kendati dibantah Saudi – antara kakak MBS di Washington, Pangeran Khalid bin Salman, dan Khashoggi, yang berisi desakan agar Khashoggi mengunjungi konsulat Saudi di Istanbul, tampak seperti atas permintaan putra mahkota.

Sadapan telepon yang kedua, berasal dari tim pelaksana di lapangan saat hari pembunuhan Khashoggi pada lingkaran dalam di Riyadh. Lagi-lagi, sulit dipahami jika ini terjadi tanpa sepengetahuan putra mahkota.

Jika digabungkan dengan SIGINT atau data intelijen komunikasi, kasus yang melibatkan MBS ini memberatkan, namun tanpa bukti yang jelas.

Pejabat pemerintahan tidak percaya adanya metafora “smoking gun” atau bukti empiris yang secara eksplisit menunjukkan keterlibatan MBS terhadap pembunuhan tersebut. Namun, dalam dunia intelijen di seluruh dunia, tidak ada aksi yang dilakukan tanpa persetujuan dari level tertinggi.

Di negara dengan kontrol ketat seperti Arab Saudi, tidak ada istilah “operasi liar”. Di sisi lain, inkonsistensi yang ditunjukkan lewat pernyataan pemerintah Saudi semakin memperdalam kecurigaan ada sesuatu yang ditutup-tutupi.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.