Apa yang perlu dilakukan jika pesawat mengalami kondisi darurat?


Pesawat

Hak atas foto
GETTY IMAGES/Jerritt Clark

Image caption

Insiden US Airways Flight 1549, Januari 2009, dianggap salah satu insiden pesawat paling dramatis yang pernah terjadi. Tak ada korban tewas, meski mesin pesawat komersil ini mati tak lama setelah tinggal landas dari Bandara LaGuardia di New York.

Dalam sejumlah kajian, pesawat disebut sebagai moda transportasi paling aman.

Pilot senior Sadrach Nababan menyebut sebenarnya tak ada satu pihak pun yang dapat memastikan keselamatan penumpang dalam insiden transportasi, termasuk kecelakaan pesawat.

Meski begitu, Sadrach menyatakan moda transportasi udara memiliki prosedur keselamatan berlapis yang ketat dan berlaku umum di seluruh dunia.

“Penerbangan sipil sebisa mungkin terbang dan mendarat dengan aman. Hanya dalam keadaan luar biasa yang tak terduga saja insiden bisa terjadi,” ujar Sadrach kepada BBC News Indonesia, Selasa (30/10).

“Walau pesawat dalam keadaan abnormal, ada persiapan dan langkah tertentu agar semuanya bisa berjalan aman,” tuturnya.

Merujuk penelitian yang digelar majalah Time, potensi kematian penumpang pesawat paling rendah dibandingkan penumpang moda transportasi lain.

Kajian Time menyebut, peluang kematian penumpang di pesawat adalah satu berbanding 8.000.

Sementara itu, potensi kematian tertinggi ditanggung penumpang mobil, yakni 1:112. Di peringkat berikutnya secara berturut-turut adalah pejalan kaki (1:700) dan penumpang motor (1:900).

Adapun berdasarkan penelitian data penerbangan selama 35 tahun terakhir, Time menyebut penumpang yang duduk di satu pertiga bagian belakang pesawat memiliki potensi meninggal lebih rendah saat kecelakaan.

Tingkat kematian di deretan belakang pesawat sebesar 32%. Sementara di bagian tengah mencapai 39% dan sepertiga bangku depan tercatat 38%.

Hak atas foto
Getty Images/Hindustan Times

Image caption

Keluarga pilot Lion Air, Bhavye Suneja, berduka di New Delhi, India. Bhavye merupakan kapten dalam penerbangan Lion Air JT610 yang jatuh di perairan dekat Karawang, Jawa Barat.

Pertanyaannya, apa yang perlu penumpang lakukan jika pesawat mengalami kondisi darurat di udara?

“Sebagai penumpang, maksimal yang bisa dilakukan adalah tidak bertindak di luar prosedur,” kata Sadrach yang selama lebih dari 30 tahun berprofesi sebagai pilot, termasuk di maskapai Garuda Indonesia.

Sadrach berkata, penumpang harus mengingat panduan keselamatan yang dipaparkan awak kabin sebelum lepas landas.

Selain itu, penumpang juga harus selalu mengikuti petunjuk yang disampaikan awak kabin atau arahan pilot.

Selebihnya, kata Sadrach, peran pilot sangat penting untuk mengatasi kondisi darurat. “Jadi penumpang ikuti saja aturan penerbangan. Yang menerbangkan pesawat kan juga menjalankan regulasi,” tuturnya.

Hak atas foto
GETTY IMAGES/NurPhoto

Image caption

Tim SAR masih terus mengupayakan pencarian penumpang dan bangkai pesawat Lion Air JT610.

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat menyebut hanya terdapat dua cara untuk menghindarkan penumpang dari kematian dalam pesawat.

Dua cara itu adalah mencegah kecelakaan dan melindungi penumpang saat kecelakaan terjadi.

Dalam kajian NTSB, setidaknya selama 1983-1999, 95% penumpang selamat saat pesawat mereka mengalami insiden, dari tergelincir saat pendaratan hingga korsleting listrik.

Dalam penelitian yang sama, 55% penumpang disebut selamat usai insiden pesawat yang serius.

Keselamatan penumpang dalam insiden itu bergantung pada beragam faktor, baik lokasi dan ketinggian pesawat saat kejadian hingga pemantik kebakaran.

Hak atas foto
GETTY IMAGES/Peter Kovalev

Image caption

Keluarga korban kecelakaan pesawat Airbus A321 milik maskapai Kogalymavia menggelar peringatan di St Petersburg. Rusia adalah salah satu negara dengan tingkat insiden pesawat tertinggi di dunia.

Bagaimanapun, keselamatan penerbangan dinilai terus meningkat. Konsultan penerbangan Belanda, To70 dan Aviation Safety Network bahkan menyatakan 2017 adalah tahun teraman bagi industri pesawat komersial.

Secara umum, berdasarkan data Aviation Safety Network, sejak 1945 hingga Agustus 2018, telah terjadi 98 kecelakaan pesawat komersial di Indonesia. Dalam seluruh kejadian itu muncul 2.035 korban meninggal dunia.

Angka itu berada di bawah Amerika Serikat (830 kecelakaan dengan 10.736 korban jiwa), Rusia (520), Brasil (188), Kolombia (182), dan Kanada (179).

Namun menurut pakar statistik dari Massachusetts Institute of Technology, Arnold Barnett, tingkat kematian penumpang pesawat di Indonesia selama 2005 hingga 2015 adalah satu berbanding satu juta orang.

Seperti dilansir New York Times, potensi kematian penumpang pesawat di Indonesia itu 25 kali lipat dibandingkan Amerika Serikat.

Hak atas foto
Getty Images/Putu Sayoga

Image caption

Pesawat Lion Air tergelincir ke laut saat hendak mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, April 2013. Tak ada korban meninggal dunia dalam kecelakaan ini, tapi 22 penumpang luka-luka.

Jika industri penerbangan memiliki prosedur ketat yang berlaku umum di setiap negara, mengapa insiden fatal tetap dapat terjadi?

Selain persoalan teknis, Sadrach Nababan menyebut adanya potensi kesalahan manusia.

“Setiap pegawai di industri ini sudah menjalani pendidikan khusus dan berlisensi. Tinggal seperti apa pengambilan keputusan sehari-hari mereka,” ujarnya.

Sadrach juga menekankan pentingnya keputusan pilot mencegah dan menghadapi situasi darurat. Ia berkata, teknisi lapangan dan perusahaan tak boleh menganggap remeh pilot.

“Dalam line of defence keselamatan penerbangan, pilot adalah orang terakhir. Ini berkaitan dengan budaya perusahaan, apakah mereka menghormati keputusan pilot di lapangan.

“Kalau sistem dan prosedur bagus, seharusnya semua berjalan normal. Tapi terkadang aspek niaga kan bisa kalah dengan aspek keselamatan,” kata Sadrach.

Hak atas foto
POLDA PAPUA

Image caption

Jumaidi mengalami patah tulang di bagian tangan saat pesawat yang ditumpanginya jatuh di kawasan pegunungan Oksibil, Papua.

Pada sejumlah kecelakaan pesawat yang fatal, muncul beberapa korban selamat, meski nyaris sebagian besar penumpang meninggal dunia.

Agustus 2018, bocah berusia 12 tahun bernama Jumaidi selamat, meski luka-luka, saat pesawat perintis jatuh di pegunungan Oksibil, Papua. Delapan penumpang dan pilot ditemukan meninggal dunia, termasuk orang tua anak itu.

Pada insiden di Yugoslavia tahun 1972, pramugari bernama Vesna Vulovic selamat saat pesawatnya meledak di ketinggian 10.000 kaki atau sekitar tiga kilometer.

Ketika itu Vesna dilaporkan terjatuh ke kawasan hutan bersalju tebal. Ia ditemukan hidup walau tulang tengkoraknya retak, dua tulang belakangnya hancur, dan mengalami patah tulang di bagian pinggul, iga, dan di kedua kaki.

Hak atas foto
GETTY IMAGES/Nicolò Campo

Image caption

Pemain klub sepakbola Chapecoense, Jakson Follman, kehilangan kaki kanannya usai insiden pesawat LaMia Avro RJ85 tahun 2016.

Sementara pada November 2016, pesawat Avro RJ85 yang dioperasikan maskapai Bolivia, LaMia, jatuh di Kolombia.

Sebanyak 71 orang di pesawat itu meninggal dunia, termasuk sebagian besar pemain klub sepak bola Chapecoense yang hendak bertanding di ajang Copa Sudamericana.

Namun tujuh penumpang pesawat itu selamat, termasuk tiga di antaranya pemain klub asal Brasil: Alan Ruschel, Jakson Follman, dan Neto.

Hanya Alan dan Neto yang dapat melanjutkan karier sepak bola mereka, sedangkan Jakson harus pensiun dini setelah operasi amputasi kaki.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.