Apa yang membuat Federico Fellini dicap sebagai ‘sang maestro’ sinema Italia?


Federico Fellini

Hak atas foto
Getty Images

Pada saat kematiannya pada 1993, Federico Fellini telah memenangkan empat film berbahasa asing terbaik di penghargaan film paling prestisius, Oscar, menjadikannya sebagai sutradara dengan penghargaan terbanyak bersama dengan rekan senegaranya, Vittorio De Sica.

Tapi 25 tahun setelah dia meninggal, bayangan panjang dari warisannya mencapai jauh di luar penghargaan apapun (meskipun, jika Anda terus membaca, Anda akan melihat dia baru saja mendapatkan satu lagi di sini).

Lagi pula, bukan hanya visi sang maestro yang begitu penting dan menghipnotis sehingga membuat namanya sebagai kata sifat (‘Felliniesque’).

Film-filmnya juga menunjukkan generasi pembuat film ke depan – bagaimana bereksperimen dan mengambil risiko dengan menggabungkan gaya tutur pengakuan dengan citra-citra yang ganjil.

Misalnya, Martin Scorsese baru-baru ini mengakui bahwa ia menonton karya Fellini yang dibuat pada tahun 1963, 8 1/2 secara berulang setiap tahunnya.

“8 1/2 selalu menjadi batu ujian bagi saya, dalam banyak hal,” katanya.

“Kebebasan, inovasi, kekakuan yang mendasari dan inti mendalam dari kerinduan, komposisi dan gerakan kamera yang mengagumkan.”

Sedangkan untuk kita semua, orang-orang yang membayar untuk duduk di bioskop yang gelap dan menatap layar dengan harapan terpesona dan terbawa dengan filmnya.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa Fellini mengubah cara pandang para penonton film menjadi cara pandang yang benar-benar baru.

Dia membawa kita (dan masih terus membawa kita) ke tujuan di luar dunia berbahasa Inggris – tujuan yang tidak pernah kita bayangkan dalam khayalan terliar kita.

Dia menciptakan sinema dengan gaya pribadi yang secara misterius dan ajaib terasa universal, membuat planet kita tampak lebih kecil dan lebih intim.

Hak atas foto
Röhnert/ullstein bild via Getty Images

Image caption

Film 8 1/2 karya Felini ditonton berulang kali oleh sutradara kondang Martin Scorsese

Namun – selalu ada ‘Tapi’, bukan begitu? – Saya tidak senang mengatakan bahwa komunitas kritikus selalu memiliki hubungan yang lebih rumit dengan Fellini.

Dalam ulasannya tentang 8 1/2 yang mengisahkan otobiografi terselubung dari sang sutradara yang kehilangan ide kreatif, Pauline Kael meraih senapan penembak jitu dan menempatkan film itu di target bidik: “Kehidupan fantasi seseorang adalah bahan yang sangat bagus untuk sebuah film jika itu imajinatif dan mempesona dalam dirinya sendiri, atau jika itu menerangi kehidupan non-fantasinya dengan cara yang menarik,” tulisnya.

“Tapi 8 1/2 tidak; itu mengejutkan seperti mimpi dari pahlawan Hollywood, diramu dengan gagasan tentang kecemasan dan pemenuh dan keinginan ala Freud.” Aduh.

Kael sama sekali bukan kritikus kelas berat pertama dari film-film Fellini, yang mengesampingkan mereka sebagai kapal kosong yang simbolisme artistik dan surealisme yang mengerikan dalam film-film itu mengisyaratkan pada kedalaman yang tidak mereka jamin.

Ia juga tidak akan menjadi yang terakhir. Dalam antologi 2008, Have You Seen…?, David Thomson menulis, “Bukan itu 8 1/2 bisa atau harus berlangsung selamanya, hanya saja rasanya seperti itu.”

Tak hanya itu. Di tempat lain dalam buku ini, Thomson mengatakan dari Amarcord pada 1974, “Fellini dapat membuat keributan dalam tidurnya – tetapi apakah dia harus melakukannya?”

Terkait film Fellini yang dibuat tahun 1960-an, La Dolce Vita, dia berkomentar, “Tidak ada yang terjadi, kecuali untuk potongan set kembung, jangkauan epik dari simbolisme, dan metafora air mata yang lebih besar.”

Dan dalam karyanya pada tahun 1957, The Nights of Cabiria, yang menampilkan istri Fellini dan bintang pujaannya, Giulietta Masina, dalam salah satu pertunjukan yang paling memilukan yang pernah saya lihat, ia menulis, “Bagian jeleknya, menurut saya, saya masih menganggap dia seorang aktris yang menjemukan.”

Yah, setidaknya soal bagian “jelek”nya ada benarnya

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Felini memberikan cara pandang badu bagi semua peminat film

Saya berpendapat bahwa Kael dan Thomson tidak hanya salah, penilaian mereka adalah omong kosong.

Dengan pengecualian yang mungkin dari De Sica, yang karyanya, Umberto D masih membuat saya menangis, Fellini selalu menjadi pembuat film paling introspektif, paling artistik, dan ya, terdalam, di Italia (maaf penggemar sutradara Michelangelo Antonioni).

Tidak ada yang mencampur pahit dan manis dengan sentuhan yang lebih ringan. Dan ternyata saya bukan satu-satunya kritikus yang merasa seperti ini. Dalam daftar BBC Culture tentang 100 film berbahasa asing terbaik, Fellini akhirnya menempati posisi kedua di antara sutradara dengan film paling banyak dalam daftar.

Empat filmnya masuk dalam daftar itu, hanya lebih sedikit dari dua sutradara Ingmar Bergman dan Luis Bunuel yang masing-masing memiliki lima filmnya masuk dalam daftar.

Dalam daftar itu, film-film Fellini antara lain berada pada posisi: 8 1/2 pada angka 7; La Dolce Vita di nomor 10; La Strada di nomor 83; dan The Nights of Cabiria di nomor 87.

Filmnya yang lain, Amarcord, yang diresapi nostalgia itu sayangnya berada di posisi 112.

Pemain sirkus dan pejalan kaki

Lahir pada tahun 1920, di kota tepi laut Rimini di pantai Adriatik (yang kemudian menjadi latar belakang dalam film-film seperti Amarcord dan Roma), Fellini memulai karir pembuatan filmnya sebagai penulis skenario di film Neo Realis karya Roberto Rossellini yang dibuat tahun 1945, Open City.

Satu setengah dekade kemudian, akan sulit membayangkan seseorang yang akan membelakangi realisme (Neo- atau sebaliknya) lebih mutlak daripada Fellini.

Film-filmnya yang diilhami Rossellini seperti I Vitelloni tahun 1953 dikesampingkan untuk picaresque yang lebih sentimental dari La Strada tahun 1954 dan The Nights of Cabiria tahun 1957, yang dipenuhi rasa kemanusiaan di antara pemain sirkus kelas bawah dan pejalan kaki.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Film neo-realisme Fellini terlihat dari karyanya yang dibuat tahun 1954, La Strada

Kemudian, tentu saja, datanglah La Dolce Vita – yang mengisahkan ocehan orang kaya Roma yang mati rasa secara spiritual, Via Veneto.

Film itu adalah masterklas dari kerinduan eksistensial dan hedonisme pasca perang, didorong oleh pesona moral seorang pahlawan Marcello (Marcello Mastroianni) dan beberapa gambar yang tak terhapuskan seperti patung Kristus yang diterbangkan di atas kota dan Anita Ekberg bermain-main seperti Venus berambut pirang yang seksi di air terjun Trevi.

Adegan terakhirnya, seorang gadis muda yang tak berdosa di pantai yang menawarkan rahasia yang tidak bisa dibayangkan oleh Marcello sangat mengena

La Dolce Vita akan melontarkan Fellini ke jajaran sutradara paling terkenal di dunia.

Mungkin tidak mengherankan, itu juga menyebabkan krisis spiritual dan artistik (bagaimana Anda menindaklanjuti keberhasilan terbesar dari karir Anda?) Yang menjadi umpan narasi untuk proyek berikutnya, 8 1/2.

Berbicara melalui alter egonya di layar, Mastroianni, Fellini mengubah 8 1/2 menjadi filmnya yang paling reflektif dan salah satu film terlucu.

Itu seperti entri buku harian hitam-putih, dibiarkan terbuka untuk dibaca oleh penggemarnya, penggalian aliran kesadaran dari masa lalu seorang seniman dengan harapan bahwa ia dapat menemukan kunci untuk membuka masa depan di suatu tempat di dalam teka-teki semuanya.

Ini akan memulai babak baru dalam karirnya di mana narasi adalah hal sekunder untuk tontonan. Dan tontonan apa itu! Saya bisa menyaksikan perjalanan naik karpet sihir lisergiknya melalui Nero’s Rome, Satyricon yang dibuat 1969, setahun sekali – dan saya lakukan.

Hak atas foto
Getty Images

Image caption

Film Satyricon yang dibuat tahun 1969 ibarat perjalanan dengan karpet terbaik ke Roma pada masa pemerintahan Nero

Saya tidak ingin menyarankan bahwa semua film Fellini dari akhir 1970-an layak mendapat status ‘klasik’ yang sama. Tidak seperti itu.

Tetapi bahkan judul-judul yang lebih rendah kemudian menawarkan rasa malu terhadap kekayaan seluloid jika Anda hanya mendengarkan lagu pengiring Nino Rota yang sangat lucu dan waspada terhadap rangkaian mata-mata Danilo Donati.

Namun, saya pikir Academy benar ketika, pada tahun 1993, memberikan Fellini sebuah Oscar kehormatan.

Berjalan di atas panggung untuk menerima penghargaanya, kurang dari satu tahun sebelum kematiannya, pria berusia 73 tahun itu secara tulus langsung mengatakan grazzie dan memberitahu istrinya, Giulietta, untuk berhenti menangis.

Dan apa lagi yang harus dikatakan di sana? Film-filmnya sudah mengatakan semuanya.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini dengan judul What makes Federico Fellini ‘the maestro’ of Italian cinema? di laman BBC Culture.



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.