Anni Albers dan perempuan-perempuan Bauhaus yang terlupakan


Seorang perempuan melihat furnitur karya desainer Josef Albers, bagian dari sekolah seni Bauhaus.

Hak atas foto
LEON NEAL/AFP/GettyImages

Image caption

Seorang perempuan melihat furnitur karya desainer Josef Albers, bagian dari sekolah seni Bauhaus.

Banyak perempuan desainer cemerlang yang menjadi bagian dari sekolah desain Jerman yang terkenal berpikiran maju ini. Tapi sebenarnya seberapa progresif gerakan tersebut?

Bauhaus, sekolah desain Jerman yang muncul pada periode antara dua perang dunia yang kemudian berpengaruh besar pada seni, arsitektur, desain produk dan tipografi, adalah kumpulan ide-ide yang kompleks dan saling berlawanan.

  • Sepuluh perupa perempuan yang wajib Anda kenal
  • Seniman yang ‘bangkit’ dari pemerkosaan dan penyiksaan yang dialaminya

Sekolah desain ini dimulai oleh arsitek Walter Gropius pada 1919 mengikuti prinsip Gesamtkunstwerk—yang menggabungkan seni, arsitektur dan desain—yang memperlakukan berbagai disiplin ilmu berbeda itu dengan cara yang non-hierarkis. Namun pada praktiknya, Bauhaus melihat arsitektur sebagai titik pencapaian terpenting dalam tersebut, walaupun jurusan arsitekturnya tidak dibuka sampai 1927.

Hak atas foto
T Lux Feininger/ Bauhaus Archiv Berlin/ Estate of

Image caption

Para perempuan di pelatihan menenun di tangga gedung Bauhaus di Dessau, 1927.

Bauhaus dipengaruhi oleh modernisme dan penolakan akan tradisi artistik.

Mereka berkomitmen pada masa depan yang demokratis secara sosial dan itu bisa muncul jika didukung oleh desain yang baik dan fungsional.

Semua ini membuat Bauhaus, secara estetis, dianggap berpikiran maju. Namun pada praktiknya, sekolah ini, yang pada 1933 dipaksa tutup akibat tekanan dari rezim Nazi, jauh dari kemajuan sosial.

Manifestonya yang terbit pada 1919 menyambut “semua orang tanpa melihat usia atau jenis kelamin” dan pada tahun itu, ada lebih banyak perempuan daripada laki-laki yang mendaftar ke sana.

Namun kemudian Gropius mengatakan bahwa sekolah itu tidak akan mendiskriminasi antara “jenis kelamin yang cantik dan yang kuat”. Dan meski Bauhaus memberikan akses atas pendidikan kesenian pada perempuan, di lokasi pertamanya di Weimar, hanya ada enam dari 45 guru yang perempuan.

“Terlepas dari semua retorikanya, Bauhaus tak pernah menjadi pusat kesetaraan seperti yang awalnya dikatakan Gropius,” kata Libby Sellers, kurator desain dan penulis dari buku Women Design (Frances Lincoln).

  • Hilma af Klint: seniman mistis yang penuh teka teki
  • Perempuan yang mendobrak dunia seni rupa yang dikuasai para lelaki

“Karena khawatir akan pengaruh perempuan pada reputasi profesional sekolah itu dengan industri, Gropius bukan hanya membatasi jumlah perempuan yang boleh masuk ke sekolah itu, tapi jumlah perempuan yang semakin sedikit itu kemudian diarahkan ke jurusan yang lebih feminin, seperti seni murni, keramik dan tenun.”

“Sejarawan dan kritikus pada era itu, yang berupaya untuk menegaskan hubungan kuat antara modernisme dengan arsitektur dan desain industri, kemudian melupakan disiplin ilmu lain,” katanya. “Konsekuensinya, banyak desainer yang bekerja di bidang tekstil, keramik, desain set dan desain interior sering dilupakan.”

Selain Sellers, akademisi Jerman Ulrike Müller juga mengungkap ketidaksetaraan antar-jenis kelamin yang jarang diakui itu lewat bukunya yang terbit pada 2009 berjudul Bauhaus Women: Art, Handicraft, Design (Flammarion).

  • Menyibak kehidupan tersembunyi Frida Kahlo: Kerapuhan fisik dan kekuatan batin yang menyatu
  • Para perempuan pelukis Impresionisme hebat yang terlupakan

Meski banyak pria-pria di gerakan Bauhaus — termasuk arsitek Ludwig Mies van der Rohe, yang memimpin sekolah itu dari 1930 ke 1933, seniman Paul Klee, pelukis dan fotografer László Moholy-Nagy, dan desainer furnitur Marcel Breuer — yang kini dianggap sebagai nama-nama besar dalam dunia desain, rekan perempuan mereka tak banyak diketahui.

Batas atas

Salah satu yang paling terkenal adalah Gunta Stölzl, kepala pelatihan bidang tenun dari 1926 sampai 1931.

Nama lain yang juga penting adalah Anni Albers, yang kemudian menjadi kepala bidang tenun pada 1931. Albers (nama keluarga aslinya Fleischmann), lahir di Berlin dan merupakan keturunan Yahudi, adalah sosok tipikal alumni sekolah itu; bagi seniman dan desainer yang mandiri dan ambisius ini, belajar di Bauhaus adalah aksi pemberontakan melawan keluarganya yang konvensional dan menekan.

Namun di Bauhaus, dia mendapati bahwa dia dibatasi dari bengkel kaca yang ingin dia ikuti. Meski dia awalnya enggan mengambil kelas tenun, namun kemudian dia justrumenjadi pionir desainer tekstil.

Hak atas foto
The Josef and Anni Albers Foundation/ Artists Righ

Image caption

Knot, 1947, adalah contoh karya paling inovatif Albers.

Sementara itu, Marianne Brandt yang androgini, adalah perempuan pertama yang dibolehkan masuk jurusan besi di Bauhaus, dan menjadi terkenal serta mencapai kesuksesan komersil lewat dua karya buatannya, lampu sisi tempat tidur Kandem pada 1920 dan set teko kopi yang terinspirasi Konstruksivis.

Pada 1933, Albers melarikan diri dari Nazi Jerman, dan pindah bersama suaminya, pelukis Josef Albers, ke AS.

  • Mengungkap sosok perempuan Borobudur
  • Sejarah unik di balik sosok ‘Madonna Hitam’

Di sana, arsitek Philip Johnson mengundang mereka untuk mengajar di sekolah seni avant-garde, Black Mountain College, di North Carolina, yang murid-muridnya termasuk para sosok besar seperti seniman Robert Rauschenberg dan arsitek Buckminster Fuller.

Pada 1949, Anni Albers mendapat pengakuan yang lebih besar sebagai desainer pertama yang melakukan pameran tunggal di New York’s Museum of Modern Art. Dia kemudian juga membuat tekstil untuk perusahaan-perusahaan seperti Knoll dan Rosenthal.

Hak atas foto
The Josef and Anni Albers Foundation/ Artists Righ

Image caption

Wallhanging, 1926, karya Anni Albers mewakili tipikal karyanya dengan gaya geometri dan presisi khas Bauhaus.

Albers, yang meninggal pada 1944, juga sangat mendorong tenun. Fakta ini muncul lewat buku-bukunya, On Weaving dan On Designing. Kini Tate Modern tenggah menggelar pameran besar karya-karyanya yang juga termasuk gambar serta karya cetak eksperimental.

Hak atas foto
The Josef and Anni Albers Foundation/Artists Right

Image caption

Karpet yang terbuat dari wol dan tenun tangan karya Albers, 1959, adalah salah satu yang dipamerkan di Tate Exhibition.

Terlepas dari semua kekurangan Bauhaus, ajarannya yang radikal dan modern adalah sesuatu yang menarik bagi Albers, yang sangat terinspirasi oleh Klee.

Klee terkenal karena caranya mendeskripsikan gambar sebagai “garis aktif yang sedang berjalan, bergerak bebas tanpa tujuan”. Albers juga punya pendekatan bebas yang sama dalam berpindah-pindah antara seni murni dan karya-karya yang fungsional serta monumental dan ambisius yang digunakan dalam konteks arsitektur.

Hak atas foto
The Josef and Anni Albers Foundation/ Artists Righ

Image caption

Karya cetak sablon di tekstil tenun, Eclat, 1974, memperlihatkan penggunaan warna yang berani dari Albers.

“Albers punya ketertarikan besar pada arsitektur dan hubungannya dengan tekstil,” kata kurator pameran ini, Ann Coxon.

Pada 1928, dia mulai mengerjakan tekstil besar yang kedap suara dan memantulkan cahaya menggunakan selofan dan kain chenille untuk auditorium Bundesschule des Allgemeinen Deutschen Gewerkschaftsbundes, atau sekolah serikat dagang ADGB, yang dirancang oleh arsitek Bauhaus Hannes Meyer.

Sebagian dari tekstil tersebut akan ikut dipamerkan. Bertahun-tahun kemudian, pada esainya tahun 1957, The Pliable Plane, Albers berargumen bahwa semua bentuk primitif dari arsitektur, seperti tenda dan yurt, menggunakan tekstil.

Pameran ini juga menyertakan contoh-contoh karya ‘tenun piktorial’ Albers yang dibuat dari 1930an sampai 1960an. Sebagian besar karya ini terinspirasi oleh perjalanannya dan suaminya ke Meksiko, Peru dan Chile. Tujuan karya tersebut, menurut Albers, adalah “untuk membiarkan benang….menemukan bentuknya sendiri tanpa mengikuti aturan, bukan untuk diduduki atau diinjak, tapi hanya untuk dilihat.”

Hak atas foto
The Josef and Anni Albers Foundation/ Artists Righ

Image caption

Tenunan yang dibuat Anni Albers sangat inovatif, meski awalnya ini bukan medium yang diinginkannya.

Pada 1971, pasangan ini mendirikan Yayasan Josef dan Anni Albers, yang telah lama bekerjasama dengan perusahaan karpet dan tekstil Inggris, Christopher Farr Cloth, yang melakukan interpretasi ulang akan tekstil-tekstil dari arsip Anni Albers.

Salah satu karya interpretasi itu, Orchestra, yang dikeluarkan lagi bertepatan dengan pameran, menunjukkan gaya khas Anni yang penuh kesenangan. Motifnya, yang terinspirasi oleh Berlin Opera yang sering dikunjunginya saat kecil, dibuat menggunakan potongan strip yang dicat ke kain mengikuti bentuk lozenge yang ditata ulang dan membentuk pola acak.

Hak atas foto
Christopher Farr

Image caption

Hasil karya Gunta Stölzl direproduksi pada karpet yang dibuat oleh Christopher Farr Cloth.

“Perempuan-perempuan muda cemerlang tertarik oleh sekolah Bauhaus yang dipimpin Gropius dengan mimpi untuk menjadi arsitek, tapi kemudian mereka diberi tahu, dibohongi, bahwa tenun adalah satu-satunya jurusan yang cocok buat perempuan,” kata Farr. Perusahaannya juga mereproduksi karpet karya Gunta Stölzl sejak 1997.

“Namun kerugian bagi arsitektur adalah keuntungan bagi dunia tekstil, dan ini merupakan berkah luar biasa bagi tekstil abad 20 dan menempatkan nama Anni Albers di antara modernis besar lainnya.”


Versi asli tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di Anni Albers and the forgotten women of the Bauhaus di laman BBC Culture



Source link

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.